Buka konten ini

Pemerintah akan menyederhanakan jenis beras menjadi dua, yaitu beras biasa dan beras khusus. Kebijakan itu bertujuan untuk mencegah penjualan beras premium oplosan.
Menteri Koordinator (Menko) bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, beragamnya jenis beras membuka celah bagi oknum produsen beras berbuat curang. Mereka menjual beras nonpremium dengan kemasan atau karung yang lebih bagus. Tujuannya agar harga jualnya naik.
”Padahal, isinya sama saja,” katanya usai memimpin rapat soal beras premium oplosvan di Jakarta kemarin (25/7).
Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, mengaku heran karena harga beras bervariasi, padahal isinya sama. Dalam takaran 1 Kg, ada yang dijual Rp12.500, Rp13.000, bahkan sampai Rp18.000.
Kasus beras premium oplosan yang sekarang sedang mencuat, juga berawal dari banyaknya jenis beras. Kemasannya beras premium, tapi isinya dioplos, sehingga kualitasnya turun menjadi beras medium. Salah satu ketentuan beras premium adalah campuran beras patahan (broken) maksimal 15 persen.
”Melihat pengalaman itu, maka beras nanti kita akan buat hanya dua jenis beras saja,” jelasnya.
Jenis pertama adalah beras biasa. Yaitu beras yang dihasilkan oleh petani yang pupuknya menggunakan pupuk subsidi pemerintah. Kemudian menggunakan irigasi yang dibangun pemerintah.
Lalu, jenis beras yang kedua adalah beras khusus. Beras ini benar-benar beras yang sesuai dengan jenis dan dapat sertifikat dari pemerintah. Misalnya, beras Pandan Wangi, isinya sesuai yang diakui oleh otoritas berwenang.
Contoh lain beras khusus adalah beras yang diimpor. Misalnya, beras Basmati yang sering digunakan masyarakat India atau di Timur Tengah. Atau juga beras Japonica yang dipanen di Jepang. Beras ini dinilai spesial dengan ciri khas bentuk bulir pendek dan bulat. Zulhas juga menyinggung kasus beras premium oplosan.
Total, sudah ada 14 pemegang merek yang diperiksa Satgas Pangan Mabes Polri. Dia menegaskan, bagi yang melanggar aturan harus ditindak sesuai regulasi.
”Beras ini adalah urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jangan ada yang main-main,” tegasnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO TEJO