Buka konten ini


Imunisasi terbukti menjadi langkah paling efektif dan hemat biaya dalam mencegah berbagai penyakit berbahaya pada anak. Namun, masih ada orangtua yang ragu atau bahkan enggan memberikan imunisasi lengkap bagi buah hati mereka.
Hal ini diungkapkan dr. Maulana Okta Rheza, Sp.A, Dokter Spesialis Anak di RS Awal Bros Batam dalam acara peringatan Hari Anak Nasional bertajuk “Lindungi Si Kecil: Pentingnya Imunisasi Sejak Dini” yang disiarkan secara langsung melalui Instagram Live, Rabu (23/7).
Imunisasi adalah upaya perlindungan paling dasar dan penting untuk anak. Reaksi pasca imunisasi seperti demam ringan atau nyeri di area suntikan adalah hal yang wajar dan bisa ditangani. “Jadi, itu aman-aman saja. Tidak perlu khawatir,” jelas dr. Maulana Okta Rheza, Sp.A.
Meski begitu, masih ada orangtua yang bertanya-tanya, apakah imunisasi yang diberikan di puskesmas atau posyandu sama dengan yang diberikan di rumah sakit. Menjawab hal itu, dokter Maulana menjelaskan imunisasi dibagi menjadi dua kategori besar, yaitu imunisasi program dan imunisasi non-program. Imunisasi program merupakan bagian dari program pemerintah dan terbagi lagi menjadi dua jenis: imunisasi rutin dan imunisasi tambahan.
Imunisasi rutin adalah imunisasi yang diberikan sesuai jadwal yang ditetapkan, misalnya untuk bayi, balita, anak usia sekolah, hingga remaja. Ada juga imunisasi untuk kelompok tertentu seperti pekerja atau pelajar, tergantung kebutuhan. Sementara itu, imunisasi tambahan adalah imunisasi yang diberikan saat terjadi wabah atau outbreak. Tujuannya untuk mencegah penyebaran penyakit secara luas.
Di luar itu, ada juga imunisasi pilihan. Imunisasi ini tidak termasuk dalam program pemerintah, namun tetap dianjurkan karena dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap berbagai penyakit yang berpotensi berbahaya bagi anak. “Dulu dikenal dengan istilah imunisasi dasar. Sekarang lebih tepat disebut imunisasi program rutin. Sementara imunisasi di luar program rutin disebut imunisasi pilihan,” jelasnya.
Jadi, secara urutan, ada imunisasi rutin, lalu imunisasi tambahan, dan terakhir imunisasi pilihan. Masing-masing punya manfaat penting untuk melindungi si kecil dari berbagai penyakit berbahaya.
Imunisasi program adalah yang difasilitasi pemerintah melalui puskesmas atau posyandu, seperti BCG, DPT, polio, hepatitis B, Hemofilus Influenza B serta sudah di tambahkan lagi oleh pemerintah yaitu PCV, Rotavirus dan HPV sehingga cakupan imunisasi Program lebih luas lagi. Sementara imunisasi pilihan, seperti Influenza, vaksin Hepatitis A, cacar air, Tipus dan demam berdarah biasanya tersedia di fasilitas kesehatan swasta.
“Imunisasi di posyandu dan rumah sakit memang bisa berbeda dari segi jenis vaksin, namun manfaatnya sama. Keduanya bertujuan melindungi anak dari penyakit, ujarnya.
Tak heran, jika banyak orangtua bertanya-tanya, kenapa imunisasi yang diberikan di posyandu atau fasilitas sosial masyarakat terasa berbeda dengan yang di rumah sakit?
Penjelasannya memang agak teknis, tapi sebenarnya cukup sederhana dan bisa dipahami. Secara jenis, vaksin yang digunakan pada dasarnya sama. Namun, yang membedakan biasanya adalah komposisi bahan baku dalam vaksin tersebut, misalnya pada vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus).
Ada dua jenis DPT: Whole-cellular (sel utuh) dan Acellular (tanpa sel utuh)
Vaksin DPT jenis whole-cellular cenderung memiliki risiko menyebabkan demam yang lebih tinggi setelah imunisasi. Sementara yang acellular hanya menggunakan bagian tertentu dari bakteri penyebab penyakit, sehingga efek samping seperti demam biasanya lebih ringan. Perbedaan ini bukan berarti satu lebih baik dari yang lain. Keduanya sama-sama efektif dalam membentuk kekebalan tubuh anak.
Namun, perlu diketahui, vaksin acellular umumnya lebih mahal karena proses pembuatannya lebih kompleks. Inilah yang membuatnya lebih sering tersedia di fasilitas kesehatan tertentu atau imunisasi berbayar. Vaksin DPT yang digunakan bisa berbeda dari segi komposisi, tapi tujuannya sama, yaitu melindungi anak dari penyakit berbahaya.
Pilihan antara vaksin whole-cellular dan acellular bergantung pada kebutuhan, kondisi anak, dan ketersediaan layanan. “Keduanya aman dan efektif, hanya saja efek samping ringan seperti demam bisa sedikit berbeda,” ujarnya.
Tak sedikit orangtua yang khawatir imunisasi diberikan saat anak tidak dalam kondisi prima. Dr. Maulana menjelaskan bahwa batuk-pilek ringan bukan alasan menunda imunisasi. Namun, jika anak demam tinggi atau diare berat, imunisasi sebaiknya ditunda hingga kondisi membaik. “Konsultasikan dengan dokter. Misalnya anak diare, flu batuk ringan tapi tetap aktif, imunisasi tetap bisa dilakukan,” katanya.
Terlambat Imunisasi? Bisa Kejar!
Bagaimana jika imunisasi anak tertunda karena sakit atau situasi lain, seperti pandemi COVID-19? Menurut dr. Maulana, imunisasi tetap bisa dikejar melalui program catch-up immunization. “Jangan tunggu terlalu lama. Begitu ingat, segera datang ke dokter. Tapi perlu dicatat, tidak semua vaksin bisa dikejar. Misalnya, vaksin BCG idealnya diberikan sebelum usia 1 bulan, dan vaksin rotavirus maksimal sebelum usia 6 bulan,” katanya.
Peran Orangtua:
Jangan Lupa Jadwal!
Dokter Maulana menjelaskan imunisasi adalah salah satu langkah pencegahan penyakit yang paling efektif dan efisien. Agar imunisasi lengkap, dokter Maulana mengajak orangtua lebih proaktif. Gunakan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) atau aplikasi pengingat imunisasi seperti “Primaku” dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).
“Sekarang semua serba digital. Jangan sampai lupa jadwal imunisasi si kecil. Kita harus ingat bahwa mencegah lebih baik dan jauh lebih murah dibanding mengobati,” tegasnya.
Orangtua juga harus betul-betul memahami bahwa imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit akibat virus yang sangat efektif dan juga hemat biaya. “Kalau tidak dilakukan (imunisasi), risikonya anak bisa jatuh sakit dan biaya pengobatannya jauh lebih besar,” ujar dokter Maulana.
Tak hanya itu, menurutnya saat ini pemerintah dan tenaga kesehatan telah banyak mempermudah akses informasi tentang jadwal imunisasi. Buku KIA yang biasanya diberikan kepada orangtua di fasilitas kesehatan, kini sudah dilengkapi dengan penjadwalan imunisasi yang rinci.
“Bapak-Ibu tinggal mencatat dan menyesuaikan dengan jadwal yang sudah tersedia. Bahkan sekarang sudah banyak aplikasi digital yang bisa membantu mengingatkan jadwal imunisasi anak,” lanjutnya.
Dengan adanya berbagai kemudahan ini, tak ada alasan lagi untuk melewatkan imunisasi. Karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.
Meski begitu, masih ada kelompok masyarakat yang menolak vaksin juga menjadi tantangan. Di Indonesia, khususnya wilayah Kepri, termasuk Anambas, masih ditemukan orangtua yang menolak imunisasi polio. “Biasanya ada dua alasan utama: takut anak sakit setelah imunisasi, atau merasa anak sehat-sehat saja tanpa vaksin. Ini bisa diluruskan dengan edukasi dan pendekatan yang tepat,” kata dr. Maulana.
Menutup sesi live, dr. Maulana menyampaikan pesan khusus. Seperti amanat dari berbagai kebijakan nasional, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mencetak generasi anak-anak Indonesia yang hebat. Hal ini bisa diwujudkan melalui tiga hal utama yang menjadi tiga pilar penting tumbuh kembang anak yaitu nutrisi, sanitasi dan imunisasi.
Pertama adalah nutrisi. Seluruh program pemerintah saat ini sangat menekankan pentingnya asupan gizi yang baik bagi anak. Kita bisa melihatnya dari berbagai program seperti pencegahan stunting dan upaya pemenuhan gizi anak sejak dini.
Kedua adalah sanitasi. Anak-anak perlu diajarkan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat. Lingkungan yang bersih akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
“Nah, yang ketiga dan ini menjadi topik utama kita hari ini adalah imunisasi. Dengan memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap, kita melindungi mereka dari berbagai penyakit yang dapat menghambat tumbuh kembangnya,” ujarnya.
Melalui nutrisi, sanitasi, dan imunisasi, kita membentuk generasi penerus yang sehat secara fisik dan mental. Karena anak-anak bukanlah miniatur orang dewasa, mereka adalah individu yang memiliki kebutuhan khusus dalam tumbuh kembangnya. Kita perlu memastikan mereka tumbuh dalam kondisi terbaik.
Semoga di momentum Hari Anak Nasional ini, seluruh anak Indonesia tetap sehat, semangat, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : M Tahang