Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Toxic productivity merupakan kondisi di mana seseorang kesusahan menemukan keseimbangan sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Alih-alih menjadi pendorong kesuksesan, dorongan selalu produktif ini malah membuat stres, kelelahan, dan mengorbankan waktu istirahat yang sangat dibutuhkan. Ketika produktivitas menjadi beban yang tak tertahankan, tubuh dan pikiran pun mulai memberi tanda bahwa ada yang salah.
Memahami dan mengenali toxic productivity menjadi langkah penting supaya kita bisa kembali membangun rutinitas kerja yang lebih sehat dan seimbang, tanpa harus mengorbankan kebahagiaan dan kesehatan. Merangkum Better Up, berikut ini beberapa penyebab terjadinya toxic productivity pada seseorang yang membuatnya merasa tak ada waktu beristirahat.
1. Takut Gagal atau Tidak Mampu
Banyak orang terdorong untuk terus bekerja keras dan menghasilkan sebanyak mungkin akibat rasa takut tidak cukup atau merasa kurang berharga. Ketakutan ini umumnya memicu dorongan yang sangat kuat untuk terus maju, walaupun itu berarti mengabaikan kesehatan mental dan fisik mereka.
Sayangnya, produktivitas yang didasarkan pada ketakutan semacam ini tidaklah sehat. Dalam jangka panjang, tekanan yang terus menerus tanpa jeda bisa menyebabkan kelelahan, stres berkepanjangan, dan bahkan burnout. Ini merupakan tanda bahwa produktivitas bukan lagi alat untuk berkembang, tetapi sudah menjadi beban yang merusak kesejahteraan.
Penting untuk menyadari bahwa kamu layak memperoleh waktu istirahat dan perawatan diri. Membangun produktivitas yang seimbang yang mendorong kemajuan tanpa mengorbankan kesehatan adalah kunci dalam mencapai kesuksesan yang berkelanjutan dan kualitas hidup yang lebih baik.
2. Tekanan Sosial
Seringkali, tekanan dari lingkungan sekitar dan harapan masyarakat membuat kita terdorong untuk terus bekerja lebih keras tanpa henti. Rasa ingin berkontribusi secara aktif dan diterima oleh komunitas atau lingkungan sosial dapat berubah menjadi beban berat yang memicu produktivitas toksik.
Ketika tekanan eksternal ini semakin kuat, maka kamu mungkin merasa seolah-olah tidak boleh berhenti atau beristirahat, sebab takut dianggap kurang berdedikasi atau gagal memenuhi ekspektasi. Padahal, kondisi seperti ini justru berisiko mengorbankan kesejahteraan mental dan fisikmu.
Mengenali pengaruh tekanan sosial ini menjadi langkah penting agar mulai menetapkan batasan sehat.
Dengan begitu, kamu bisa tetap produktif dengan cara yang lebih bijak dan berkelanjutan, sehingga tanpa kehilangan keseimbangan hidup dan kebahagiaan pribadi.
3. Budaya Membandingkan
Membandingkan pencapaian diri dengan orang lain adalah sesuatu yang sangat wajar dan hampir dialami oleh semua orang. Dalam banyak kasus, budaya membandingkan ini dapat memicu motivasi positif, mendorong kita untuk bekerja lebih keras dan berupaya mencapai hasil yang lebih baik daripada rekan-rekan di sekitar.
Di sisi lain, kebiasaan membandingkan diri juga bisa berubah menjadi beban mental yang berat. Ketika fokus hanya pada siapa yang lebih unggul atau sukses, kita berisiko kehilangan perspektif akan nilai diri sendiri dan mulai merasa kurang puas dengan pencapaian yang sudah diraih.
Kunci dari budaya membandingkan ini adalah mengenali batasnya. Jadikan perbandingan sebagai alat berkembang, bukan sebagai sumber stres atau rasa rendah diri. Dengan cara ini, kamu dapat tetap termotivasi sekaligus menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan dalam perjalanan menuju kesuksesan pribadi.
4. Harapan yang Dipaksakan Sendiri
Baik karena cara kita dibesarkan atau tipe kepribadian yang kita miliki, tak jarang kita menetapkan standar dan harapan yang terlalu tinggi bagi diri sendiri.
Kita merasa harus menyelesaikan segalanya dengan sempurna, atau mencapai tujuan yang sebenarnya sulit bahkan mustahil dicapai dalam waktu singkat.
Sayangnya, memaksakan diri memenuhi ekspektasi yang tidak realistis ini bukanlah langkah menuju keberhasilan. Sebaliknya, hal tersebut justru berpotensi menimbulkan kelelahan fisik dan mental, serta rasa frustasi yang terus menumpuk.
Ketika batas kemampuan kita dilampaui tanpa jeda, risiko burnout pun semakin tinggi. Penting guna belajar mengenali batasan diri dan menetapkan tujuan yang realistis serta terukur.
Dengan begitu, kamu bisa menjaga energi dan semangat tetap menyala, sambil tetap maju secara konsisten tanpa mengorbankan kesejahteraan.
5. Budaya Perusahaan
Sayangnya, tidak semua perusahaan berhasil menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan seimbang. Beberapa organisasi justru tanpa sadar mendorong toxic productivity, di mana tekanan untuk mencapai hasil maksimal menjadi prioritas utama.
Jika nilai-nilai inti di tempat kerjamu sangat menekankan pencapaian target dan hasil tanpa memberi ruang bagi kesejahteraan karyawan, kamu mungkin sering merasa terjebak dalam dorongan untuk bekerja berlebihan. Rasa terpaksa ini bisa membuatmu lupa akan pentingnya istirahat dan keseimbangan hidup.
Budaya perusahaan yang seperti ini berisiko mengakibatkan stres kronis, kelelahan, dan akhirnya menurunkan kualitas kerja secara keseluruhan.
Oleh sebab itu, penting bagi organisasi supaya tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga membangun lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan fisik karyawan agar produktivitas mampu berjalan secara berkelanjutan. (***)
Reporter : JP GRoUP
Editor : Alfian Lumban Gaol