Buka konten ini

Anambas (BP) – Pulau Jemaja di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, adalah mutiara tersembunyi di ujung negeri. Hamparan pasir putih yang bersih, air laut sebening kaca, dan suasana tenang membuat siapa saja betah berlama-lama.
Menuju Jemaja, wisatawan bisa menempuh perjalanan laut sekitar lima jam dari Kota Batam. Namun, bagi yang ingin lebih cepat, tersedia penerbangan langsung yang hanya memakan waktu 55 menit.
Setibanya di Jemaja, pengunjung akan dimanjakan oleh banyak titik terbaik untuk memburu keindahan matahari terbit (fajar) dan matahari tenggelam (senja). Beberapa waktu lalu, Batam Pos berkesempatan mengabadikan kedua momen itu bersama Kapolres Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka.
Menyambut Fajar di Padang Melang
Pagi buta, usai menunaikan salat subuh, Kapolres Anambas beserta rombongan meninggalkan penginapan pukul 04.50 WIB. Udara masih segar ketika sepeda motor melaju santai menuju Jalan Baru Padang Melang, salah satu spot terbaik menyaksikan fajar di Jemaja. Perjalanan hanya memakan waktu 15 menit.
Sesampainya di lokasi, suara ombak kecil yang berkejaran di bibir pantai menyambut kedatangan rombongan. Tepat pukul 05.15 WIB, cahaya keemasan perlahan muncul di ufuk timur, memantul di permukaan laut. Pemandangan sakral itu membuat kamera tak henti bekerja.
“Luar biasa Jemaja. Tempatnya masih alami, surga tersembunyi. Sayang sekali belum dieksplor dengan baik,” ujar AKBP I Gusti Ngurah Agung.
Menurutnya, Jemaja perlu penataan agar wisatawan lebih leluasa menikmati alamnya. Ia bahkan menyarankan pembangunan resort di kawasan Padang Melang untuk memudahkan pengunjung menikmati fajar dan senja.
“Tidak kalah dari Bali. Bedanya, Bali sudah lebih dulu terkenal. Saya yakin Jemaja bisa,” tegas pria asal Bali itu.
Sore harinya, rombongan kembali melanjutkan perjalanan, kali ini mengejar senja. Lokasi pertama adalah pantai di Desa Landak. Di sana, langit bertransformasi menjadi kanvas raksasa berwarna jingga, emas, dan ungu.
Tak ingin kehilangan momentum, rombongan Kapolres Anambas berpindah ke Pelabuhan Berhala. Di tempat ini, senja terasa lebih menenangkan. Laut yang tenang memantulkan cahaya sore, sementara beberapa warga tampak santai memancing di ujung pelabuhan.
“Saya tidak menyangka, bulan lalu masih merasakan macetnya Jakarta. Sekarang saya menikmati kedamaian tanpa hiruk pikuk kota. Inilah perjalanan hidup yang tak bisa ditebak,” kata AKBP Gusti Ngurah Agung, yang pernah menjadi ajudan Anies Baswedan ini. Ia mengajak masyarakat untuk peduli dan mempromosikan Jemaja lewat media sosial. “Jemaja punya potensi besar untuk dikenal dunia. Tinggal kita percaya dan bergerak,” ujarnya.
Pulau Jemaja bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah panggung alam yang setiap hari menampilkan pertunjukan fajar dan senja nan memukauhadiah istimewa bagi siapa saja yang sudi datang dan menikmatinya. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO