Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Kondisi ekonomi global saat ini ibarat tengah menghadapi cuaca berawan yang berpotensi menjadi badai. Artinya, terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Pasar ekspor Indonesia bisa terdampak yang akhirnya menjadi sentimen negatif petumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Senior Economist DBS Bank Radhika Rao mengatakan, pihaknya mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 di angka 4,8 persen. Sejalan dengan berbagai indikator pelemahan dan berkurangnya stimulus di semester kedua tahun ini.
“Efek stimulus mulai berkurang, perkiraan inflasi rata-rata untuk 2025 direvisi naik menjadi 2,2 persen year on year (yoy), dari sebelumnya 1,8 persen,” bebernya, Rabu (13/8).
Radhika memperkirakan, kinerja ekspor akan turun setelah lonjakan di paruh pertama 2025. Hal itu didorong oleh strategi percepatan pengiriman (front loading) menjelang penerapan tarif impor dari Amerika Serikat (AS). “Ekspor yang digenjot lebih awal di awal tahun kemung-kinan akan diikuti oleh penurunan sebagai bentuk pembalikan tren,” imbuhnya.
Meski belanja pemerintah diperkirakan akan meningkat, namun penerimaan negara terus berada di bawah target. Sehingga akan memaksa pemerintah untuk menahan laju penyaluran belanja agar defisit anggaran tidak memburuk.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menuturkan, risiko ekonomi yang menjadi sorotan datang dari perlambatan ekonomi Tiongkok yang berlanjut meski di semester pertama tahun ini masih cukup solid di kisaran 5 persen. ”Kami mencermati bahwa pada semester kedua mulai muncul tanda-tanda perlambatan. Hal itu antara lain dipicu oleh krisis sektor properti yang masih berlanjut di negara tersebut. Perlambatan juga akan berdampak pada kinerja ekspor Tiongkok ke negara-negara lain, termasuk ke AS,” ungkapnya.
Kebijakan proteksionisme yang lebih agresif dari AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump juga menjadi perhatian utama. Diberlakukannya reciprocal tariffs berisiko menekan perdagangan global.
Bagi Indonesia, Josua menilai dampaknya mungkin tidak tergolong berat, tapi juga tidak ringan. Misalnya, pengenaan tarif dari 0 persen menjadi 19 persen jelas menimbulkan tekanan. Khususnya terhadap produk ekspor Indonesia ke pasar AS. Seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, hingga produk elektronik. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG