Buka konten ini
KASUS HIV di Kota Batam terus menjadi perhatian. Sepanjang 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam mencatat sebanyak 321 kasus baru. Kelompok usia produktif masih menjadi yang paling rentan terpapar virus tersebut.
Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengungkapkan bahwa rentang usia 25–49 tahun mendominasi jumlah kasus, dengan total 208 penderita. Dari jumlah itu, 149 merupakan laki-laki dan 59 perempuan.
“Angka ini cukup tinggi dan menunjukkan kelompok usia produktif masih menjadi paling berisiko,” ujar Didi, Jumat (18/7).
Selain itu, kelompok usia 20–24 tahun mencatatkan 62 kasus, disusul usia 15–19 tahun sebanyak 13 kasus, serta 34 kasus pada kelompok usia di atas 50 tahun. Ada pula empat kasus pada anak-anak di bawah 15 tahun, yakni satu kasus pada anak usia di bawah 4 tahun dan tiga kasus usia 5–14 tahun.
“Temuan pada anak-anak ini menandakan adanya transmisi dari ibu ke anak. Karena itu, kami terus menggalakkan program pencegahan penularan dari ibu ke bayi (PPIA),” jelasnya.
Secara keseluruhan, dari 321 kasus yang tercatat, sebanyak 237 penderita laki-laki dan 84 perempuan.
Untuk menekan angka penularan, Dinkes Batam terus menggencarkan edukasi, deteksi dini, serta pengobatan.
Masyarakat dapat mengakses layanan konseling dan tes HIV secara gratis di seluruh puskesmas dan rumah sakit yang bekerja sama dengan pemerintah.
“Kami juga menggandeng berbagai komunitas dan lembaga untuk menjangkau kelompok berisiko, seperti pekerja seks, pengguna narkoba suntik, serta komunitas LGBTQ,” ujar Didi.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak takut atau malu menjalani tes HIV. Deteksi dini penting agar pengobatan bisa dilakukan lebih awal dan penularan dapat dicegah.
“Layanan kami bersifat rahasia dan tidak diskriminatif. HIV bukan akhir dari segalanya. Dengan pengobatan dan gaya hidup sehat, penderita tetap bisa produktif,” tegasnya.
Upaya promotif dan preventif yang dilakukan sejauh ini mulai menunjukkan hasil positif. Menurut Didi, peningkatan edukasi tentang kesehatan reproduksi dan seksual di sekolah dan komunitas turut berperan menekan penyebaran HIV, disertai skrining rutin terhadap kelompok berisiko.
“Akses layanan kesehatan yang lebih terbuka juga menjadi kunci,” katanya.
Ke depan, Didi menekankan pentingnya memperluas jangkauan edukasi, terutama kepada remaja di luar sekolah yang kerap sulit dijangkau layanan formal. Ia menyarankan perlunya riset kualitatif untuk menggali lebih dalam tentang persepsi, hambatan, dan kebutuhan remaja dalam mengakses informasi serta layanan HIV/AIDS.
“Langkah preventif harus terus diperkuat dan diperluas agar kita bisa menekan kasus baru secara signifikan,” tutupnya.
Sebelumnya, Dinkes Kota Batam mencatat sebanyak 60 kasus penyakit infeksi menular seksual (IMS) seperti gonore dan sifilis sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, mayoritas dialami kelompok usia produktif 25 hingga 49 tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Batam, dr. Didi Kusmarjadi, menyebutkan dari total kasus tersebut, 36 pasien merupakan laki-laki dan 24 lainnya perempuan. Kelompok usia 25–49 tahun menjadi penyumbang terbanyak dengan 36 kasus, terdiri dari 24 laki-laki dan 12 perempuan.
“Ini menjadi perhatian serius karena kelompok usia produktif cenderung aktif secara sosial dan seksual. Potensi penularannya pun tinggi,” ujar Didi, Kamis (17/7).
Selain itu, kasus IMS juga ditemukan pada kelompok usia 20–24 tahun sebanyak 13 kasus, usia 15–19 tahun sebanyak 6 kasus, dan 5 kasus pada kelompok usia di atas 50 tahun. Tidak ditemukan kasus pada anak di bawah 14 tahun. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK