Buka konten ini

NEW YORK (BP) – Meta mengambil langkah strategis menuju pengembangan artificial superintelligence (ASI). CEO Meta, Mark Zuckerberg, pun meminta tidak semua sistem AI paling kuat dalam perusahannya akan dibuka untuk publik.
Dalam makalah kebijakan yang diterbitkan di situs resmi perusahaan pada 30 Juli 2025, Zuckerberg mengungkapkan bahwa peneliti Meta mulai mengamati tanda-tanda AI mampu meningkatkan kemampuannya sendiri tanpa campur tangan manusia.
“Prosesnya memang masih berjalan lambat, namun kemajuannya nyata,” katanya seperti dilansir dari Live Science, Rabu (13/8). Zuckerberg menyebut, kemampuan self-improvement itu sebagai langkah awal menuju ASI.
Fenomena Mampu Memperbaiki Diri
Fenomena AI yang mampu memperbaiki diri sendiri bukan hal baru. Pada Oktober 2024, peneliti University of California, Santa Barbara, menguji kerangka AI berdasarkan konsep Godel Machine. Yaitu perangkat teoretis yang dapat menulis ulang kode dan instruksinya sendiri, hanya jika perubahan tersebut terbukti bermanfaat.
Hasilnya, Godel Agent yang mereka kembangkan mampu meningkatkan kinerja di berbagai bidang seperti pemrograman, sains, matematika, dan penalaran. Studi tersebut menunjukkan AI ini mengungguli agen rancangan manusia dalam sejumlah tugas utama.
Kemungkinan Superintelligence Pribadi
Meski optimistis, Zuckerberg menegaskan bahwa Meta akan lebih selektif dalam merilis model AI di bawah lisensi open source.
Dia menambahkan, dampak paling bermakna bukan sekadar kelimpahan hasil produksi AI. Melainkan pada kemungkinan setiap orang memiliki superintelligence pribadi yang membantu mewujudkan tujuan, menciptakan hal-hal yang diinginkan di dunia, menjalani berbagai petualangan, menjadi teman yang lebih baik, serta berkembang menjadi pribadi yang diimpikan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO