Buka konten ini

Di perbatasan Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, tersimpan sebuah lanskap bentang alam yang begitu memikat. Tersembunyi satu bukit dengan hamparan sabana seluas mata memandang.
TIDAK banyak yang tahu, bukit yang tersembunyi ini, masih jarang tersentuh. Seolah menjadi surga tersembunyi, bagi siapa saja yang ingin melarikan diri sejenak dari hingar bingar perkembangan dan kesibukan kota.
Keunikan lain dari bukit ini terletak pada kesederhanaan dan alami. Tidak ada kafe modern dan tidak ada keramaian. Yang ada hanyalah kesunyian, panorama alam, udara segar, dan hamparan sabana (padang rumput) yang menenangkan mata.
Justru dari kesunyian ini yang membuat bukit ini spesial dan istimewa. Dapat memberi ruang bagi siapa pun yang ingin melarikan diri sejenak dari kesibukan dan rutinitas sehari-hari.
Dari kejauhan saja, pemandangan savana di bukit ini seperti lukisan yang bergerak. Sabana hijau keemasan terhampar, berpadu dengan langit biru yang membentang menye-limuti Tanjungpinang dan Bintan.
Saat fajar menyingsing, dari atas bukit ini, tampak embun tipis menyelimuti kawasan di sekitar bukit ini. Saat itu pula, di bukit ini, tampak matahari terbit dari balik cakrawala dengan memunculkan cahaya jingga berpadu cahaya biru.
Nuansa fajar di bukit ini, juga akan ditemani oleh suara burung-burung liar yang berkicau, menyambut mentari pagi yang perlahan muncul dari ujung cakrawala. Berada di bukit tersembunyi ini pada pagi hari, siapa pun dapat menikmati udara khas yang segar.
Terasa lebih sejuk dan bersih. Sebuah pengalaman yang jarang ditemui di tengah rutinitas kesibukan perkotaan.
Namun momen yang paling memikat justru hadir ketika mentari mulai turun perlahan ke ufuk barat. Senja di atas bukit dengan sabana luas ini, menghadirkan nuansa dramatis nan romantis.
Langit yang semula biru berubah menjadi langit jingga keemasan, perlahan menghilang di balik cakrawala. Dari atas hamparan padang rumput yang luas ini, matahari tampak seolah tenggelam ke dalam pelukan bumi. Senja yang hangat dan menenangkan pikiran dan jiwa.
Siapa saja yang berkunjung ke bukit tersembunyi ini, seakan enggan pergi dan betah duduk berlama-lama di atas rumput. Membiarkan waktu berjalan perlahan dan menikmati keindahan alam yang jarang tersentuh.
Penjelajah lokal dan penggiat alam Pulau Bintan, Firda, mengungkap dari atas ketinggian bukit yang dihiasi sabana ini, tampak panorama alam yang jarang terlihat seperti keindahan lanskap Kota Tanjungpinang, Gunung Bintan, Gunung Kijang, Gunung Lengkuas dan lanskap Kijang Kota.
“Kami pertama kali ke bukit itu tahun 2015. Berada di situ, rasanya tenang, indah dan damai. Tak hentinya mengucap rasa syukur atas keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa ini,” kata Firda saat berbincang bersama Batam Pos di Tanjungpinang, Rabu (20/8).
Firda menjelaskan, bukit tanpa nama itu, terletak di kawasan Jalan Indonesia Timur, Kota Tanjungpinang. Tepatnya, berlokasi di perbatasan antara Kecamatan Tanjungpinang Timur dan Kabupaten Bintan.
”Sebenarnya bukit dengan sabana luas itu tanpa nama. Tapi kami sebagai penggiat alam, menyebut bukit yang berada di perbatasan itu sebagai Bukit Alif,” sebutnya.
Penamaan bukit rahasia itu sebagai Bukit Alif, bukan tanpa alasan. Menurut Firda, di atas bukit tersebut, selain sabana, terdapat sebuah batu alam unik bertinggi satu meter lebih. Batu alam itu berbentuk huruf Arab yaitu huruf Alif.
”Di tengah hamparan sabana, ada satu batu alam yang unik berbentuk huruf Alif. agak jauh dari batu Alif itu ada juga beberapa batu alam berukuran besar dan tinggi,” ungkapnya.
Bukit Alif yang dikelilingi perkebunan dan bukit-bukit lainnya itu, memang tersembunyi dan tidak banyak diketahui. Namun, kata Firda, Bukit Alif mudah dijangkau karena berada di tepi Jalan Indonesia Timur.
Menurut penjelajahannya, keindahan alami Bukit Alif, masih terjaga sebab belum banyak terjamah oleh pengunjung. Hanya segelintir warga setempat, penjelajah lokal dan penggiat alam yang menjadikan tempat ini, sebagai tujuan petualangan singkat.
Jalan menuju puncak Bukit Alif, memang belum sepenuhnya terkelola dan masih harus melalui jalan setapak. Meskipun demikian itulah yang membuat Bukit Alif tetap alami dan menawan.
”Tinggi bukit ini 70 meter di atas permukaan laut. Kalau treking ringan dari kaki bukit sekitar 10 hingga 15 menit sampai ke puncak bukit. Bisa juga pakai kendaraan roda dua,” jelas Firda.
Bukit ini, lanjut Firda, bukan sekadar spot rahasia dan tersembunyi untuk menikmati panorama alam, melainkan juga ruang untuk bersyukur dan melepas penat dari kesibukan sehari-hari. ”Kalau ke Bukit Alif, datangnya pagi, biar bisa liat sunrise, embun pagi, burung-burung liar yang bermigrasi. Kalau sore sangat cocok untuk melihat sunset dan menikmati senja. Bisa juga mendirikan tenda,” ajak Firda.
Selain menjadi magnet bagi penikmat senja dan fajar, sabana di perbatasan Tanjungpinang dan Bintan ini juga menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata alam. Pemandangannya yang unik dapat menjadi daya tarik baru, melengkapi kekayaan panorama pesisir dan laut yang selama ini menjadi andalan di Tanjungpinang dan Bintan.
”Siapa saja boleh ke sini (Bukit Alif) untuk menikmati keindahan alam. Tapi jangan lupa, jaga kebersihan. Jangan buang sampah sembarangan. Kalau ada sampah bawa turun,” imbau Firda.
Penggiat alam Pulau Bintan ini menambahkan, Bukit Alif menjadi pengingat bahwa Tanjungpinang dan Bintan, bukan hanya tentang laut dan pantai, tetapi juga tentang bentang alam yang menyimpan pesona yang tidak kalah memikat.
”Sebagai pengiat alam, kami berharap Bukit Alif bisa menjadi situs cagar alam di Tanjungpinang. Karena di bukit itu terdapat batu-batu alam di bukit ini. Biar batu-batu unik itu tetap terjaga, lestari dan tetap alami,” harap Firda. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG