Buka konten ini

Jembatan Dompak di Tanjungpinang yang unik dan megah kini menjadi salah satu ikon destinasi wisata dan olahraga, sekaligus simbol kebanggaan masyarakat Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri).
JEMBATAN Dompak merupakan jembatan terpanjang di Provinsi Kepri dan disebut sebagai jembatan terpanjang keempat dari 10 jembatan terpanjang di Indonesia. Jembatan ini menghubungkan Pulau Bintan dengan Pulau Dompak, membentang di atas laut biru Tanjungpinang sepanjang 1,5 kilometer. Jembatan ini berdiri kokoh dengan fondasi kuat yang menancap ke dasar laut, menghubungkan kompleks pemerintahan Provinsi Kepri di Pulau Dompak dengan pusat kota Tanjungpinang di Pulau Bintan.
Selain sebagai penghubung, berbagai ornamen khas Melayu dan fasilitas umum mempercantik keunikannya. Di ujung sisi Tanjungpinang, ornamen berbentuk kapal layar menghiasi keindahan jembatan. Sementara di sisi Pulau Dompak, taman bunga dan ornamen pulau-pulau berbentuk bulat mempercantik area tersebut.
Salah satu keunikan lainnya adalah jogging track tersembunyi di bawah badan jembatan sepanjang 500 meter di sisi kiri dan kanan. Jembatan ini tidak hanya menjadi infrastruktur strategis, tetapi juga berkembang sebagai spot olahraga favorit warga dan wisatawan.
Setiap pagi dan sore hari, terutama akhir pekan, masyarakat berbondong-bondong datang untuk berolahraga dan melepas penat di area jembatan.
“Kalau akhir pekan, pagi hari kami selalu menyempatkan diri mencari keringat di Jembatan Dompak,” ungkap Sandy, seorang pelari di Tanjungpinang, Selasa (5/8).
Tersedia jalur khusus untuk bersepeda dan aktivitas lainnya, menjadikannya tempat ideal untuk olahraga ringan sambil menikmati panorama laut terbuka. Terdapat pula jalur pejalan kaki, area bersantai, dan lokasi memancing, menjadikan Jembatan Dompak sebagai tempat asyik untuk menikmati keindahan senja Tanjungpinang.
Di pinggir jalan di atas jembatan, banyak warga duduk santai menikmati udara dan panorama kota. Jembatan ini kerap menjadi titik temu komunitas pelari, pesepeda, hingga keluarga yang ingin bersantai.
Akses menuju jembatan juga cukup mudah dengan area parkir yang luas untuk pengunjung yang datang dengan kendaraan pribadi. Banyak warga datang bukan hanya untuk berolahraga, tetapi juga menikmati senja yang memukau—berpadu dengan laut, hilir mudik kapal nelayan, serta langit jingga yang menciptakan suasana tenang dan inspiratif.
“Kalau tidak berolahraga, kita bisa duduk menikmati senja. Setelah itu bisa lanjut salat Magrib di Masjid Nur Ilahi Dompak,” ujar Sandy. Meski memiliki potensi sebagai destinasi wisata dan olahraga, kondisi jembatan sempat menjadi sorotan akibat beberapa tiang penerangan yang rusak dan patah.
Warga berharap pemerintah terus melakukan perawatan berkala agar kenyamanan dan estetika Jembatan Dompak tetap terjaga. “Kalau fasilitas yang rusak diperbaiki dan dipercantik lagi, bukan tidak mungkin jembatan ini bisa menjadi ikon sport tourism sekaligus mendukung wisata keluarga,” tambah Sandy.
Anggaran Pemeliharaan Infrastruktur
Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan (PUPRP) Kepri menyatakan siap menggelontorkan anggaran sebesar Rp70 miliar untuk memperbaiki dan memelihara infrastruktur jalan dan jembatan. Kepala Dinas PUPRP Kepri, Rodi Yantari, menyebut bahwa anggaran tersebut difokuskan pada infrastruktur provinsi, termasuk Jembatan Dompak.
“Untuk jalan-jalan yang masuk dalam kewenangan provinsi, seperti kawasan Gurindam dan Jembatan Dompak, kami akan menangani pemeliharaannya,” jelasnya. Pemprov Kepri akan memaksimalkan anggaran pemeliharaan tersebut demi mendukung kelancaran transportasi dan kenyamanan publik.
Sejarah Pembangunandan Rintangan
Pembangunan Jembatan Dompak melalui sejarah panjang dan berbagai rintangan. Gagasan awalnya berasal dari mantan Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah, pada 2006. Dua lokasi—Senggarang dan Pulau Dompak—menjadi kandidat lokasi pembangunan. Akhirnya, Pulau Dompak di Kecamatan Bukit Bestari dipilih sebagai lokasi utama.
Perencanaan awal dimulai pada 2007, mencakup tiga paket pembangunan untuk tiga jembatan, yakni Jembatan I, II, dan III. Secara mengejutkan, Jembatan II dan III selesai lebih dahulu, sementara pembangunan Jembatan I terkendala pembebasan lahan.
Pada 2010, proyek Jembatan I sempat terhenti karena kontraktor tidak mampu menyelesaikan pembangunan. Pembangunan baru dilanjutkan kembali pada 2014 oleh Gubernur HM Sani (alm). Namun, pada 2015, musibah terjadi—bagian Jembatan I ambruk di sisi Pulau Dompak.
Setelah melewati berbagai kendala, akhirnya pembangunan rampung pada 2016. Pemerintah sempat merencanakan beberapa nama untuk jembatan ini. Nama “Hang Tuah” diusulkan dan disetujui Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, kemudian berganti menjadi “Jembatan HM Sani” untuk menghormati kontribusi beliau terhadap pembangunan Kepri.
Pada era Gubernur Nurdin Basirun, nama diusulkan kembali menjadi “Jembatan Sultan Mahmud Riayat Syah”. Namun, hingga kini, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama populer: Jembatan Dompak. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG