Buka konten ini


HARGA daging sapi beku di Kota Batam meroket hingga mencapai Rp130 ribu per kilogram (kg) dalam beberapa pekan terakhir. Salah satu penyebab utama lonjakan harga ini adalah terhentinya pasokan daging beku dari luar negeri untuk kemudian dikirim ke Batam selama sebulan terakhir.
Kasubdit I Indag Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Ruslaeni, mengatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam serta para distributor terkait kenaikan harga tersebut. Hasilnya, terungkap bahwa pengiriman daging beku terakhir ke Batam terjadi sekitar satu bulan lalu.
“Sejak itu, belum ada lagi pengiriman daging beku yang masuk ke Batam sampai hari ini,” ujarnya, Rabu (16/7).
Menurut Ruslaeni, Batam merupakan pintu utama distribusi daging beku ke wilayah Kepulauan Riau. Maka dari itu, gangguan pasokan ke Batam secara langsung berdampak ke kota dan kabupaten lain di Kepri.
“Kondisi ini bukan hanya dirasakan di Batam, tapi juga menyebar ke daerah lain di Kepri karena semuanya bergantung pada distribusi dari Batam,” jelasnya.
Selain kendala distribusi, lonjakan permintaan dari masyarakat turut mempercepat penurunan stok. Dalam kondisi normal, kebutuhan pasar masih dapat ditopang oleh stok distributor. Namun, sebulan tanpa pengiriman menyebabkan stok menipis tajam.
“Kami sudah cek langsung ke lapangan. Stok makin berkurang dan harga di tingkat pengecer terus naik,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa distribusi daging beku biasanya diatur berdasarkan kuota jangka menengah. Namun tanpa kiriman baru, jalur distribusi ke pasar terganggu, sehingga harga naik.
Polda Kepri kini terus memantau kondisi tersebut dan mengingatkan pedagang untuk tidak menimbun barang atau memanfaatkan situasi demi keuntungan sepihak.
“Kami akan menindak tegas jika ada indikasi pelanggaran dalam distribusi,” tegas Ruslaeni.
Batam Tunggu Kebijakan Pusat
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Batam, Wahyu Daryatin, menyampaikan bahwa kenaikan harga daging sapi beku bukan hanya terjadi di Batam, tetapi juga di sejumlah daerah lainnya di Indonesia.
”Semua daerah alami kenaikan harga daging, terutama daging sapi. Kalau daging ayam masih relatif stabil,” ujarnya.
Di Batam, harga daging sapi beku sebelumnya berkisar antara Rp70 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram. Kini, harganya melonjak hingga mendekati daging segar yang berada di kisaran Rp150 ribu per kilogram.
Berdasarkan data Disperindag, kebutuhan daging sapi—baik beku maupun segar—di Batam mencapai sekitar 100 ton per bulan. Tingginya kebutuhan dan minimnya pasokan memperparah situasi di lapangan.
Wahyu menyebut, mayoritas daging beku yang masuk ke Batam berasal dari Australia. Tingginya harga dari negara asal tersebut menjadi salah satu pemicu lonjakan harga di tingkat pengecer.
“Begitu daging itu sampai di Batam, harganya memang sudah tinggi. Itu salah satu penyebabnya,” kata Wahyu.
Untuk menanggulangi masalah ini, Pemko Batam sudah menggelar rapat bersama BP Batam, Bea Cukai, dan Balai Karantina. Salah satu solusi yang dibahas adalah membuka jalur impor alternatif dari negara lain seperti India atau Brazil, yang dinilai lebih terjangkau.
“Namun masalahnya, distribusi dari India atau Brazil biasanya masuknya dari Jakarta. Kalau lewat Jakarta, harga tetap tinggi karena biaya distribusinya mahal,” ujarnya.
Pemko Batam masih menunggu kepastian kebijakan dari pemerintah pusat untuk pengadaan daging impor. Wahyu mengaku pihaknya sudah menyampaikan usulan agar stok yang berada di Jakarta juga dapat disalurkan ke Batam dengan harga lebih terjangkau.
“Kami terus berkoordinasi dan segera bersurat ke kementerian agar situasi ini bisa mendapat perhatian,” ucapnya. (***)
Reporter : YASHINTA – ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK