Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Mendapatkan kulit wajah sempurna dan mulus adalah impian banyak orang di masa kini. Namun, untuk mencapainya, penting sekali memperhatikan setiap bahan yang terkandung dalam produk perawatan kulit Anda. Beberapa bahan umum ternyata bukan berasal dari tumbuhan.
Melansir dari VegOutMag.com , bahan-bahan ini sering kali melibatkan eksploitasi hewan dalam proses produksinya. Bagi Anda yang mendambakan kulit tanpa cela dan ingin melakukan pilihan etis, tujuh bahan non-vegan ini wajib dihindari. Mari kita kupas lebih dalam satu per satu.
1. Lanolin
Lanolin adalah pelembap yang berasal dari bulu domba dan sering diekstraksi dengan cara eksploitatif. Produk ini umum ditemukan pada berbagai produk kecantikan. Sebagai gantinya, Anda bisa memilih emolien nabati.
Shea butter, minyak jojoba, atau cupuaçu butter adalah alternatif hebat yang sama efektifnya. Bahan-bahan ini menawarkan hidrasi tanpa kompromi etika.
2. Carmine
Pigmen merah bernama carmine ini dihasilkan dari serangga cochineal yang dihancurkan. Bahan ini sering digunakan dalam kosmetik untuk memberikan warna. Untungnya, ada banyak alternatif vegan.
Merek seperti Axiology dan E.L.F. telah menggunakan bit, lobak, atau pewarna sintetis vegan. Pilihan ini memastikan warna yang sama cerahnya tanpa melibatkan serangga.
3. Kolagen
Kolagen adalah protein struktural yang umumnya diambil dari jaringan ikat hewan, seperti sapi atau ikan. Kolagen topikal tidak dapat menembus kulit secara mendalam. Anda dapat memilih pendorong kolagen vegan. Peptida nabati dan vitamin tertentu bisa menjadi pendorong kolagen yang hebat. Bakuchiol dan jamur tremella juga menawarkan manfaat serupa untuk kulit.
4. Beeswax
Lilin lebah ini diproduksi oleh lebah untuk sarang madu mereka. Praktik peternakan lebah komersial bisa merugikan koloni lebah itu sendiri. Ada beberapa lilin nabati yang dapat menggantikannya.
Lilin candelilla, lilin carnauba, atau lilin bekatul adalah alternatif berbasis tumbuhan yang baik. Bahan-bahan ini berfungsi sama baiknya dalam produk kecantikan.
5. Squalene (dari Hiu)
Squalene adalah lipid yang awalnya berasal dari minyak hati ikan hiu. Penggunaannya berkontribusi pada penangkapan ikan berlebihan di lautan lepas. Ada alternatif nabati yang aman dan efektif.
Squalane (dengan ”a”) berbasis tumbuhan dari zaitun, tebu, atau bekatul. Bahan ini bekerja sama efektifnya tanpa membahayakan kehidupan laut.
6. Ekstrak Plasenta
Ekstrak ini berasal dari plasenta hewan, seperti babi atau domba, dan digunakan dalam krim anti-penuaan. Produksinya seringkali tidak transparan dan menimbulkan banyak pertanyaan etis. Ada banyak pilihan nabati yang dapat dijadikan penggantinya.
Peptida berbasis tumbuhan, lidah buaya, dan bakuchiol menawarkan manfaat serupa. Bahan-bahan ini memberikan hasil yang diinginkan tanpa isu etika.
7. Stearic Acid (dari Lemak Hewan)
Asam stearat adalah asam lemak yang dapat berasal dari tumbuhan atau hewan. Namun, ketika berasal dari hewan, bahan ini sering bersumber dari hasil sampingan rumah potong hewan. Penting untuk memeriksa labelnya.
Pastikan Anda mencari merek yang secara jelas menyatakan ”berasal dari tumbuhan”. Alternatif seperti asam palmitat dari minyak sawit atau kelapa adalah pilihan baik.
Menghindari bahan-bahan ini bukan hanya tentang mencapai kulit yang sempurna. Ini juga tentang membuat pilihan yang selaras dengan nilai-nilai etis Anda. Kesadaran akan bahan-bahan ini memberdayakan Anda sebagai konsumen.
Dengan memeriksa setiap daftar bahan produk perawatan kulit secara cermat, Anda bisa menciptakan rutinitas kecantikan yang benar-benar tanpa cela dan beretika. Memilih kecantikan yang sadar berarti memilih kebaikan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : Alfian Lumban gaol