Buka konten ini

Anambas (BP) – Krisis listrik yang melanda Kabupaten Kepulauan Anambas mendapat sorotan serius dari Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Mustamin Bakri. Ia menilai, akar persoalan gangguan pasokan listrik di wilayah perbatasan itu adalah kondisi mesin pembangkit PLN yang sudah terlalu tua dan tak lagi layak dioperasikan.
“Ini bukan cuma terjadi di Anambas. Natuna juga mengalami hal serupa. Rata-rata mesin pembangkitnya sudah berusia lebih dari 10 tahun. Tentu tidak bisa terus dipaksakan,’’ kata Mustamin kepada Batam Pos, Senin (4/8).
Ia mengungkapkan, belum lama ini dua pulau di Natuna, yakni Sedanau dan Serasan, juga mengalami pemadaman bergilir akibat kerusakan mesin. Menurutnya, kondisi ini tak bisa dibiarkan dan harus segera ditangani.
“Saya akan bawa masalah ini ke Pemprov Kepri dan PLN wilayah Riau Kepri agar peremajaan mesin pembangkit bisa diprioritaskan untuk Natuna dan Anambas,’’ tegasnya.
Mustamin juga menyinggung program Pemprov Kepri bertajuk Kepri Terang yang digadang-gadang untuk menjamin ketersediaan listrik di seluruh wilayah. Ia berharap program itu tak hanya menjadi slogan semata.
“Program Kepri Terang seharusnya menjadi momentum mempercepat pembenahan pasokan listrik, terutama di daerah-daerah terluar seperti Natuna dan Anambas yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan,’’ ujarnya.
Saat ini, Pulau Siantan di Kabupaten Anambas mengalami defisit listrik sebesar 800 kilowatt (kW) setelah dua unit mesin pembangkit PLN MTU 3 dan MTU 4 mengalami kerusakan. Kapasitas daya yang tersedia tinggal 2.400 kW, sementara kebutuhan listrik warga mencapai 3.200 kW.
Akibat ketimpangan tersebut, PLN terpaksa memberlakukan pemadaman bergilir dua kali dalam sehari, dengan durasi total hingga 10 jam. Krisis ini berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, pelaku usaha, hingga layanan publik.
Mustamin mendorong agar Pemprov Kepri dan PLN segera mengambil langkah konkret. “Jangan sampai masyarakat dirugikan karena keterbatasan pasokan listrik. Ini kebutuhan dasar yang harus dipenuhi,” ujarnya mengakhiri. (*)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GALIH ADI SAPUTRO