Buka konten ini

CANBERRA (BP) – Negara yang mengakui kedaulatan Palestina terus bertambah. Setelah Inggris, Prancis, dan Kanada, giliran Australia yang mengambil langkah serupa. Sikap itu akan disampaikan saat Sidang Umum PBB September 2025. Sementara, Selandia Baru akan memutuskan sikapnya setelah jejak pendapat.
Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese, mengatakan, keputusan itu diambil setelah pihaknya menerima sejumlah komitmen dari Palestina. Seperti janji demiliterisasi, penyelenggaraan pemilu umum, serta pengakuan terhadap hak eksistensi Israel sebagai negara. “Solusi dua negara adalah harapan terbaik umat manusia untuk menghentikan siklus kekerasan di Timur Tengah, serta mengakhiri konflik, penderitaan, dan kelaparan di Gaza,” ujar Albanese dilansir BBC.
Sikap Australia yang mendukung Palestina itu langsung menuai kecaman dari Israel. Israel menyebut pengakuan terhadap Palestina sebagai wujud penghargaan bagi terorisme. Sementara, otoritas Palestina menyambut baik keputusan Australia. Pengakuan kenegaraan menunjukkan meningkatnya dukungan dunia internasional terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri.
Menurut Albanese, keputusan itu juga berpijak pada jaminan dari Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas bahwa Hamas tidak akan dilibatkan dalam pemerintahan Palestina di masa depan. Selain itu, ketetapan itu diambil setelah Australia berdiskusi dengan para pemimpin dunia dalam dua pekan terakhir. Termasuk, Inggris, Prancis, Selandia Baru, dan Jepang. “Ada momentum yang harus dimanfaatkan, dan Australia siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk mewujudkannya,” terang Albanese.
Sehari sebelum pengumuman, puluhan ribu orang turun ke jalan dalam aksi pro-Palestina di Sydney, Australia. Massa memadati Jembatan Sydney Harbour, setelah pengadilan mengizinkan demonstrasi digelar.
Selandia Baru Jaring Pendapat
Dalam waktu dekat, Pemerintah Selandia Baru juga akan menentukan sikapnya pada Palestina. Sejumlah mitra dekat kami telah mengakui Palestina, sementara lainnya belum, ujar Menteri Luar Negeri Winston Peters, Senin (11/8).
Menurut Peters, Selandia Baru memiliki kebijakan luar negeri yang independen. Pihaknya akan mempertimbangkan isu itu secara cermat dan bertindak sesuai prinsip, nilai, serta kepentingan nasional.
Peters mengakui, isu pengakuan Palestina tidak sederhana. “Banyak pandangan yang kuat muncul dari pemerintah, parlemen, bahkan masyarakat terkait pengakuan ini,” ujarnya.
Karena itu, Peters menilai penting untuk menyikapi persoalan tersebut secara tenang dan hati-hati. Dalam sebulan ke depan, Selandia Baru akan menjaring berbagai pendapat sebelum membawa usulan ke kabinet. Hingga kini, dari 193 negara anggota PBB, tercatat sudah 147 negara mengakui kenegaraan Palestina. Jumlah itu sekitar tiga perempat negara di dunia dan mewakili mayoritas populasi global.
Diserang Israel, Lima Jurnalis Tewas
Serangan udara tentara Israel menewaskan lima jurnalis Al Jazeera. Salah satunya adalah reporter senior Anas Al-Sharif yang diserang saat berada di tenda wartawan di depan Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza City, Minggu (10/8).
Dilansir dari Al Jazeera, selain Sharif, korban lainnya adalah koresponden Mohammed Qreiqeh dan juru kamera Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, serta Moamen Aliwa. Mereka sedang bertugas saat serangan terjadi. Kantor berita yang berpusat di Doha, Qatar itu menyebut, serangan itu sebagai pembunuhan terencana terhadap kebebasan pers.
Komite Perlindungan Jurnalis alias Committee to Protect Journalists (CPJ) langsung mengecam. Mereka menilai itu bukan insiden pertama.
Israel Defense Force (IDF) mengakui bahwa Sharif memang menjadi target. Karena, dia diduga sebagai anggota Hamas yang terlibat dalam perencanaan dan peluncuran roket ke arah warga sipil serta tentara Israel. Mereka juga mengklaim memiliki dokumen yang menunjukkan Sharif aktif di unit Hamas pada 2019.
Namun, CPJ menyangkal dengan menegaskan belum ada bukti kuat atas tuduhan itu. “Polanya selalu sama. Jurnalis dibunuh, lalu Israel menuduh mereka teroris. Tapi bukti yang ditunjukkan minim,” kata CEO CPJ Jodie Ginsberg dikutip BBC. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO