Buka konten ini

Di tengah geliat pertumbuhan kedai kopi dan kafe kekinian, ada satu jenis kopi yang kini melekat kuat di lidah dan hati anak muda Tanjungpinang. Kopi itu bernama Kopi Way.
SEJAK 2024, Kopi Way mulai dikenal masyarakat, khususnya anak-anak muda, sebagai kopi yang kaya rasa dan berbeda dari yang lain. Kopi Way terasa lebih lembut, lebih harum, namun tetap halus di tenggorokan.
Selain soal rasa, racikan khas Kopi Way juga menyimpan cerita tentang branding atau penjenamaan nama yang unik dan bermakna.
Pencetus Kopi Way, Herri Wijaya (35), mengatakan filosofi nama Kopi Way terinspirasi dari sapaan akrab khas Melayu, yaitu “way” yang berarti ajakan atau kawan. “Nama Kopi Way itu mudah diingat dan ada unsur khas Melayu Tanjungpinang,” kata Herri saat ditemui di outlet Kopi Way, Jalan Sumatera, Tanjungpinang, Jumat (1/8).
Menurut Herri, kekayaan rasa Kopi Way berasal dari proses pengolahan yang dikerjakan tangan-tangan terampil—baik roaster maupun barista bersertifikasi—yang semuanya adalah anak tempatan Tanjungpinang. Kopi Way diolah dari biji kopi mentah jenis robusta dan arabika yang dimasak serta digiling sendiri.
Biji kopi mentah tersebut diproses roasting menggunakan mesin roastery. “Biji kopi mentah kami datangkan langsung dari petani di Temanggung, Jawa Tengah, dan Kerinci, Jambi,” ungkap roaster bersertifikasi itu.
Setelah proses roasting, bubuk kopi kemudian diseduh dengan teknik tubruk khas tangan-tangan barista asli Tanjungpinang.
“Kopi disajikan dingin, ditambah susu kental atau gula aren. Bisa juga dibuat jadi Americano, matcha, atau cokelat, tergantung selera pelanggan,” jelas Herri.
Ia menambahkan, Kopi Way didistribusikan dengan cara dan konsep yang berbeda. Kopi ini dijual menggunakan gerobak listrik, baik secara keliling maupun menetap di sejumlah titik di Tanjungpinang.
“Kalau di outlet hanya bisa take and away, artinya pesan, bayar, dan langsung dibawa pulang,” terangnya.
Kini, Kopi Way telah menjelma menjadi minuman khas Tanjungpinang yang menyatu dengan cita rasa lokal dan nuansa budaya Melayu. Dalam setiap teguknya, tersimpan kenikmatan kopi yang tak tergantikan.
“Harga pas di kantong, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu,” tutupnya. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG