Buka konten ini

Guru Sekolah Citra Kasih Don Bosco, Pondok Indah, Jakarta Selatan
Proses belajar-mengajar (PBM) dalam tahun ajaran 2025/2026 sudah dimulai. Di tengah situasi zaman yang telah, sedang, dan terus berubah serta berbenah ini, dalam menyambut tahun ajaran baru, sekolah sebagai institusi pendidikan diharapkan tidak sekadar menyikapinya dengan semangat rutin, sekadar sebagai agenda siklus tahunan semata-mata.
Antusiasme, sukacita, dan keriangan anak-anak murid dalam belajar (joyful learning) pada awal tahun ajaran perlu dirawat dan ditumbuhkembangkan. Jangan sampai sukacita belajar menjadi dingin dan padam.
Setidaknya, pemerintah melalui Kementerian Sosial telah menyasar 100 titik lokasi di penjuru tanah air untuk membuka Sekolah Rakyat secara bertahap. Pembukaan sekolah tersebut merupakan strategi dalam menindaklanjuti Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem melalui jalur pendidikan yang berkualitas.
Program Sekolah Rakyat menjadi bahan renungan bagi masyarakat di era modern. Yakni, di tengah gemerlap kemajuan ilmu, pengetahuan, dan teknologi, kita boleh diingatkan bahwa proses pendidikan senyatanya merupakan representasi kegiatan investasi kualitas sumber daya manusia (SDM).
Tidak tanggung-tanggung, dibutuhkan 1.554 guru kompeten (bersertifikat pendidik) untuk mengajar total 396 rombongan belajar (rombel) tahap I dengan jumlah siswa hingga 9.780 anak, mulai tingkat SD, SMP, dan SMA.
Kontribusi
Sebagai anak bangsa yang berprofesi guru, penulis menyambut gembira gagasan dan keberpihakan pemerintah yang mewujud dalam program Sekolah Rakyat. Tujuannya adalah mengentaskan kemiskinan bagi mereka kaum kecil, lemah, miskin, tersisih, dan terpinggirkan yang tak punya daya serta kesempatan yang sama dalam berkompetisi untuk mengakses kue pembangunan.
Terkonfirmasi melalui pandangan Lay (2020) dalam bukunya, Mendidik, Memahkotai Kehidupan, nanti parameter maju tidaknya suatu bangsa diukur melalui seberapa jauh kualitas pendidikan mampu berkontribusi terhadap peningkatan kualitas SDM.
Lebih lanjut, dinyatakan pula, seberapa jauh kapasitas daya dukung lingkungan mampu memberikan dukungan secara optimal dalam proses pembangunan dan seberapa jauh citra kebudayaan mampu menghadirkan keberadaban, mengentaskan dan mengangkat martabat umat manusia secara setara dan sederajat, melampaui sekat-sekat primordialisme.
Terkait dengan kapasitas daya dukung lingkungan dan keberagaman (kebinekaan) bangsa, supaya tepat sasaran dan berdampak optimal, model Sekolah Rakyat di seluruh pelosok negeri diupayakan menghindarkan unsur keseragaman di tengah-tengah keberagaman yang ada. Dalam hal ini, ragam kebudayaan lokal (daerah) menjadi elemen penting dalam rencana pengembangan kurikulum dan aktivitas pembelajaran ke depan.
Belum lagi, di tengah kualitas pendidikan karakter bangsa yang masih jauh panggang dari api, tanpa pretensi buruk, apalagi menuduh, bukan tak mungkin gagasan mulia Sekolah Rakyat yang menelan biaya operasional yang tak sedikit dibayang-bayangi rencana kejahatan korupsi. Para koruptor yang dahaga melihat uang rakyat menanti kesempatan dan celah untuk berusaha memperkaya diri guna kepentingan pribadi yang tak pernah mengenal kata cukup dan puas.
Amanat
Ringkasnya, pijar harapan Sekolah Rakyat 2025 yang dihadirkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tak boleh surut. Namun, penyelenggaraannya perlu dikawal sedemikian rupa agar tepat sasaran dan tepat guna. Pula, ragam tantangan dan ancaman yang ada perlu diantisipasi, khususnya terkait dengan muatan kurikulum pembelajaran dan transparansi anggaran.
Kepada para (calon) guru Sekolah Rakyat, di tengah fasilitas dan insentif yang ditawarkan, jangan pernah melupakan amanat agung yang dititipkan oleh bangsa ini. Yakni, mengangkat harkat dan martabat serta memuliakan nasib perjalanan anak-anak bangsa yang belum beruntung, yaitu mereka yang kecil, lemah, miskin, tersisih, dan terpinggirkan.
Jangan lupakan itu di tengah fasilitas dan iming-iming insentif yang ditawarkan. Ingatlah senantiasa pesan Bung Hatta sebagai proklamator bangsa bahwa Indonesia berpijar bukan karena obor di Monas menyala, melainkan karena lilin-lilin kecil (guru) di seluruh penjuru pelosok tanah air yang bersinar.
Guru-guru yang kompeten dan terampil, yang dengan integritas, kejujuran, dan keikhlasannya, terpanggil untuk menjadi suluh penerang guna memijari negeri ini dari kegelapan kebodohan. Untuk rakyat Indonesia, selamat bersekolah.(*)