Buka konten ini

CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan perkembangan pembelian 50 unit pesawat Boeing 777 dari Amerika Serikat (AS) yang menjadi bagian dari kesepakatan dagang dengan pemerintah negeri Paman Sam itu.
Rosan menyebut, Garuda Indonesia baru menerima 1 unit pesawat dari Boeing. Sehingga, masih ada sebanyak 49 unit pesawat yang belum dikirim.
”Pembelian 50 pesawat Boeing itu, yang sudah ter-delivery, yang sudah terkirim itu baru 1,” kata Rosan saat ditemui usai Konpers Capaian Realisasi Investasi di Kantornya, Rabu (30/7).
Lebih lanjut dia membeberkan, untuk sisanya pengiriman baru akan dilakukan pada 6-7 tahun mendatang, yakni sekitar tahun 2031-2032. Hal ini seiring dengan produksi yang baru akan dilakukan oleh perusahaan Boeing.
”Karena delivery-nya ini untuk Boeing sekarang yang baru itu paling cepat adalah tahun 2031-2032 untuk pesawat yang baru,” beber Rosan.
Itu sebabnya, kata dia, Danantara sendiri meminta manajemen Garuda untuk melakukan optimalisasi dari pesawat yang ada. Mulai dari perbaikan hingga melakukan peningkatan rata-rata atau average penerbangan.
Ia menyebut, idealnya rata-rata penerbangan setiap maskapai adalah 12 jam per hari. Sedangkan Garuda Indonesia baru mencapai 5 jam per hari.
”Itu kita bilang di-benerin dulu (pesawat-pesawat grounded) supaya mereka bisa terbang. Karena sekarang Garuda average terbang pesawatnya itu per jam per hari baru 5 jam. Idealnya 12 jam,” tutur Rosan.
Sebelumnya, Gedung Putih telah merilis pernyataan bersama yang mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Indonesia telah mencapai kesepakatan mengenai kerangka kerja perjanjian perdagangan.
Dalam kesepakatan itu, Amerika Serikat akan memberlakukan tarif sebesar 19 persen terhadap produk impor asal Indonesia. Salah satu poin kesepakatan antara AS dan Indonesia, yakni pengadaan pesawat senilai USD 3,2 miliar.
Secara terpisah, Maskapai Garuda Indonesia, merencanakan akan menambah jumlah armada dengan membeli sebanyak 50-75 pesawat Boeing dari Amerika Serikat (AS). Untuk diketahui, Boeing adalah perusahaan kedirgantaraan yang merupakan produsen pesawat terbesar di dunia.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani memastikan rencana pembelian ini menjadi salah satu upaya dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk merayu AS di tengah proses negosiasi tarif resiprokal yang dikenakan Presiden Donald Trump dan bakal jatuh tempo pada Rabu (9/7) lalu.
”Iya, sama Boeing-lah. Kita masih penjajakan untuk kemungkinan pembelian pesawat Boeing,” kata Wamildan Tsani kepada wartawan usai rapat koordinasi di Kemenko Perekonomian beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, Wamildan menyebut berdasarkan rencana puluhan pesawat yang akan dibeli oleh maskapai pelat merah diantaranya, yaitu tipe 737 max dan 787. Meski begitu, ia belum bisa memastikan secara detail soal nominal transaksi hingga tipe apa saja yang akan diborong Garuda Indonesia.
Dia hanya mengatakan bahwa seluruh hal terkait rencana ini masih dalam tahap pembicaraan. Wamildan meminta seluruh pihak untuk terus menunggu kabar terbaru, jika komitmen antara keduanya sudah terjalin dan memasuki dalam kesepakatan final.
”Antara 50-75 pesawat. Tipe 737 Max. Ada 737, ada 787, makanya masih dalam tahap pembicaraan,” ujar Wamildan.
”Ditunggu aja, ya. Nilainya nanti deh, kan masih dalam tahap pembicaraan,” pungkasnya. (***)
Reporter : JP Group
Editor : Gustia Benny