Buka konten ini

UEA (BP) – Uni Emirat Arab (UEA) tengah dilanda gelombang panas ekstrem. Suhu udara mendekati rekor tertinggi dalam sejarah negeri kaya minyak itu, setelah musim semi terpanas yang pernah tercatat sepanjang pencatatan meteorologi di sana.
Menurut Pusat Meteorologi Nasional (NCM) yang dilansir dari channelnewsasia.com, suhu di kota gurun Sweihan menyentuh 51,8 derajat celsius pada Jumat (1/8). Angka ini nyaris menyamai rekor sepanjang masa di UEA, yakni 52,1 derajat celsius, yang juga terjadi di Sweihan pada Juli 2002.
Kondisi ini tak berdiri sendiri. NCM menyebutkan, April dan Mei 2025 adalah bulan-bulan terpanas yang pernah dialami negara tersebut. Suhu ekstrem juga tercatat konsisten di wilayah pedalaman, yang selama Juni dan Juli mencatat suhu harian di atas 50 derajat celsius.
Di wilayah pesisir seperti Dubai dan Abu Dhabi, suhu pun tak kalah menyengat. Rata-rata harian berada di kisaran 40 derajat Celsius, meskipun kelembapan tinggi memperparah rasa panas di tubuh.
Gelombang panas ini menjadi bagian dari pola yang lebih luas, pemanasan global yang kian nyata. Tahun lalu, suhu rata-rata dunia tercatat 1,5 derajat celsius lebih tinggi dibandingkan masa praindustri. Ini menjadikannya tahun terpanas dalam sejarah modern.
NCM memperkirakan, suhu pada sisa musim panas tahun ini akan tetap lebih tinggi dari biasanya. Rata-rata suhu Agustus diprediksi 0,25 hingga 0,5 derajat celsius di atas normal bulanan.
Pemerintah pun mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya pada siang hari. Namun, anjuran ini sulit dipatuhi oleh sebagian kelompok, terutama mereka yang bekerja di sektor luar ruangan seperti konstruksi dan pertanian.
“Kita saja sudah mengeluh padahal duduk di ruangan ber-AC… Mereka (para pekerja luar ruangan) bekerja nyaris 24 jam sehari di tengah panas seperti ini,” kata Yasir Shahad, seorang wisatawan asal Australia, yang ditemui saat berkunjung ke Dubai.
Fenomena ini mengundang perhatian berbagai kalangan, termasuk para ilmuwan iklim yang menyerukan perlunya langkah nyata menghadapi krisis iklim. Jika tak ada upaya global menekan emisi, suhu ekstrem seperti ini bisa menjadi hal biasa dalam beberapa dekade mendatang. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO