Buka konten ini
BATAM (BP) – Kapolda Kepri, Irjen Asep Safrudin, memastikan tidak ditemukan beras oplosan yang beredar di wilayah Kepulauan Riau (Kepri). Kepastian itu diperoleh setelah tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Kepri melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
“Anggota sudah turun melakukan pengecekan. Tidak ada beras oplosan di Kepri,” tegas Asep, kemarin.
Pengecekan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pasar tradisional hingga ritel modern di sejumlah kabupaten dan kota di Kepri. Tim menelusuri berbagai merek beras yang dijual, memeriksa kemasan, hingga mencocokkan dengan data dari produsen resmi.
Ia mengatakan, langkah ini merupakan upaya memastikan keamanan pangan dan melindungi masyarakat dari praktik curang yang merugikan konsumen. “Kami ingin memastikan beras yang dijual ke masyarakat aman, sesuai standar, dan tidak dicampur dengan bahan lain,” ujarnya.
Selain pemeriksaan fisik di lapangan, Ditkrimsus Polda Kepri juga berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas Perdagangan dan Bulog. Koordinasi ini dilakukan untuk memantau distribusi beras sekaligus mengantisipasi lonjakan harga yang bisa memicu praktik kecurangan.
“Kami juga telah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan beras di wilayah Kepri aman,” sebutnya.
Sebelumnya, Satgas Pangan Polda Kepri mengambil beberapa sampel merek beras untuk diuji di laboratorium. Beberapa di antaranya adalah Harumas, Dunia Kijang Super, Wan Lixiang, Royal Banana, dan Uni Minang. Namun hingga kini, hasil uji laboratorium terhadap sampel beras tersebut belum diumumkan.
Polri dan Bulog Gelontorkan 5.706 Ton Beras
Sementara itu, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) bersama Perum Bulog meluncurkan Gerakan Pangan Murah secara serentak di seluruh Indonesia.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan telah menyalurkan 5.706 ton beras SPHP. Upaya penyaluran 1,3 juta ton beras SPHP terus didorong.
Kapolri Listyo Sigit Prabowo menegaskan, kegiatan ini digelar untuk menstabilkan harga pangan, terutama beras, agar tetap terjangkau masyarakat. “Alhamdulillah hari ini kita melaksanakan kick-off Gerakan Pangan Murah secara serentak. Hingga 13 Agustus, sudah disalurkan 5.706 ton beras SPHP di 4.705 titik. Khusus hari ini, kami menya-lurkan 2.424 ton di 1.552 titik dengan penerima manfaat hampir 485 ribu orang,” ujarnya dalam kegiatan kick-off yang dipusatkan di Perum Bulog Kanwil DKI Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (14/8).
Dia menambahkan, harga beras, gula, dan minyak yang dijual dalam program ini dipastikan sesuai standar Bulog dan tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). “Kami terus mendorong penyaluran beras SPHP sebanyak 1,3 juta ton agar segera terealisasi sesuai arahan Bapak Presiden. Evaluasi akan dilakukan setiap minggu untuk memastikan program berjalan optimal,” tegasnya.
Sementara Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyoroti peran strategis gerakan ini dalam menjaga stabilitas inflasi nasional. Saat ini target inflasi pemerintah berada di kisaran 1,5 sampai 3,5 persen. Pada Juli kemarin inflasi tercatat 2,37 persen, yang artinya sesuai target.
”Namun beras adalah komoditas utama yang harus dijaga. Beberapa wilayah di timur bahkan harganya sempat di atas HET, yakni Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram,” ungkapnya.
Tito mengapresiasi sinergi Polri, Bulog, TNI, dan pemerintah daerah yang membuat distribusi lebih cepat dan merata. Dari 237 kabupaten/kota yang sebelumnya mengalami kenaikan harga beras, kini harga sudah turun menjadi sekitar Rp191 per kilogram. ”Polri dengan jaringannya hingga daerah sangat membantu stabilisasi ini,” jelas Tito.
Bagian lain, Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi menegaskan bahwa gerakan ini adalah tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto. “Bantuan pangan sudah 90 persen tersalurkan untuk 18,27 juta Keluarga Penerima Manfaat. Selanjutnya Gerakan Pangan Murah SPHP sebanyak 1,3 juta ton akan terus berjalan hingga Desember,” kata Arief.
Dia menambahkan, masya-rakat juga bisa memperoleh kebutuhan pokok lain dengan harga terjangkau. “Beras dijual Rp11.000 per kilogram, minyak goreng Rp15.000, dan tepung Rp10.000. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Terima kasih kepada Kapolri, jajaran Kapolda, Dirut Bulog, dan semua pihak yang mendukung,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog, Mayjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan kesiapan Bulog dalam mendukung program nasional ini. “Saat ini Bulog memiliki stok 4,2 juta ton beras. Sebanyak 1,3 juta ton dialokasikan untuk SPHP, dan 0,3 juta ton untuk bantuan pangan. Kami bersinergi dengan Polri, TNI, serta pemerintah daerah agar harga di lapangan bisa ditekan,” jelasnya.
Soliditas semua pihak, lanjutnya, sangat penting dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan. Sinergi TNI-Polri dan seluruh pemangku kepentingan di daerah akan meminimalisir kenaikan harga. ”Dengan arahan Bapak Presiden, kami berupaya semaksimal mungkin menyalurkan pangan ke seluruh Indonesia,” jelasnya.
Gerakan Pangan Murah ini akan berlangsung hingga 16 Agustus 2025, dengan target distribusi beras, minyak, gula, dan kebutuhan pokok lain ke seluruh wilayah Indonesia dengan harga terjangkau.
Di bagian lain Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan meminta penyaluran beras SPHP supaya dipercepat. Karena informasi yang dia terima, penyaluran beras murah SPHP masih di angka 2.500 ton setiap harinya. “Kami minta SPHP disalurkan langsung ke pasar. Kalau lewat bazar, prosesnya terlalu lambat,” ujar pria yang akrab disapa Zulhas itu.
Menurut Zulhas, pasar tradisional merupakan saluran paling efektif untuk penyaluran SPHP. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengatakan, tata niaga beras SPHP sejauh ini berjalan baik. Hanya saja harus dipercepat dan diperbanyak distribusinya.
Zulhas juga memantau langsung pelaksanaan distribusi ke sejumlah pasar. “(beras) SPHP belum sepenuhnya sampai karena butuh persiapan. Idealnya, bisa tersalurkan 10 ribu ton per hari sehingga sebulan mencapai 300 ribu ton,” jelasnya. Meskipun begitu dia optimistis distribusi beras SPHP akan meningkat saat memasuki masa panen raya.
Sementara itu Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pasokan beras SPHP akan terus digelontorkan ke pasar. Tujuannya untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pedagang kecil.
“Ini akan membentuk struktur pasar baru yang lebih menguntungkan produsen dan konsumen,” katanya.
Amran mengatakan di pasar tradisional, harga beras medium saat ini sekitar Rp13.000 per kilogram. Jauh lebih murah dibanding beras premium di pasar modern yang mencapai Rp17.000 sampai Rp18.000 per kilogram.
Amran juga menyampaikan setelah kasus beras oplosan, terjadi pergeseran struktur pasar beras di Indonesia. Konsumen sekarang cenderung beralih dari pasar modern ke pasar tradisional dan eceran. Di mana pasokan berasnya berasal dari penggilingan kecil dan menengah. Sehingga penjualan mereka meningkat.
Saat ini stok beras di pasar tradisional melimpah. Sehingga memberikan keuntungan bagi penggilingan kecil dan pedagang. Kondisi ini dinilai positif karena mendorong transparansi harga, memperkuat pelaku usaha kecil, serta tetap menjamin ketersediaan stok beras.
Menurut pedagang dan penggilingan kecil, situasi ini menjadi berkah yang membuat mereka merasa lebih optimistis. “Kondisi ini justru menurut pedagang dan penggilingan kecil menjadi berkah bagi mereka. Penggilingan kecil dan pengecer bahagia,” ungkapnya. (***)
Reporter : Yashinta
Editor : RYAN AGUNG