Buka konten ini

WIMBLEDON (BP) – Jannik Sinner sempat mengalami masa-masa sulit tidur usai kalah menyakitkan dari Carlos Alcaraz di final Roland Garros 2025 bulan lalu. Sinner saat itu harus mengakui keunggulan Alcaraz dalam pertarungan limagame, setelah gagal memanfaatkan tiga kesempatan championship point.
Namun, mulai dini hari, Senin (14/7), Sinner bisa tidur jauh lebih nyenyak. Sebab, petenis Italia itu mampu membalaskan kekalahan atas Alcaraz lewat skor 4-6, 6-4, 6-4, 6-4 dalam laga final Wimbledon 2025 di All England Club, Wimbledon, London, Inggris.
Sinner bangga dengan perjuangannya mengalahkan Alcaraz. “Karena memang tidak mudah. Saya percaya jika Anda kalah di final Grand Slam dengan cara seperti itu, maka lebih baik (membalaskannya, red) seperti ini,” kata Sinner dikutip dari laman resmi ATP.
Tapi, perjuangan yang dilakukan Sinner tidak hanya ada di atas lapangan pertandingan. Sebelum SW19 -sebutan Wimbledon- dimulai, dia juga berlatih jauh lebih keras di lapangan latihan. Motivasinya bertambah. Sebab Sinner percaya jika dia punya kans mengalahkan Alcaraz di lapangan selain tanah liat Roland Garros.
“Saya melakukan banyak latihan intensif di setiap sesi latihan karena saya merasa bisa bermain dengan sangat baik. Itulah mengapa saya juga mengatakan setelah Roland Garros bahwa ini bukan waktunya untuk meremehkan saya, karena Grand Slam lain akan datang” beber Sinner.
Setelah meraih gelar Grand Slam lapangan rumput pertamanya, Sinner kini memburu capaian lain. Yakni ‘Career Grand Slam’, atau gelar di keempat Grand Slam berbeda. Dari empat turnamen tenis mayor yang ada, hanya Roland Garros yang belum pernah dicapai oleh Sinner.
Alcaraz pun juga memburu capaian yang sama. Bedanya, Carlitos -julukan Alcaraz- butuh memenangkan Australia Terbuka untuk mencapai Career Grand Slam. Sepanjang sejarah era terbuka yang dimulai 1968, hanya ada lima atlet putra yang mencatatkan capaian tersebut.
Terlepas dari persaingan di atas lapangan, Sinner dan Alcaraz saling memberikan penghormatan yang besar untuk satu sama lain. “Yang lebih penting adalah aspek emosional atau motivasi saat saya memiliki seseorang (rival, red) yang masih muda dan hampir selalu menang,” kata Sinner. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG