Buka konten ini

Masalah kesuburan dan vitalitas pria bukan hanya soal faktor usia atau keturunan, tetapi erat kaitannya dengan pola hidup sehari-hari. Olahraga teratur, gaya hidup sehat, serta deteksi dini gangguan kesehatan menjadi kunci untuk menjaga performa tubuh dan kualitas reproduksi.

BANYAK pria baru menyadari pentingnya menjaga kesehatan reproduksi ketika masalah mulai muncul, seperti sulit memiliki keturunan, disfungsi ereksi, atau ejakulasi dini.
Padahal, menurut dr. Mohammad Fariz, Sp.U, Dokter Spesialis Urologi RS Awal Bros Batam, kesehatan reproduksi pria sangat dipengaruhi oleh gaya hidup, faktor hormonal, dan kondisi medis tertentu.
“Untuk memastikan seorang pria subur atau tidak, pemeriksaan analisis sperma adalah langkah awal. Dari situ kita bisa melihat jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma,” jelas dr. Fariz saat siaran langsung di Instagram haloawalbros bertema Masalah Kesehatan Reproduksi Pria, Kamis (14/8).

Dr. Fariz mengingatkan, penilaian kesuburan tidak bisa hanya mengandalkan pengamatan visual sperma. Pemeriksaan laboratorium tetap menjadi standar.
“Kesadaran dan deteksi dini sangat penting. Jangan menunggu keluhan parah baru datang ke dokter,” katanya.
Ia menegaskan, pria dikatakan mengalami infertilitas jika telah menikah lebih dari satu tahun, memiliki frekuensi hubungan seksual yang cukup, namun belum juga memiliki keturunan.
Selain masalah kesuburan, urolog juga menangani keluhan seperti gangguan ereksi, ejakulasi dini, nyeri testis, hingga gangguan hormonal.
Menurut dr. Fariz, penurunan hormon testosteron biasanya terjadi pada pria usia 40 tahun ke atas.
Dampaknya meliputi penurunan libido, cepat lelah, kurang semangat, cepat cape, tidak bergairah, hingga masalah vitalitas.
“Hal ini bisa dicegah dengan pola hidup sehat dan olahraga teratur,” ujarnya.
Ejakulasi Dini dan Disfungsi Ereksi
Penurunan vitalitas ini juga berkaitan dengan masalah seksual yang umum dialami pria, seperti ejakulasi dini dan disfungsi ereksi.
Ejakulasi dini umumnya dipicu faktor psikologis seperti stres pekerjaan, masalah rumah tangga, atau beban pikiran lain. Meski demikian, penyakit seperti gangguan saraf juga dapat menjadi penyebab.
”Kalau disfungsi ereksi, kita harus lihat dari sisi penyebabnya, bisa berasal dari dua kemungkinan, bisa karena faktor organik atau psikogenik,” kata dokter Fariz.
Jadi kalau faktor organik itu memang ada penyakit yang mendasari, seperti diabetes, hipertensi, obesitas, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, atau penggunaan obat terlarang. Adapun faktor psikogenik terkait dengan kondisi mental.
”Yaitu masalah psikis atau pikiran yang dapat memengaruhi kemampuan ereksi pasien,” urainya.
Untuk mendapatkan kualitas ereksi yang baik, dibutuhkan aliran darah yang lancar dan persarafan yang baik. Hal ini bisa terganggu apabila ada stressor yang memengaruhi pikiran pasien.
Kadang hal ini tidak disadari pasien. Secara sadar ia merasa baik-baik saja, hasil pemeriksaan laboratorium juga normal. Saat ditanya apakah ada masalah psikologis, ia menjawab tidak ada. Namun, setelah dilakukan psikoterapi atau konsultasi dengan psikolog, ternyata ditemukan adanya masalah psikologis yang mendasari. Setelah diterapi oleh psikolog, Alhamdulillah kondisinya membaik.
Kondisi seperti ini terutama terjadi pada pasien usia muda yang tidak memiliki penyakit organik lain.
”Sekitar 80-90 persen kasusnya dipengaruhi faktor psikologis, seperti hubungan dalam keluarga, masalah pekerjaan, hubungan dengan pasangan, hingga rasa nyaman dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu bisa memberi pengaruh,” kata dr Fariz.
Dalam banyak kasus, keduanya justru berperan secara bersamaan. Ada sedikit pengaruh dari faktor organik, dan ada pula dari faktor psikis. Namun, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyingkirkan kemungkinan faktor organik. Misalnya, apakah ada penyakit lain dalam tubuhnya.
”Kita perlu mengevaluasi fungsi tubuhnya, kadar gula darah, kadar kolesterol, kebiasaan hidup, apakah merokok atau tidak, mengonsumsi alkohol atau tidak, serta penggunaan obat-obatan tertentu,” katanya.
Jika ditemukan masalah, seperti kadar gula atau kolesterol tinggi, maka faktor risiko tersebut harus diterapi terlebih dahulu. Setelah itu, barulah ditelusuri apakah ada faktor psikis yang turut memengaruhi.
”Penanganannya harus bersifat holistik atau menyeluruh, tidak hanya memberikan obat. Pasien perlu mengetahui penyebabnya dan mengatasinya, sehingga diharapkan ke depannya tidak perlu lagi mengonsumsi obat mengatasi ereksi,” ungkapnya.
Peran Olahraga dan Pola Tidur
dr Mohammad Fariz mengatakan olahraga khusus latihan beban terutama untuk area panggul dan kaki, seperti kegel exercise, squat, dan lunges, disarankan untuk memperbaiki fungsi ereksi serta mencegah ejakulasi dini.
Olahraga dianjurkan, namun jangan berlebihan. Misalnya, bersepeda jarak jauh sebaiknya tidak lebih dari tiga jam tanpa jeda, karena dapat menimbulkan iritasi dan berisiko menyebabkan prostatitis.
Overtraining juga meningkatkan hormon stres (kortisol) yang justru berdampak negatif pada tubuh.
Menurutnya, pola tidur yang baik berperan besar dalam menjaga kesehatan. Tidak hanya untuk kesehatan reproduksi, tetapi juga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Sayangnya, hal ini kerap diabaikan. Banyak orang menganggap tidur sekadar waktu beristirahat, padahal kualitas tidur menjadi kunci regenerasi tubuh.
“Tidur yang cukup, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, sangat penting untuk menjaga kebugaran. Bagi pria, pola tidur yang teratur akan semakin mendukung vitalitas dan kesehatan,” ujar dr Fariz.
Nyeri Testis dan Gangguan Prostat
Nyeri testis dapat disebabkan peradangan, varikokel (pelebaran pembuluh darah), hingga tumor testis.
Sedangkan gangguan prostat mencakup peradangan, pembesaran prostat jinak (BPH), atau kanker prostat, yang masing-masing memiliki penyebab berbeda.
Pencegahan Kanker Prostat
Salah satu penyakit yang kerap mengintai pria adalah kanker prostat. Untuk pencegahan, dr. Fariz menyarankan konsumsi makanan yang mengandung likopen, seperti tomat. “Likopen terbukti membantu menurunkan risiko kanker prostat,” ujarnya.
Selain kanker prostat, pria juga berisiko mengalami pembesaran prostat jinak (BPH) terutama di usia 50 tahun ke atas. Kondisi ini dipengaruhi faktor usia dan hormonal, sehingga sulit dicegah, namun dapat dipantau agar tidak mengganggu saluran kemih.
Radang prostat (prostatitis) dapat menyerang pria muda. Beberapa makanan dan minuman seperti daging kambing, durian, alkohol, dan makanan pedas bisa memicu keluhan. Bukan berarti tidak boleh dikonsumsi sama sekali, namun pada pasien dengan gejala prostatitis, konsumsi sebaiknya dibatasi.
Hubungan Seksual dan Risiko Penyakit
Infeksi menular seksual (IMS) seperti gonore atau klamidia dapat menyebabkan peradangan saluran sperma yang berujung pada sumbatan. Jika sumbatan terjadi di kedua sisi, sperma tidak dapat keluar, sehingga berisiko menyebabkan kemandulan. Gejala IMS antara lain nyeri saat buang air kecil, rasa terbakar, keluarnya cairan seperti nanah, atau darah saat buang air kecil.
HIV juga memengaruhi kesehatan reproduksi. Penyakit ini dapat menular melalui hubungan seksual, terutama hubungan seksual berisiko, dan memerlukan penanganan bersama dokter penyakit dalam.
Ejakulasi Rutin dan Pornografi
Beberapa penelitian menunjukkan ejakulasi rutin (pasangan dalam jangka panjang dapat menurunkan risiko kanker prostat. Namun, dr. Fariz menegaskan, ejakulasi sebaiknya dilakukan melalui hubungan suami-istri, bukan melalui pornografi.
“Pornografi bisa menimbulkan kecanduan dan merusak otak secara permanen,” tegasnya.
Banyak pasien datang ke klinik dengan keluhan sulit memiliki anak, gangguan ereksi, atau ejakulasi dini. Tak sedikit yang baru menyadari bahwa keluhan seperti cepat lelah, libido menurun, atau kurang semangat bisa disebabkan kadar hormon testosteron yang rendah.
Di RS Awal Bros Batam, penanganan masalah kesuburan dilakukan secara multidisiplin. Untuk gangguan ereksi, tersedia terapi obat-obatan hingga alat Shockwave Therapy (SWT) untuk melancarkan aliran darah. Pemeriksaan juga lengkap mulai dari analisis sperma, USG testis, hingga pemeriksaan hormon.
Saran untuk Pasangan Muda
Bagi pasangan muda yang baru menikah, dr. Fariz menyarankan menerapkan pola hidup sehat, olahraga teratur, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, dan menjaga kesehatan psikis. Jika setelah satu tahun menikah dengan frekuensi hubungan normal belum juga mendapatkan keturunan, perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh.
“Kesehatan reproduksi pria sama pentingnya dengan kesehatan organ tubuh lain. Jangan ragu memeriksakan diri ke tenaga medis yang tepat. Di RS Awal Bros Batam, ada klinik khusus Men’s Health yang menangani masalah ini secara menyeluruh,” pungkas dr. Fariz. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : gustia benny