Buka konten ini

JAKARTA (BP) — Dalam sebuah video yang beredar luas, Satria menyampaikan keinginannya untuk pulang ke Indonesia. Satria Arta Kumbara adalah mantan prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut yang menjadi tentara bayaran di Rusia. Satria ingin pulang kampung meski sebelumnya menerima bayaran tinggi dari pekerjaannya sebagai tentara bayaran.
Satria diberhentikan dari dinas militer pada 2023 karena kasus desersi. Setelah itu, ia diketahui bergabung dengan kelompok tentara bayaran yang terlibat dalam perang Rusia–Ukraina. Berdasarkan informasi yang beredar, prajurit sewaan dari berbagai negara menerima bayaran hingga Rp 39 juta per bulan.
Ketika Radar Semarang, Grup Batam Pos bertandang ke rumah di Kupang Dukuh, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pada Rabu (23/7) lalu, tak ada yang bisa diceritakan Kartini tentang anaknya yang dipecat pada 2023 karena desersi itu. Apalagi tentang sepak terjangnya selama menjadi tentara Rusia.
“Saya sedang menunggui cucu tidur siang,” kata Kartini yang tinggal di rumah tersebut bersama adik perempuan Satria.
Satria lahir dan besar di Ambarawa, kota yang kental dengan aroma ketentaraan. Pada 20 November sampai 15 Desember 1945, kota kecil itu menjadi tempat pertempuran sengit antara Tentara Keamanan Rakyat dengan pasukan Inggris yang diboncengi NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Palagan pecah karena NICA ternyata hendak mempersenjatai para tawanan Belanda.
Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menjelaskan bahwa meningkatnya konflik global dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan meningkatnya permintaan terhadap kontraktor militer swasta. Namun, secara hukum, Indonesia tidak mengakui keberadaan militer swasta.
”Indonesia menganut sistem pertahanan semesta. TNI adalah komponen utama pertahanan, dengan cadangan dari masyarakat sipil. Tidak ada ruang bagi militer swasta di sistem hukum pertahanan kita,” kata Fahmi kepada Kompas, Kamis (25/7).
Menurut Fahmi, rekrutmen tentara bayaran di Indonesia berlangsung secara tertutup, melalui jalur daring atau jaringan informal. Mereka yang memiliki latar belakang militer aktif maupun nonaktif menjadi sasaran utama.
Fenomena tentara bayaran sendiri bukan hal baru. Dalam sejarah, pasukan sewaan telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, seperti pasukan The Ten Thousand dari Yunani kuno, pemanah Genoa di Eropa abad pertengahan, hingga Brigade Gurkha dari Nepal yang masih aktif hingga kini di sejumlah negara.
Nama Satria dikaitkan dengan Wagner Group, sebuah perusahaan militer swasta yang berbasis di Rusia. Kelompok ini dikenal terlibat di berbagai konflik, mulai dari Suriah hingga Afrika.
Negara-negara besar seperti Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok, hingga Arab Saudi diketahui menggunakan jasa pasukan semacam ini.
Beberapa perusahaan seperti Blackwater (sekarang Constellis) juga pernah mengusulkan penggunaan pasukan bayaran dalam misi militer resmi, seperti di Afghanistan.
Penulis dan mantan tentara bayaran Sean McFate menyatakan, motivasi individu untuk menjadi prajurit sewaan sangat beragam. Meski faktor ekonomi dominan, banyak pula yang bergabung karena alasan pribadi, termasuk kebutuhan akan petualangan, pengalaman perang, atau ketiadaan arah hidup pascamiliter.
“Bisa jadi, dalam kasus Satria, keinginan untuk pulang muncul setelah menyadari bahwa kehidupan sebagai tentara bayaran jauh lebih kompleks dan tidak sebanding dengan nilai uang yang diterima,” ujar Fahmi.
Hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi dari otoritas keamanan mengenai kepulangan Satria atau status hukumnya apabila kembali ke Indonesia. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO TEJO