Buka konten ini
BATAM (BP) – Penerimaan siswa baru tahun ajaran 2024/2025 di Batam masih menyisakan harapan dan kekecewaan bagi sejumlah orangtua. Meski proses seleksi berbasis sistem zonasi dan pemerataan telah selesai, masih ada orangtua yang berharap anaknya dapat diterima di sekolah negeri yang lebih dekat dari rumah. Beberapa bahkan mengaku keberatan jika anak mereka ditempatkan di sekolah yang jaraknya terlalu jauh.
Di kawasan Batuaji dan Sagulung, sejumlah orangtua mengungkapkan belum mendapatkan sekolah yang sesuai untuk anak mereka. Beberapa di antaranya masih menunggu kesempatan untuk bisa masuk ke sekolah favorit seperti SMKN 5 atau SMKN 1 Batam, meskipun dua sekolah tersebut telah menyatakan kuota sudah penuh.
“Anak saya masih ingin masuk SMKN 5. Kami berharap masih ada peluang, karena memang dekat dan kualitasnya bagus,” ujar Agus, salah satu orangtua di Sagulung.
Situasi ini terjadi lantaran masih banyak lulusan SMP/MTs yang menaruh harapan besar pada sekolah-sekolah negeri yang dianggap favorit. Namun, karena keterbatasan daya tampung (RDT), mereka dialihkan ke sekolah lain melalui sistem pemerataan. Sayangnya, tidak semua orangtua langsung menerima penempatan tersebut, terutama jika lokasi sekolah dianggap terlalu jauh dari tempat tinggal.
Kepala Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Kepri Cabang Batam, Kasdianto, mengatakan bahwa proses pemerataan masih berlangsung.
“Untuk SMA negeri, kami masih punya cukup RDT di sejumlah sekolah. Jadi, bagi yang belum tertampung atau belum mendaftar sama sekali, bisa segera mencari sekolah yang masih tersedia kuotanya,” ujarnya.
Namun, untuk jalur SMK, hampir semua sekolah negeri di Batam dinyatakan sudah penuh. Satu-satunya opsi yang kini disiapkan adalah rencana konversi SMAN 27 Batam di Batuaji menjadi SMKN 12.
“Ini solusi untuk mengatasi penumpukan di SMK. Kita ubah status sekolah untuk menambah daya tampung jalur kejuruan,” kata Kasdianto.
Konversi SMAN 27 menjadi SMKN 12 diharapkan dapat membantu menampung siswa baru yang ingin melanjutkan pendidikan kejuruan, terutama di wilayah Batuaji dan sekitarnya. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk pemerataan akses pendidikan menengah di Batam.
Dinas Pendidikan Kepri menegaskan bahwa prinsip utama dalam penerimaan siswa baru adalah memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat, terutama bagi keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Meski demikian, pihak dinas tetap mendorong masyarakat yang secara finansial mampu untuk mempertimbangkan sekolah swasta sebagai alternatif.
“Tugas kami memastikan semua anak yang ingin sekolah di negeri bisa tertampung. Namun, tentu tidak semua bisa masuk ke sekolah tertentu (favorit). Pemerataan harus jadi solusi bersama,” tambah Kasdianto.
Terkait bantuan pembiayaan pendidikan seperti subsidi SPP di sekolah swasta, hingga saat ini belum ada pembahasan lanjutan. Fokus utama pemerintah masih pada penuntasan penempatan siswa di sekolah negeri.
Dinas Pendidikan juga terus membuka layanan informasi dan konsultasi bagi orangtua yang masih mencari solusi pendidikan untuk anaknya. (*)
Reporter : Eusebius Sara
Editor : RYAN AGUNG