Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Seusai penandatanganan perjanjian dagang Indonesia–Peru, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengumumkan rencana untuk kembali meneken perjanjian perdagangan dalam bentuk Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Perjanjian berikutnya yang akan difinalisasi adalah Indonesia–Canada CEPA (ICA-CEPA).
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono, menyampaikan bahwa proses perundingan telah selesai dan kini hanya menunggu tahap penandatanganan.
”Insya Allah dalam beberapa waktu ke depan, harapannya di tahun ini juga kami akan menandatangani CEPA yang juga sudah selesai perundingannya, juga dari kawasan benua Amerika, yaitu Kanada,” ujar Djatmiko, di Jakarta, Rabu (13/8).
Jika terealisasi, Indonesia akan memiliki tiga CEPA aktif dengan negara-negara di kawasan Amerika pada tahun ini, yakni Chile, Peru, dan Kanada. Meski begitu, Djatmiko menegaskan jadwal penandatanganan ICA-CEPA belum diputuskan. ”Kami masih mencari waktu yang tepat, karena ini nanti disaksikan Kepala Negara, melibatkan delegasi kedua pemerintahan. Jadi kita masih mencari waktu yang tepat,” urainya.
Dia menambahkan, Kemendag bersama kementerian dan lembaga terkait terus mempercepat penyelesaian berbagai perjanjian perdagangan baru sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasar. ”Nah, jadi kalau Peru ini sudah selesai sudah ditanda tangan, yang sudah selesai, tapi belum ditanda tangan tapi akan ditanda tangan tahun ini adalah Kanada, Eurasia atau EAEU (Eurasian Economic Union) itu gabungan antara Rusia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Armenia, kemudian ada Tunisia PTA dengan kawasan Afrika Utara,” urainya.
Selain itu, pemerintah juga mengakselerasi perundingan Indonesia–European Union CEPA (IEU-CEPA). ”Nanti EU akan berikutnya, belum selesai. Jadi kita akan coba selesaikan. Pak Presiden sudah mengumumkan ada kesepakatan politis untuk menyelesaikan segera di tahun ini. Ya mudah-mudahan nanti dalam beberapa minggu depan bisa kita benar-benar tuntaskan,” bebernya.
Sebelumnya, Indonesia telah menandatangani CEPA dengan Peru, yang diproyeksikan mampu meningkatkan nilai perdagangan bilateral hingga USD5 miliar dalam beberapa tahun mendatang. Perjanjian ini mencakup 7.257 pos tarif atau sekitar 90 persen dari total pos tarif Peru, termasuk produk prioritas seperti kendaraan bermotor, alas kaki, tekstil, kelapa sawit, serta kulkas dan pendingin.
Menurut Djatmiko, perjanjian ini juga menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam proses aksesi ke Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), mengingat Peru merupakan salah satu anggotanya. ”Kita sudah mengetahui ekspektasi Peru, sehingga lebih siap dalam menghadapi perundingan CPTPP,” kata Djatmiko.
Djatmiko memaparkan, IP-CEPA menjadi langkah strategis bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar ke kawasan Amerika Latin. Perjanjian ini menggunakan pendekatan inkremental, yaitu menyelesaikan persetujuan untuk sektor perdagangan barang terlebih dahulu. Putaran pertama perundingan dimulai pada 27 Mei 2024 dan selesai di putaran keempat pada 6 Agustus 2025.
”Peru memiliki posisi strategis sebagai pintu masuk perdagangan ke kawasan Amerika Latin sekaligus menjadi negara mitra yang saling melengkapi dengan Indonesia, baik dari sisi komoditas maupun potensi pasar. Selain itu, hubungan politik dan ekonomi kedua negara yang terbuka menjadi landasan kokoh bagi kelancaran negosiasi serta implementasi kesepakatan ini. Melalui IP-CEPA, Indonesia akan memperoleh keunggulan tarif yang kompetitif sekaligus memperluas peluang ekspor produk bernilai tambah ke Peru,” jelas Djatmiko.
Dia pun menambahkan, setelah implementasi, diversifikasi ekspor Indonesia ke Peru diproyeksikan dapat mencapai nilai hingga USD 5 miliar. Sektor-sektor yang memiliki prospek terbesar meliputi tekstil dan alas kaki, otomotif dan suku cadang, biodiesel dan kelapa sawit, produk perikanan dan olahan makanan, karet, serta mesin khusus.
”Dengan demikian, IP-CEPA diharapkan tidak hanya memperkuat kinerja perdagangan Indonesia-Peru, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia di pasar Amerika Latin secara keseluruhan,” pungkas Djatmiko. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY