Buka konten ini
Untuk bisa berkarya tak pernah mengenal usia. Yang Hong membuktikan, di usia 51 tahun, ia saat ini bukan halangan untuk tetap bisa produktif dari rumah, bahkan hobinya bisa menjadi sumber penghasilan.

Di usia yang tak lagi muda, Yang Hong, 51, adalah seorang ibu rumah tangga (IRT), yang memiliki hobi merajut. Ia tertarik dengan kegiatan merajut sejak usia remaja, saat melihat temannya dan memutuskan untuk ikut belajar, barang yang pertama kali ia buat adalah alas atau taplak kaki dan kotak tisu.
”Saya Sheryl, usia 19 tahun, anak bungsu yang membantu mama mengelola sosial media dan juga penjualan,” ujar Sheryl memperkenalkan diri.
Selama menjalani kehidupannya, Yang Hong sempat terkena stroke di salah satu tangan dan kakinya, saat melahirkan anak pertamanya, yakni kakak tertuanya Sheryl. Walaupun begitu, Yang Hong tetap bisa melakukan pekerjaan rumah dan membuat kerajinan, untuk menghilangkan rasa jenuh, terlebih saat itu sedang pandemi Covid-19.
”Kebetulan saat itu ada game namanya among us sedang viral, terus abang saya yaitu anak kedua, meminta mama untuk merajut among us, dan ternyata banyak yang order,” papar Sheryl antusias.
Sejak saat itu, kakak pertama Sheryl melihat ada peluang dan menyarani dirinya untuk mulai mencari tahu cara berjualan secara online. Bermula dari situ, Sheryl mulai membantu mamanya berjualan, dan memberi nama usahanya mom’s crochet, karena itu rajutan mamanya.
”Secara resmi mulai jualan itu di tahun 2022, tapi sayangnya saya gak begitu aktif promosi secara online, karena masih remaja dan sekolah,” ungkapnya.
Sembari bersekolah, Sheryl tidak lupa untuk mempromosikan ke teman-teman sekolahnya, ternyata banyak yang tertarik dengan rajutan mamanya, dan diantaranya banyak yang memesan gantungan kunci.
Sheryl bercerita, sedari kecil mamanya belajar menjahit dan belajar memotong rambut dari neneknya Sheryl, atau mamanya Yang Hong. Sedangkan untuk merajut, pertama kali Yang Hong belajar secara otodidak dengan memerhatikan bagaimana temannya merajut, lalu setelah adanya berbagai platform, Yang Hong belajar membuat barang lainnya seperti boneka, tas, dan topi.
”Bisa dibilang mama hebat dalam hal yang berhubungan dengan tangan,” ucap Sheryl.
Beberapa produk yang tersedia di mom’s crochet diantaranya, gantungan kunci, tas, topi, dompet, pouch, bandana, baju boneka seperti labubu, dan keycover. Harga mulai dari Rp15 ribu, sesuai dengan tingkat kesulitan permintaan dari pelanggan, dan omzet yang didapat sekitar Rp6-7 juta perbulannya.
”Yang paling laku itu gantungan kunci, terutama gantungan kunci capybara dan karakter anime, setelah di rajut dan baru di display langsung sold out,” bebernya.
Selain menyediakan produk ready, untuk penjualan secara offline, seperti mengikuti event atau pameran, mom’s crochet juga menerima orderan custom sesuai permintaan pelanggan, dengan jumlah pemesanan yang terbatas, dan untuk pemesanan bisa melalui dm Instagram @moms.crochet.id.
”Karena mama buatnya sendiri, jadi dalam sekali PO cuma nerima 7 sampai 10 orderan saja,” terang Sheryl.
Baginya, belajar merajut ternyata tidak semudah itu, tahapan paling sulit adalah bagian menyulam, karena membutuhkan kesabaran serta ketelitian, dan akan sangat puas rasanya ketika hasilnya sesuai ekspektasi dari permintaan pelanggan, karena waktu dan tenaga yang dikeluarkan tidak sia-sia.
Sheryl berharap, kerajinan dan produk buatan tangan bisa lebih dihargai di Indonesia, serta target kedepannya ia ingin hadir di event-event besar lainnya dan mulai dikenali karyanya.
”Tidak ada salahnya memulai usaha dari skala kecil, seperti menawarkan ke teman atau kenalan. Yang terpenting adalah punya keberanian untuk memulai, karena setiap langkah kecil bisa menjadi awal dari sesuatu yang besar,” ujarnya di akhir perbincangan. (***)
Reporter : TIA CAHYA NURANI
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI