Buka konten ini

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 60 kasus penyakit infeksi menular seksual (IMS) seperti gonore dan sifilis sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, mayoritas dialami kelompok usia produktif 25 hingga 49 tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Batam, dr. Didi Kusmarjadi, menyebutkan dari total kasus tersebut, 36 pasien merupakan laki-laki dan 24 lainnya perempuan. Kelompok usia 25–49 tahun menjadi penyumbang terbanyak dengan 36 kasus, terdiri dari 24 laki-laki dan 12 perempuan.
“Ini menjadi perhatian serius karena kelompok usia produktif cenderung aktif secara sosial dan seksual. Potensi penularannya pun tinggi,” ujar Didi, Kamis (17/7).
Selain itu, kasus IMS juga ditemukan pada kelompok usia 20–24 tahun sebanyak 13 kasus, usia 15–19 tahun sebanyak 6 kasus, dan 5 kasus pada kelompok usia di atas 50 tahun. Tidak ditemukan kasus pada anak di bawah 14 tahun.
Didi menambahkan, Dinkes Batam terus menggencarkan
edukasi dan pemeriksaan rutin melalui puskesmas serta klinik mitra. Layanan konseling dan tes IMS juga tersedia secara gratis bagi masyarakat yang merasa berisiko.
“Pemeriksaan dini penting untuk mencegah penularan lebih luas dan menghindari komplikasi. Masyarakat tidak perlu takut atau malu untuk memeriksakan diri,” tegasnya.
Untuk menekan penyebaran IMS, Dinkes Batam telah menyiapkan enam langkah strategis. Pertama, penyuluhan dilakukan secara masif di sekolah, lingkungan masyarakat, hingga kawasan berisiko seperti tempat hiburan malam. Program mentoring sebaya juga digalakkan bagi remaja dan pemuda.
Kedua, promosi dan distribusi kondom dilakukan di puskesmas dan titik strategis, lengkap dengan edukasi penggunaan yang benar.
Ketiga, pemeriksaan rutin digelar di seluruh puskesmas. Bagi kelompok berisiko tinggi seperti pekerja seks dan pelanggan tetap, diterapkan Perlakuan Presumtif Periodik (PPT).
Keempat, pelibatan tokoh masyarakat dan kelompok sebaya diperkuat guna mendukung edukasi serta menghapus stigma terhadap penderita IMS.
Kelima, Dinkes menggiatkan vaksinasi HPV bagi remaja dan perempuan muda sebagai upaya pencegahan kanker serviks yang berkaitan dengan IMS. Vaksin hepatitis B juga diberikan kepada semua kelompok usia.
Keenam, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dilakukan melalui pelatihan penanganan dan konseling IMS, serta pembaruan sistem pelaporan agar lebih cepat dan terintegrasi.
“Kami harap semua elemen masyarakat aktif dalam pencegahan IMS. Edukasi, deteksi dini, dan kepedulian terhadap sesama adalah kuncinya,” tutup Didi. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK