Buka konten ini
LONDON (BP) – Laurence Tubiana mengusulkan agar pemerintah dunia mulai mengenakan pajak pada teknologi intensif energi seperti akal imitasi (AI) dan mata uang kripto sebagai sumber dana baru untuk mengatasi krisis iklim.
Menurut CEO European Climate Foundation sekaligus ketua bersama Global Solidarity Levies Task Force itu, sektor-sektor teknologi yang mengonsumsi energi dalam jumlah besar harus ikut berkontribusi dalam pembiayaan aksi iklim global.
”Kripto tentu saja harus dikenai pajak dan pajak untuk AI juga perlu dipertimbangkan,” katanya dalam pernyataan terbaru dilansir dari The Guardian.
Tubiana menjelaskan bahwa dasar pengenaan pajak atas kripto dan AI karena keduanya sama-sama mengonsumsi energi dalam skala besar.
Dia juga menyoroti bahwa kripto saat ini masih minim regulasi dan menimbulkan kekhawatiran dari segi stabilitas keuangan global.
Sebagai ilustrasi, penambangan bitcoin—mata uang kripto terkemuka—menghabiskan energi setara konsumsi tahunan satu negara seperti Polandia. Sementara AI menimbulkan lonjakan permintaan listrik global karena perusahaan teknologi berlomba-lomba mengamankan pasokan energi bagi pusat data mereka.
Sebelumnya, task force pimpinan Tubiana sukses menyasar pajak baru terhadap penerbangan kelas bisnis dan jet pribadi. Beberapa negara telah menerapkannya seperti Prancis, Spanyol, Kenya, Barbados, Somalia, Benin, Sierra Leone, serra Antigua dan Barbuda. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO