Buka konten ini

BANYUWANGI (BP) – Jarak jalan lingkar Ketapang dari arah Kota Banyuwangi, Jawa Timur, ke kantung parkir di kompleks Pelabuhan ASDP Ketapang cuma sekitar enam kilometer jika ditarik garis lurus. Tapi, sepanjang hari kemarin (17/7), akibat dampak berkurangnya jumlah kapal yang melayani penyeberangan Ketapang–Gilimanuk, butuh waktu berjam-jam untuk mencapainya.
“Dari jalan lingkar Ketapang arah selatan (Kota Banyuwangi) ke kantung parkir saya harus antre dari pukul 02.00 sampai pukul 16.00,” kata Andri, salah seorang kernet mobil ekspedisi kepada Radar Banyuwangi (Grup Jawa Pos) kemarin.
Dari arah utara atau arah Situbondo, kemacetan tak kalah parah. Antrean mengular sampai kawasan Taman Nasional Baluran di perbatasan Banyuwangi–Situbondo.
“Yang lama dari Pantai Watudodol ke Pelabuhan Ketapang, sekitar 28 jam,” kata Noval, pengemudi truk, tentang kemacetan antar dua tempat yang hanya berjarak sekitar 6,6 kilometer itu.
Kemacetan horor ini terjadi buntut belum normalnya layanan kapal penyeberangan Ketapang–Gilimanuk. Sebab, 15 kapal tak diizinkan berlayar dampak pengetatan regulasi menyusul tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya pada 2 Juli lalu. Meski, kemarin, enam di antaranya akhirnya diperbolehkan berlayar.
Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rama Samtama Putra mengatakan salah satu penyebab yang memicu kemacetan semakin parah adalah banyaknya kendaraan yang ngeblong dan mengambil jalur berlawanan. Banyak juga truk-truk yang masuk namun belum memiliki tiket, sehingga menghambat arus di depan pelabuhan.
“Penyebab utamanya tetap karena kekurangan jumlah kapal, tapi tugas kita mengurai di jalur arteri. Volume kendaraan juga bertambah,” kata Rama.
Rama pun mengimbau yang tidak memiliki kepentingan mendesak disarankan untuk tidak menyeberang ke Bali dalam satu dua hari ke depan, supaya tidak ikut terjebak dalam antrean kendaraan.
“Kami juga membagikan kue dan minuman untuk sopir dan pengendara. Petugas kita minta untuk memprioritaskan kendaraan roda empat pribadi dan logistik untuk bisa menyeberang ke Bali,” imbuhnya.
Sementara itu, di Gilimanuk, Jembrana, Bali, Radar Bali Grup Jawa Pos melaporkan, meski masih padat, panjang antrean kemarin sudah agak berkurang ketimbang sehari sebelumnya. Ini seiring terjadinya penambahan jumlah kapal yang beroperasi.
Upaya Mengatasi
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjungwangi bahkan sudah mengizinkan enam kapal eks LCT (landing craft tank) yang sebelumnya masuk daftar yang harus diperbaiki ke dalam lintasan. Kapal tersebut adalah KMP Samudera Utama, KMP Karya Maritim I, KMP Karya Maritim II, KMP Jambo VI, KMP Liputan XII dan KMP Agung Samudera IX. Enam unit kapal tersebut dioperasikan di dermaga LCM (landing craft machine) untuk mengangkut kendaraan besar dari sisi Ketapang dan Gilimanuk. Selain itu, ada empat kapal lainnya, yaitu KMP Samudera Perkasa 1, KMP Swarna Cakra, KMP Jambo X, serta kapal sapu jagad KMP Portlink VII yang juga ikut masuk ke dalam lintasan.
Kasi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal KSOP Tanjungwangi Widodo mengatakan, meski enam kapal eks LCT diperbolehkan kembali beroperasi, pihaknya tetap melakukan pemeriksaan ketat kondisi kapal yang diperbolehkan berlayar.
“Kapal yang beroperasi di LCM sudah berupaya seoptimal mungkin untuk mengangkut kendaraan yang masuk ke pelabuhan. Namun, masih ada kendala di jalan raya akibat banyaknya kendaraan yang ngeblong,” katanya.
Tak Pengaruhi Aktivitas Kapal
Ketua DPC Gapasdap (Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan) Banyuwangi Nurjatim mengatakan, dari 15 kapal yang diminta untuk tidak beroperasi, tidak seluruhnya dalam kondisi yang tidak baik. Sebab, ada kapal yang perlu melakukan perbaikan minor dan mayor.
Untuk kapal dengan rekomendasi perbaikan minor, seharusnya bisa tetap beroperasi. Sebab, perbaikan tidak berpengaruh pada aktivitas kapal.
“Kecuali yang mayor, ada beberapa kapal dari data tersebut yang memang butuh perbaikan besar. Kalau tidak, ya berbahaya, tapi ada yang kondisinya sebenarnya bisa untuk tetap beroperasi,” ungkapnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO TEJO