Buka konten ini


Pagi itu, jalanan utama Kota Batam tak hanya dipenuhi deru roda, tapi juga tawa yang mengalir bersama peluh. Ratusan pesepeda dari berbagai kalangan menyatu dalam kayuhan santai yang membawa pesan: kebersamaan tak butuh panggung. Di antara mereka, para pemimpin kota pun larut, menanggalkan sekat protokol dan turun menyapa warganya dari balik setang sepeda.
MATAHARI belum tinggi ketika ratusan pesepeda mulai membelah ruas-ruas jalan utama Kota Batam, Minggu pagi (20/7). Deru roda dan tawa pelan bercampur dalam udara yang masih sejuk. Dari simpang hingga sudut kota, kota ini seperti bangun dengan semangat baru.
Di antara barisan itu, tampak dua figur yang tak asing: Wali Kota Batam, Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra. Keduanya menyatu dalam arus kayuhan, larut bersama warga dalam satu semangat: hidup sehat dan kebersamaan.
Tak hanya dua pemimpin itu, hadir pula Kapolda Kepri, Irjen Asep Safrudin, Kabinda Kepri, Brigjen TNI Bonar Panjaitan, Ketua DPRD Batam Kamaluddin, Sekda Kota Batam Jefridin, serta jajaran pejabat dari Pemko dan BP Batam. Semuanya berbaur tanpa protokol, tanpa sekat, tanpa podium.
Yang ada hanyalah pedal yang bergerak, keringat yang menetes, dan sapaan yang bersahut-sahutan di sepanjang rute.
Kayuhan dimulai dari halaman Bike Associates Pollux Habibie. Dari situ, peserta melintasi landmark kota: Simpang Engku Putri, Ocarina, Harmoni One, Mega Mall, lalu menutup rute di Coffee Shop Ruko Orchard. Di sepanjang jalan, warga menyambut dengan lambaian dan senyum, dibalas hangat oleh pemimpin yang biasanya mereka lihat dari jauh.
“Ini bukan sekadar olahraga. Ini ruang silaturahmi. Ini cara kami menyatukan semangat sehat, antara warga dan pemerintah,” ucap Amsakar sambil menghela napas, usai menempuh rute.
Ia yakin, kota yang sehat lahir dari warga yang terbiasa bergerak bersama. Kebugaran bukan cuma urusan jasmani, tetapi juga tentang jalinan sosial yang hangat dan inklusif.
Li Claudia juga tak kalah semangat. Baginya, gowes ini bukan tentang siapa yang tiba lebih dulu, melainkan tentang bagaimana semua bisa melaju bersama.
“Gowes ini mengajarkan makna kebersamaan. Kita tidak sedang berlomba. Kita seiring, seirama, dan sepemahaman,” ujar Claudia, dengan peluh masih membasahi pelipisnya.
Dan benar saja, kebersamaan itulah yang terasa kental di sepanjang acara. Tak ada perbedaan. Siapa pun boleh bergabung. Tak penting jabatan atau pakaian. Yang penting adalah semangat untuk hadir, untuk menyapa, dan untuk bergerak.
Suryadi, salah satu peserta dari Komunitas Sepeda Sungai Panas, mengaku terkesan dengan suasana hari itu. Ia merasa lebih dekat dengan pemimpin kotanya.
“Biasanya hanya lihat di baliho atau berita. Tapi hari ini, kami gowes bareng. Rasanya beda,” katanya sambil tersenyum.
Tidak ada garis finis yang megah, tidak ada piala, tak ada podium kehormatan. Tapi justru di situlah nilainya: pertemuan yang sederhana, sapaan yang tulus, dan pagi yang dibuka dengan peluh penuh makna.
Pemerintah Kota dan BP Batam berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi rutinitas, bukan semata demi kesehatan, tapi untuk memperkuat kedekatan sosial.
“Kota ini bukan hanya dibangun dengan beton dan baja, tapi juga dengan rasa. Dan rasa itu tumbuh dari momen-momen seperti ini,” ujar Amsakar.
Hari itu, Batam tak sekadar bergerak. Batam menyatu. Dalam kayuhan, dalam tawa, dalam sapaan yang jujur. Semoga semangat itu terus hidup, mengalir bersama roda-roda yang berputar setiap pagi di jalanan kota ini. (***)
Reporter : Arjuna
Editor : RATNA IRTATIK