Buka konten ini

JAKARTA (BP) – “Ekspor” dari Indonesia yang tak dikehendaki itu mulai merambah Malaysia. Setidaknya delapan kota di negeri jiran tersebut sudah mencatat indeks polusi udara di atas angka 100 alias batas sehat, buntut terjangan kabut asap dari ribuan titik api di Riau.
Kota yang paling parah terdampak adalah Alor Gajah di Malaka, dengan indeks tercatat di angka 160 berdasarkan pencatatan pada Senin (21/7) pagi. Sedangkan berdasarkan pencatatan, Selasa (22/7), seperti dilansir The Star, kota dengan polusi terburuk adalah Seremban di Negeri Sembilan dengan indeks polusi udara 155.
Selain Malaysia, mengutip Channel News Asia kemarin, Singapura dan sisi selatan Thailand juga diperkirakan bakal ikut terdampak kiriman kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau. Menurut Departemen Lingkungan Hidup Malaysia (DOE), kadar polusi dari 101 sampai 200 berisiko, terutama bagi lansia, anak-anak, dan orang dengan penyakit pernapasan.
Jakarta juga memberi perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengingatkan masyarakat Riau agar tidak membakar hutan dan lahan, terutama pada 22–28 Juli. “Sebab, berdasarkan data BMKG, periode tersebut memiliki potensi sangat mudah terbakar,” kata Raja di sela penandatanganan nota kesepahaman dengan PP Muhammadiyah.
Raja menyebut, data BMKG menunjukkan 10 hari terakhir akan terjadi panas ekstrem. Adanya Badai Wipha di Filipina juga menjadi faktor pemicu cuaca yang kering dan mudah terbakar.
Kemenhut, lanjut Raja, juga sudah berkoordinasi langsung dengan Kapolda Riau Irjenpol Herry Heryawan yang telah memimpin dan turun langsung ke lapangan. Selain itu, koordinasi serupa dilakukan pula dengan kepala BNPB dan kepala BMKG.
Dia juga telah menugaskan Wamenhut Sulaiman Umar Siddiq dan Dirjen Gakkum Kemenhut Dwi Januanto untuk mengawal penanganan karhutla di Riau. Data Satelit Himawari milik BMKG juga mendeteksi sebaran asap yang signifikan, terutama di wilayah Kabupaten Rokan Hilir.
Data dari Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan menyebut, Rokan Hilir mencatatkan jumlah titik panas tertinggi di Riau, yakni 1.767 titik. Disusul Rokan Hulu dengan 1.114 titik dan Kota Dumai 333 titik.
Total hotspot (titik api) sepanjang 1 Januari hingga 20 Juli 2025 mencapai 4.449 titik. Kenaikan tajam terjadi selama Juli, dengan 3.031 titik panas terpantau. Situasi sempat memunculkan asap lintas batas pada 19 Juli, namun membaik sehari kemudian.
Penanganan darurat dilakukan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) oleh BNPB dan BMKG bersama pihak swasta. Operasi ini sudah memasuki tahap kedua dengan total 14 sortie dan penyemaian 12.600 kg garam (NaCl) ke awan.
Tanggap Darurat
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mendesak agar Gubernur Riau Abdul Wahid segera menetapkan status tanggap darurat. Sebab, seluruh kabupaten dan kota yang ada di Riau telah mengalami kebakaran hutan dan lahan sampai dengan tanggal 20 Juli 2025.
“Paling besar Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kampar,” ujarnya. Dengan menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan, lanjutnya, pemerintah pusat dapat leluasa memberikan bantuan kepada pemerintah daerah.
Proses Hukum
Suharyanto menambahkan, pengendalian karhutla tidak semata-mata dengan pemadaman saja. Namun, juga menjalankan proses hukum terhadap mereka yang diduga melakukan pembakaran dengan cara yang disengaja.
Sampai dengan kemarin, telah ditetapkan tersangka sebanyak 16 orang dan terdapat 11 kasus yang masuk dalam perkembangan penyidikan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG