
BATAM KOTA (BP) – PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Regional 1 Batam tengah bersiap menghidupkan kembali geliat maritim nasional melalui pengelolaan area labuh jangkar strategis di perairan Pulau Nipah, Batam. Saat ini, Pelindo masih menanti finalisasi proses konsesi dari Kementerian Perhubungan RI.
General Manager Pelindo Regional 1 Batam, Digdo Widiono, mengungkapkan bahwa jika konsesi disetujui, Nipah berpeluang besar menjadi kawasan maritim unggulan yang mampu bersaing dengan pelabuhan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
“Area labuh jangkar di Nipah sedang kami ajukan proses konsesinya ke Kemenhub. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi dan kami bisa diberi amanah penuh untuk mengelola,” kata Digdo, kemarin.
Pulau Nipah memiliki posisi sangat strategis di jalur pelayaran internasional Selat Malaka. Kawasan ini dilintasi ribuan kapal setiap bulannya, terutama kapal-kapal dari Asia Timur menuju Eropa dan Timur Tengah. Namun, aktivitas maritim seperti ship-to-ship transfer (STS) dan lay-up kapal masih didominasi pelabuhan luar negeri.
“Kapal-kapal lebih memilih negara tetangga untuk aktivitas STS dan parkir jangka panjang. Padahal posisi kita sangat potensial. Ini yang ingin kami ubah,” ujar Digdo.
Pelindo menargetkan, jika konsesi disetujui, akan menghadirkan berbagai layanan marine seperti pemanduan (pandu), penundaan (tunda) kapal, STS service, waiting area (tempat tunggu kapal), hingga fasilitas lay-up untuk kapal-kapal besar.
“Kami siap bersaing. Meskipun hanya sebagian kecil dari lalu lintas kapal yang saat ini ke Singapura atau Malaysia bisa kita tarik, dampaknya akan sangat besar bagi ekonomi daerah,” tegasnya.
Saat ini, Pelindo sudah menjalin kerja sama operasional dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk mengelola layanan jasa kepelabuhanan di Batam, khususnya pada aspek layanan pandu dan tunda di pelabuhan yang dikelola oleh BP Batam.
“Pelabuhan di Batam dikelola oleh BP Batam, dan kami dari Pelindo berperan melalui kerja sama dalam pengelolaan layanan marine,” jelas Digdo.
Namun, fokus pada area labuh jangkar di Nipah menjadi langkah strategis Pelindo dalam memperluas layanan sekaligus menarik minat pelaku industri maritim untuk kembali berkegiatan di perairan Indonesia.
Menurut kajian Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), skema konsesi yang tengah diajukan untuk kawasan Nipah berjangka panjang, yakni 30 tahun. Digdo memastikan, Pelindo telah menyiapkan rencana operasional secara bertahap begitu izin konsesi disetujui.
“Kami akan siapkan armada pandu dan tunda, tenaga kerja profesional, serta infrastruktur pendukung lainnya. Kami ingin kawasan ini benar-benar hidup dan memberikan kontribusi besar bagi ekonomi maritim Kepri dan Indonesia secara luas,” pungkasnya. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI