Buka konten ini

Polisi spesial ini salah satu ujung tombak dalam mengungkap fakta dan kebenaran di balik jejak kasus-kasus kriminal. Keberadaannya jarang tersorot dan bekerja dalam diam. Namun berperan penting dalam penegakan hukum.
MEREKA tidak mengejar pelaku. Tidak juga menodongkan senjata. Tapi mereka adalah penentu arah dalam penyelidikan—menguak kebenaran dari mayat yang tak bersuara.
Di balik garis polisi yang membentang kaku di setiap tempat kejadian perkara (TKP), ada sosok-sosok yang tak pernah muncul dalam sorotan kamera. Mereka tidak mengenakan seragam lengkap, tidak pula ikut mengejar penjahat di jalanan. Tapi justru dari tangannya, banyak kasus kejahatan bisa terungkap: dari kasus pembunuhan, perampokan, hingga penemuan mayat misterius.
Mereka adalah Polisi Unit Identifikasi—unit kecil yang bekerja dalam senyap, tapi punya peran krusial dalam sistem kerja Reserse Kriminal (Reskrim).
“Kalau ada mayat ditemukan, kami yang pertama datang. Sebelum siapa pun menyentuh apa pun,” ujar Aiptu Andi Heriansyah, Kepala Urusan Identifikasi Satreskrim Polresta Tanjungpinang, saat ditemui Batam Pos, Jumat (24/7).
Sebagian besar masyarakat mungkin lebih familiar dengan istilah Satlantas, Satintelkam, Satresnarkoba, atau Sabhara. Namun tak banyak yang tahu, ada satu unit dalam tubuh kepolisian yang bekerja secara ilmiah, teliti, dan penuh kehati-hatian. Bukan dengan senjata, tapi dengan kamera, mikroskop, dan alat uji forensik.
Unit Identifikasi adalah unit yang bertugas mengungkap fakta dari diamnya korban. Mereka membaca luka, mencocokkan sidik jari, menelusuri DNA, dan mendokumentasikan tiap detail TKP—sebelum waktu menghapusnya.
“Kami tidak bisa bertanya pada mayat. Tapi kami bisa membaca apa yang ditinggalkan tubuhnya,” kata Andi.
Andi telah 20 tahun mengabdikan diri dalam dunia identifikasi kepolisian. Ia mengumpulkan potongan rambut, noda darah, bahkan bau tubuh dari TKP. Ia memotret luka, menggambar sketsa wajah, dan menyimpan setiap detail dalam bentuk dokumentasi hukum.
Semuanya dilakukan dengan disiplin ilmiah, atau dikenal dengan istilah Scientific Crime Investigation (SCI). Proses ini melibatkan ilmu pengetahuan, analisis forensik, hingga kerja sama dengan laboratorium—dari uji DNA, balistik, hingga forensik digital.
“Kesalahan kecil saja bisa membuat bukti hilang. Itu sebabnya kami harus cepat, teliti, dan patuh prosedur,” jelas Andi, yang juga memegang sertifikasi Identifikasi Sidik Jari dan Wajah Level Tertinggi dari Bareskrim dan BNSP.
Selain bekerja di TKP, Unit Identifikasi juga merekam data biometrik setiap pelaku yang ditahan. Mereka adalah penjaga data kriminal dalam sistem nasional kepolisian. Dalam beberapa kasus, mereka juga dihadirkan di pengadilan sebagai saksi ahli, menjelaskan hasil temuannya kepada majelis hakim.
Unit ini tidak pernah mendapat panggung dalam drama televisi atau film layar lebar. Namun perannya justru mirip tokoh-tokoh dalam serial Crime Scene Investigation (CSI) yang legendaris dari Amerika.
“Proses hukum tidak bisa didasarkan asumsi. Semua harus dibuktikan secara ilmiah. Di situlah kami bekerja,” tutur polisi kelahiran Tanjungpinang 45 tahun silam itu.
Di tengah tekanan dan ekspektasi tinggi, Andi dan timnya tetap setia bekerja dari balik garis kuning. Mereka datang saat semua orang pergi. Mereka menyentuh bukti saat yang lain menjauh. Dan mereka bicara lewat benda mati—jejak kaki, darah, bahkan serpihan kulit.
“Polisi Identifikasi memang jarang terlihat, tapi kami ada di balik banyak pengungkapan kasus besar,” tegasnya.
Dalam dunia kepolisian, mereka adalah wajah sunyi dari ilmu pengetahuan. Dan seperti mayat yang mereka analisa—mereka mungkin tak bersuara, tapi selalu menyampaikan kebenaran. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : GALIH ADI SAPUTRO