Buka konten ini

LINGGA (BP) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga terus berupaya memperkuat fiskal daerah melalui optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Salah satu langkah konkret dilakukan lewat Rapat Koordinasi Optimalisasi PAD yang digelar Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lingga, Senin (14/7), di ruang rapat kantor Bapenda.
Rapat ini menjadi ruang diskusi terbuka antara pemerintah dan pelaku usaha, khususnya dalam menyosialisasikan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) atas jasa kesenian dan hiburan. Penerapan pajak ini mulai menjadi perhatian serius karena potensinya dalam mendongkrak PAD, seiring pulihnya sektor hiburan pasca-pandemi.
Sekretaris Bapenda Lingga, Kisan Jaya, yang membuka pertemuan menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif para pelaku usaha. Ia menegaskan bahwa tujuan kegiatan ini bukan untuk menekan usaha, melainkan untuk membangun pemahaman bersama.
“Kami ingin menciptakan sinergi yang sehat antara pelaku usaha dan pemerintah. Kegiatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi justru sebagai upaya menyosialisasikan kebijakan pajak secara terbuka dan transparan,” kata Kisan.
Kepala Bapenda Lingga, Safarudin, menambahkan bahwa optimalisasi PAD merupakan amanat nasional yang harus dijalankan setiap daerah. Namun, pelaksanaannya tetap mempertimbangkan keberlangsungan usaha masyarakat.
“PBJT sebesar 10 persen atas jasa hiburan bukan alat untuk mematikan usaha. Ini adalah bentuk kontribusi yang wajar dalam mendukung pembangunan daerah,” tegasnya.
Safarudin menekankan bahwa pendekatan yang dilakukan akan bersifat persuasif dan edukatif. Pemerintah juga berkomitmen memperkuat sistem pelaporan dan pengawasan agar pengelolaan pajak berlangsung secara adil dan akuntabel.
“Dengan tata kelola yang baik, pajak daerah justru bisa menjadi instrumen pembangunan yang tidak memberatkan, apalagi kalau dibarengi dengan edukasi yang tepat kepada pelaku usaha,” imbuhnya.
Sektor jasa hiburan lokal dinilai mulai menunjukkan geliat setelah terdampak pandemi. Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan pelaku usaha, potensi ini diyakini bisa menjadi sumber PAD yang berkelanjutan. (*)
Reporter : Vatawari
Editor : GALIH ADI SAPUTRO