Buka konten ini

GAZA (BP) – Krisis kemanusiaan di Gaza yang terus memburuk mendorong Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengirimkan utusan khususnya untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, ke Israel. Dilansir channelnewsasia.com, Steve Witkoff tiba di Tel Aviv pada Kamis (31/7) guna membahas penyelesaian konflik berkepanjangan yang telah menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan membuat jutaan lainnya kelaparan.
Konflik yang telah berlangsung selama hampir 22 bulan itu kini menuai kritik tajam dari berbagai negara. Akses bantuan masih tersendat, sementara penembakan terhadap warga sipil kembali terjadi.
Pada Rabu malam (30/7), Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan sedikitnya 58 warga Palestina tewas saat berkerumun untuk menghentikan konvoi bantuan kemanusiaan di wilayah utara. Mereka ditembak oleh tentara Israel yang menyebut aksi tersebut sebagai ”tembakan peringatan”.
Militer Israel mengklaim tidak mengetahui adanya korban jiwa dalam insiden itu. Namun, koresponden Agence France-Presse (AFP) menyaksikan sendiri jenazah-jenazah penuh luka tembak di Rumah Sakit al-Shifa, Gaza.
“Saat orang-orang melihat makanan dijarah dan dijatuhkan dari truk, kerumunan yang kelaparan langsung menyerbu, berharap bisa ikut mendapat bagian,” ujar Jameel Ashour, warga Gaza yang kehilangan kerabatnya dalam insiden tersebut, kepada AFP di ruang jenazah yang penuh sesak.
Misi Diplomatik dan Jalan Buntu Negosiasi
Steve Witkoff dijadwalkan bertemu langsung dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk membahas kelanjutan proses negosiasi dan pembukaan jalur bantuan. Ia juga direncanakan mengunjungi organisasi kemanusiaan yang didukung AS, yang bertugas menyalurkan bantuan pangan di Gaza.
Witkoff sendiri merupakan utusan utama Washington dalam proses negosiasi tidak langsung antara Israel dan Hamas. Namun, perundingan tersebut menemui jalan buntu sejak pekan lalu, setelah delegasi dari AS dan Israel ditarik dari Doha.
Sementara itu, tekanan internasional terhadap Israel terus meningkat. Negara-negara Barat mulai secara terbuka mempertimbangkan pengakuan terhadap negara Palestina. Kanada menjadi yang terbaru, menyusul Prancis dan Inggris.
Trump Vs Netanyahu: Retak di Tengah Perang
Selama ini Trump dikenal sebagai pembela setia Israel di panggung dunia. Namun, ketegangan mulai terlihat. Awal pekan ini, Trump menyatakan bahwa kelaparan di Gaza adalah “nyata” dan berjanji memperbesar bantuan kemanusiaan. Pernyataan itu kontras dengan klaim Netanyahu yang menyebut laporan kelaparan sebagai hal yang dilebih-lebihkan.
Laporan PBB dan foto-foto anak-anak kurus kering di Gaza terus menyulut kemarahan dunia. Bahkan, kelompok konservatif pro-Trump di AS, yang dikenal sebagai basis Make America Great Again (MAGA), mulai menunjukkan keraguan terhadap Israel.
Kekhawatiran ini tampaknya memengaruhi arah kebijakan Trump. Ia mulai menimbang ulang posisi AS di konflik tersebut, terutama terkait pencitraannya menjelang pemilu.
Di sisi lain, Israel juga mendapat tekanan dari sekutu tradisionalnya. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul tiba di Yerusalem pada Kamis untuk bertemu Netanyahu dan Menlu Israel Gideon Saar.
Kepungan Lapar dan Ancaman Peluru
Penderitaan rakyat Gaza semakin tak tertahankan. Dalam insiden terbaru, truk bantuan yang memasuki Gaza melalui pos militer Israel di Zikim—menuju gudang World Central Kitchen dan World Food Programme—dicegat ribuan warga yang kelaparan. Ketika kerumunan memaksa mendekat, tembakan pun pecah.
Pemerintah Hamas kemudian mengimbau warga untuk tidak menjarah konvoi bantuan berikutnya. Pasalnya, truk tersebut hanya membawa pasokan medis, bukan makanan.
Kamis, Badan Pertahanan Sipil Gaza kembali melaporkan 32 korban jiwa akibat serangan udara Israel di berbagai wilayah.
Menurut data resmi, sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.219 orang, konflik ini telah menewaskan 60.249 warga Palestina. Dari 251 sandera yang diculik pada hari itu, 49 masih ditahan di Gaza dan 27 di antaranya telah dinyatakan tewas oleh militer Israel. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO