Buka konten ini

BATAM (BP) – Ada yang lebih hening dari lorong kekuasaan: sunyi di antara lembar demi lembar buku, detik-detik senyap ketika seorang pemimpin mengakrabi malam. Bukan untuk beristirahat, bukan pula operasi klandestin—melainkan untuk belajar. Di medium itulah Kepala BP/Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, merajut mimpinya yang paling luhur.
Rabu (23/7), Jatinangor menjadi saksi bisu saat seorang anak kampung dari pesisir Lingga berdiri tegap dalam balutan toga, menjemput gelar doktor di bidang Ilmu Pemerintahan dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Amsakar dimaklumatkan oleh semesta sebagai pelintas batas: dari birokrasi ke pergulatan akademik, dari tugas negara ke tangga ilmu pengetahuan tertinggi.
Disertasinya, berjudul Kebijakan Ex Officio dalam Pengembangan Kawasan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, bukanlah dokumen ilmiah yang dingin dan kaku. Ide itu lahir dari renungan panjang, ditulis dengan tinta kesungguhan dan keringat tanggung jawab. Setiap paragrafnya merupakan pantulan dari ruang-ruang batin tempat Amsakar menimbang makna keadilan dan pembangunan, di tengah pusaran strategi nasional yang tak pernah sunyi.
Sidang terbuka di Kampus IPDN Jakarta, Cilandak, pada 14 Februari lalu menjadi panggung intelektual tempat Amsakar mempersembahkan hasil olah pikirnya. Ia mencatat nilai 95 dengan IPK 3,81 dan predikat “sangat memuaskan”. Nilai yang ia raih bak gema dari perjuangan panjang yang nyaris tanpa jeda. Sebelumnya, dalam sidang tertutup 22 Januari, nilainya pun menyentuh angka 93—sebuah konsistensi yang lahir dari kedisiplinan dan cinta akan ilmu.
Di tengah rapat-rapat strategis, keputusan-keputusan sulit, dan kesibukan membangun kota, Amsakar menyisihkan waktu untuk membaca, mencatat, merenung, dan menulis. Ia menapaki dua dunia yang saling tarik-menarik: dunia pemimpin dan dunia pelajar. Dan ia tidak memilih salah satu, melainkan menyatukannya dalam irama yang hanya bisa ditabuh oleh mereka yang teguh di hati.
”Semakin saya belajar, semakin saya sadar masih banyak yang belum saya ketahui,” ujarnya lirih.
Kalimat itu bukan sekadar kutipan, tetapi gema kerendahan hati yang lahir dari seorang pemikir. Seperti embun pagi, ia jatuh lembut ke relung hati, menghapus dahaga mereka yang hampir menyerah pada keterbatasan.
Perjalanan ini bermula jauh di masa silam. Di sebuah desa kecil bernama Sungai Buluh, Lingga, Amsakar kecil menamatkan pendidikan dasarnya di SD Negeri 37 pada 1981. Tiada yang menyangka, dari lorong-lorong kayu pesisir itu akan lahir seorang doktor pemerintahan.
Langkahnya terus berlanjut, menapak ke SMP Negeri 2 Dabo Singkep dan kemudian SMA Negeri Dabo Singkep. Di saat banyak kawannya memilih untuk berhenti, ia terus melangkah. Bukan karena ia tahu ke mana arah, melainkan karena ia percaya: berjalan adalah bentuk kepercayaan pada masa depan.
Gelar sarjananya diraih dari Universitas Riau (Unri) pada 1994, sebuah loncatan dari kampung ke kota, dari halaman rumah ke ruang kuliah. Dua dekade kemudian, ia menyelesaikan magister di Universitas Airlangga pada 2005.
Dan kini, hampir empat puluh tahun sejak lulus dari sekolah dasar, ia kembali mengukir sejarah hidupnya. Gelar doktor itu bukanlah mahkota yang ia cari, melainkan suluh yang menerangi jalan panjang pengabdian. Dalam dunia yang gemar mengagungkan popularitas, Amsakar justru memilih jalan keheningan—jalan membaca, jalan berpikir.
Ia bisa saja berpuas diri sebagai wali kota, sebagai kepala otorita, sebagai tokoh publik. Namun, ia justru memilih kembali menjadi murid. Duduk di bangku yang sama dengan para pemuja ilmu, menahan kantuk yang sama, dan menghadapi ujian yang sama.
Bagi Amsakar, pendidikan bukanlah koleksi gelar di dinding, melainkan nyala lentera dalam ruang gelap pengabdian. Ia percaya, pemimpin yang tak belajar akan mudah lupa arah; dan murid yang tak mengabdi hanya akan menjadi menara gading yang rapuh. Maka, ia menjahit dua peran itu dengan benang integritas.
Gelar doktor itu kini tersemat rapi di belakang namanya. Namun, lebih dari itu, ia adalah bukti bahwa kekuasaan sejati lahir dari kesadaran, bukan dari jabatan. Cita-cita tidak mengenal usia, tak tunduk pada jabatan, dan tak takut pada keterbatasan.
Batam, hari ini, tak hanya memiliki wali kota yang membangun jalan dan jembatan, tetapi juga membangun harapan. Belajar adalah kewajiban yang tak pernah usai. Dari kampung pesisir pun, seorang anak bisa menjejakkan kaki di pelataran akademik tertinggi.
Dari Sungai Buluh ke Jatinangor, dari Dabo Singkep ke Cilandak, Kanda Am telah mengukir jejak megah. Hari ini, kita menyaksikan: pemimpin sejati bukanlah yang bicara paling lantang, melainkan yang bersedia belajar paling dalam. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : RYAN AGUNG