Buka konten ini

Di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor, ada bocah yang sekuat tenaga menahan tangis di depan ibu, ada pula yang menahan sesak karena tak diantar orang tua. Mereka berangkat sekolah, tapi tidak lagi pulang ke rumah, melainkan ke kamar asrama.
SAPTA Ramadhan sebenarnya tak mau terlihat sedih di depan ibunya, Umu Kulsum. Tapi, apa daya, hari pertama sekolah, Senin (14/7), tak seperti biasanya. Anak pertama dari tiga bersaudara itu berangkat sekolah dan kali ini tak akan berakhir dengan pulang ke rumah.
Sapta harus berpisah dengan ibu, ayah, dan kedua adiknya karena akan masuk asrama seusai menjalani pemeriksaan kesehatan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sebuah hal yang sangat berat untuk ditanggung seorang buyung 13 tahun.
Pertahanannya pun akhirnya jebol. Sapta sampai harus lari ke toilet untuk menyeka air mata. Dan, tak kuasa mengeluarkan kata-kata ketika Jawa Pos (grup Batam Pos) menanyakan apakah sedih harus berpisah dengan sang ibu.
”Biasa sama orang tua, ini pertama kalinya pisah. Nggak apa-apa, biar mandiri. (Saya, red) harus kuat, dikuat-kuatin meski berat,” tutur Umu dengan mata basah.
Total ada 63 titik sekolah rakyat di seluruh Indonesia yang resmi memulai proses pembelajaran kemarin. Levelnya beragam, mulai SD, SMP, sampai SMA. Semua bergantung kesiapan lokasi. Sekolah untuk anak-anak dari kalangan miskin dan miskin ekstrem itu semuanya gratis.
Umu meyakini, ini jalan terbaik untuk sang buah hati. Bocah kecilnya tak perlu lagi khawatir soal biaya. Mengingat bapaknya hanya seorang buruh harian yang pendapatannya pas-pasan.
”Makanya ini saya nganter sendirian, bapaknya harus kerja, Teh,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tak Diantar Orang Tua
Total ada 100 siswa yang akan mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor. Mereka terbagi dalam 4 rombongan belajar (rombel) untuk jenjang SMP. Masing-masing rombel berisi 25 siswa.
Di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor ini terdapat 4 ruang kelas, 3 asrama, ruang kepala sekolah, ruang guru, dan ruang tata usaha. Juga laboratorium IPA, masjid, lapangan futsal, perpustakaan, UKS, ruang BK, dan ruang OSIS.
Sebagaimana Sapta, Akbar Triaksono juga sulit untuk tak menangis ketika harus berpisah dengan sang kakak, Yanti, 17. Remaja 13 tahun itu tidak diantar orang tuanya meski rumah mereka dekat secara jarak dengan lokasi sekolah.
Itu yang membuat batinnya berkecamuk. Ini pengalaman pertamanya keluar dari rumah, ayah-ibu tak bisa mengantar, padahal dia tak tahu kapan bisa bertemu mereka lagi. Meski Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf, menjanjikan tak akan menghalangi akses para wali murid sekolah rakyat untuk bertemu anak-anak mereka.
”Iya sedih,” katanya singkat sambil memalingkan wajah, berusaha menutupi air matanya di pelupuk mata.
”Anaknya memang tidak pernah ke mana-mana. Sukanya di rumah aja sama orang tua,” sahut Yanti.
Menurut Yanti, orang tuanya bukan tak ingin datang mengantar anak tengahnya ini. Tapi, mereka khawatir nantinya tak bisa mengerti apa-apa saja yang dibutuhkan atau yang harus dilakukan terkait persiapan Akbar masuk sekolah dan asrama. ”Saya akhirnya yang disuruh,” ungkapnya.
Berpisah dengan Cucu
Keharuan memang merebak di berbagai penjuru Sekolah Rakyat Menengah Pertama 10 Kabupaten Bogor di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS) Cibinong. Sumarna, misalnya, harus rela melepas sang cucu, Beby Adinda Pahlevi, yang diasuhnya sejak kecil.
”Bapaknya udah lama jarang ketemu, dihubungi tidak dijawab. Lalu ibunya baru meninggal enam bulan lalu,” kata kakek 71 tahun itu pelan.
Warga Tanah Sareal, Kota Bogor, itu berjualan seblak, roti bakar, dan aneka jajanan lainnya untuk menyambung hidup sehari-hari. Termasuk membiayai sekolah Beby.
Meski diklaim sekolah gratis, toh nyatanya masih banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan sekolah sang cucu. ”Namanya jualan, kadang kita dapet sedikit-sedikit, kadang nggak ada. Tapi, ya disyukuri aja yah,” katanya.
Menurut Sumarna, sang cucu ngebet ingin masuk sekolah rakyat agar tak lagi menyusahkan dirinya. Bahkan, sambil bercanda, agar neneknya tak sedih melepasnya, Beby sering menggodanya dengan berkata ”nenek, nanti gue gak ketemu elu lagi”.
Guyonan itu pun dibalas sang nenek dengan mengatakan bahwa dirinya bahagia justru karena tidak bertemu dengannya. ”Ya nggak papa, nenek malah seneng. Nenek jawab gitu, padahal sedih mah pasti,” tuturnya.
Bagi Beby, masuk sekolah rakyat adalah cara untuk meringankan beban kakek-neneknya. ”Mau jadi pengusaha aja, biar nggak jauh-jauh dari nenek,” katanya. (***)
Laporan: ZALZILATUL HIKMIA
Editor: RYAN AGUNG