Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyambut positif penyesuaian tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap produk tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia, dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen. Langkah itu dinilai sebagai peluang untuk memperkuat akses pasar ekspor TPT nasional ke Amerika Serikat.
Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa, menyampaikan AS selama ini menjadi salah satu pasar utama bagi produk TPT Indonesia. Dengan adanya relaksasi tarif ini, industri padat karya itu memiliki peluang lebih besar untuk menggenjot ekspor.
“Kami berharap ada harmonisasi regulasi teknis dan fasilitasi perdagangan agar sektor TPT dapat memanfaatkan peluang ekspor secara optimal,” ucapnya.
Adapun, pangsa pasar ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki buatan Indonesia ke AS masing-masing sebesar 40,6 persen dan 34,2 persen pada 2024. Artinya, nyaris setengah dari ekspor TPT dan sepertiga ekspor alas kaki bergantung pada permintaan dari Negeri Paman Sam itu.
API juga mendorong pemerintah untuk terus memperkuat arus perdagangan bilateral Indonesia-AS melalui misi dagang, dukungan logistik, promosi terintegrasi, serta pemberian insentif fiskal dan non-fiskal guna meningkatkan daya saing industri. “Kami berharap tindak lanjut kebijakan ini mendorong kebijakan lanjutan yaitu termasuk harmonisasi regulasi teknis dan fasilitasi perdagangan agar industri padat karya dapat memanfaatkan peluang ekspor secara optimal,” urainya.
Di sisi lain, Jemmy mengingatkan pentingnya proteksi pasar domestik dari serbuan produk tekstil jadi impor. Dia menilai langkah ini penting untuk menjaga kapasitas industri manufaktur nasional dan meningkatkan utilisasi produksi dalam negeri.
”API siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam memperkuat industri nasional, mendorong peningkatan nilai tambah domestik, serta memperluas pasar ekspor yang berkelanjutan dan kompetitif di kancah global,” urai Jemmy.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai keputusan tarif itu akan mendorong peningkatan daya saing ekspor nasional sekaligus menjadi magnet bagi masuknya investasi asing ke dalam negeri. ”Kalau dulu kita bersaing ekspor ke Amerika (AS) itu kan dengan tarif yang sama, sekarang berarti kita mempunyai kelebihan. Kalau kita mempunyai kelebihan berarti ini bisa menarik investasi asing datang,” ujarnya.
Budi menambahkan, pihaknya sudah mengidentifikasi 10 produk utama ekspor ke AS dan juga 10 pesaing utamanya. “Dari situ kita bisa petakan peluang, termasuk potensi investasi yang masuk ke sektor-sektor tersebut,” katanya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG