Buka konten ini

Puncak tertinggi di Pulau Bintan, dalam diamnya, menjadi saksi bahwa Sang Saka Merah Putih tidak hanya berkibar di tiang-tiang perkotaan, tetapi juga di puncak gunung dan di hati siapa pun yang mencintai tanah air sepenuh jiwa.
ADA banyak cara mengenang jasa para pahlawan sekaligus memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Salah satunya dengan mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi Pulau Bintan.
Cara inilah yang dilakukan komunitas penggiat alam dan mahasiswa pencinta alam di Pulau Bintan. Mereka mendaki Gunung Bintan untuk mengibarkan bendera yang melambangkan keberanian dan kesucian tersebut.
Selain upacara pengibaran bendera di puncak Gunung Bintan, para penggiat alam juga mendirikan tenda, bermalam, serta menggelar operasi bersih-bersih sampah di sekitar puncak. Sebelum mendaki, berbagai komunitas penggiat alam di Pulau Bintan menggelar doa bersama di kaki gunung, lalu berangkat menuju puncak secara bersama-sama.
Vegetasi hijau di lereng Gunung Bintan menemani puluhan anggota komunitas saat menapaki jalur setapak, Sab-tu (16/8). Dengan ransel di punggung dan semangat kemerdekaan di dada, para pendaki memulai perjalanan sejak sore. Jalur setapak yang sedikit licin akibat sisa kabut tipis menjadi tantangan tersendiri.
Sesekali mereka berhenti menarik napas, sambil menikmati suara khas alam dan kicau burung yang memecah kesunyian lereng Gunung Bintan. Setelah menempuh perjalanan hampir satu setengah jam, rombongan tiba di puncak. Langit sore merekah, memunculkan cahaya jingga yang menembus pepohonan.
Di titik tertinggi, mereka mendirikan tenda dan bersiap bermalam di puncak Gunung Bintan yang berada di ketinggian 336 mdpl atau kurang dari 400 meter di atas permukaan laut. Tepat pada Minggu (17/8), para penggiat alam melaksanakan tujuan utama, yakni menggelar upacara peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia sekaligus mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Bintan.
Saat kain dwiwarna itu berkibar dihembus angin, semua peserta berdiri tegak memberi hormat dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan lantang dan khidmat. Salah seorang penggiat alam, Misbach, mengatakan kegiatan pengibaran bendera, operasi bersih-bersih sampah, dan kemping Merah Putih diikuti berbagai komunitas di Pulau Bintan.
Di antaranya Komunitas Penggiat Alam Setapak (Kompas), Wak Outdoor Brotherhood, Bintan Petualang, Muda Trip, Melancoy Coy, Mapala UMRAH, Mapala Stisipol Raja Haji, dan Mapala STAIN Sultan Abdurrahman.
“Kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan para penggiat alam di Pulau Bintan terhadap jasa pahlawan sekaligus memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia,” ujar Misbach.
Selain memeriahkan HUT ke-80 Kemerdekaan Indonesia, para penggiat alam juga melakukan operasi bersih-bersih sampah mulai dari kaki gunung, lereng, hingga puncak.
“Selain upacara, kami juga melaksanakan operasi bersih-bersih sampah di Gunung Bintan,” tambahnya.
Menurutnya, operasi ini perlu dilakukan karena banyak sampah plastik berserakan di sekitar gunung. Para penggiat alam pun mengingatkan wisatawan atau pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan.
“Yang perlu diperhatikan adalah kesadaran kita semua untuk menjaga kebersihan, terutama sampah plastik,” tegas Misbach.
Meski demikian, ia tetap mengajak siapa pun untuk mengunjungi Gunung Bintan yang sejuk dan asri, menikmati pendakian, kesejukan, serta keindahan alamnya. Menurut Misbach, Gunung Bintan merupakan gunung berbentuk bukit yang menjadi ikon alam Pulau Bintan. Dengan ketinggian kurang dari 400 meter di atas permukaan laut, gunung ini menawarkan panorama indah yang memanjakan mata dan menenangkan jiwa.
Gunung Bintan, jelasnya, merupakan gunung unik di tengah-tengah Pulau Bintan, berada di antara Kota Tanjungpinang dan Desa Bintan Buyu, Kabupaten Bintan. Gunung ini termasuk yang tertinggi di Pulau Bintan. Dihiasi pepohonan hijau, Gunung Bintan menjadi objek wisata favorit, terutama bagi para pendaki.
Selain itu, lanjutnya, Gunung Bintan yang ikonik menawarkan kombinasi sempurna antara petualangan, relaksasi, dan kekaguman terhadap keindahan alam serta kehidupan liar. “Jadi, pastikan dalam kondisi fit. Walaupun treknya pendek dan menanjak, kalau kurang fit lebih baik tidak mendaki,” imbau Misbach. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG