Buka konten ini
Muhammad Arsenio Kalandra Delano mendapat kesempatan langka. Bocah berusia 8 tahun itu terpilih sebagai Stadium Captain alias pembawa bola pertandingan dalam dua laga penting ASEAN U-23 Championship 2025: semifinal Timnas Indonesia kontra Thailand (25/7) dan final melawan Vietnam (29/7) di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan.
Wajahnya selalu sumringah tiap kali keluar dari lorong stadion. Mengenakan seragam resmi, Arsenio terlihat percaya diri saat menyerahkan bola pertandingan kepada wasit. Ada satu hal unik: ia menyalami dan mencium tangan wasit sebelum menyerahkan bola, simbol penghormatan khas budaya Indonesia.
”Karena ini pertandingan internasional, kami ingin menunjukkan ke negara lain bahwa kita punya adat istiadat. Bahwa anak-anak Indonesia menghormati yang lebih tua,” ujar sang ibu, Adel Dachlan, saat ditemui Jawa Pos di kawasan SUGBK, kemarin.
Adel menjelaskan bahwa pemilihan Arsenio sebagai Stadium Captain berasal dari permintaan sponsor, dengan syarat pernah tampil sebagai player escort. Arsenio sebelumnya memang pernah mendampingi kapten timnas, Jay Idzes, dalam laga Kualifikasi Piala Dunia melawan Arab Saudi, 19 November 2024. ”Karena sudah pernah tampil, mungkin supaya lebih berani tampil di tengah lapangan,” ujarnya.
Pengalaman itu menjadi istimewa karena konsep Stadium Captain ini baru pertama kali diterapkan di Indonesia. Biasanya, anak-anak hanya menggandeng wasit saat masuk ke lapangan. Kali ini berbeda: Arsenio mengambil sendiri bola dari podium, menyalami wasit, lalu menyerahkannya.
Arsenio sendiri sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan sepak bola. Siswa SDIT Al Azkar, Pamulang, Tangerang Selatan, itu justru lebih aktif dalam taekwondo. Ia kini sudah menyandang sabuk hijau strip biru. Selain itu, ia juga suka memanah dan bermain sepatu roda.
”Jadi lucunya gini. Waktu itu saya ajak nonton kualifikasi Piala Dunia. Setelah selesai, saya tanya, ’Gimana, Nak? Seru nggak?’ Dia cuma jawab, ’Lumayan’. Emang gayanya begitu,” ucap Adel sambil tertawa.
Bahkan, saat ditanya apakah ingin jadi pemain bola, Arsenio malah balik bertanya, ”Kenapa sih, Mami, harus jadi pemain bola? Kejar-kejar bola, nyari duit. Abang jadi Presiden FIFA aja deh.”
Jawaban itu bukan asal ucap. Arsenio sudah tahu bahwa FIFA adalah organisasi tertinggi sepak bola dunia, dan belum pernah dipimpin oleh orang Indonesia. Informasi itu ia dapat dari sang ibu.
”Saya bilang, nggak pernah. Selalu orang Eropa. Dia langsung jawab, ’Oke, nanti Abang jadi Presiden FIFA aja kalau gitu’,” kata Adel menirukan.
Menurut Adel, pemikiran anaknya memang tidak biasa. ”Teman-temannya banyak yang pengin jadi YouTuber atau pemain bola. Dia enggak. Dia pengin jadi Presiden FIFA dan Hafiz Qur’an,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI