Buka konten ini
EAST RUTHERFORD (BP) – Piala Dunia 2026 di Kanada-Amerika Serikat-Meksiko diselenggarakan pada musim panas. Sama seperti perhelatan Piala Dunia Antarklub 2025 di Amerika Serikat. Alhasil, masalah suhu panas yang dikeluhkan di PD Antarklub menjadi isu utama dalam PD 2026.
Suhu udara terpanas pada Juni–Juli di AS diperkirakan mencapai 38 derajat Celsius. Seperti dalam semifinal antara Chelsea versus Fluminense di MetLife Stadium, East Rutherford (9/7). ”Bermain dalam suhu panas sangat berbahaya. Aku sempat merasakan pusing dan ingin secepatnya berbaring ke tanah,” kata gelandang Chelsea, Enzo Fernandes seperti dilansir di laman resmi FIFA.
”Tim yang tidak banyak memainkan bola malah tidak diuntungkan (saat bermain dalam suhu panas karena hanya mengejar lari bola dan berdampak cepat pusing, red),” sahut kapten Chelsea, Reece James, kepada NBC.
FIFA pun sudah mempelajari salah satu handicap tersebut. “Tentu saja, suhu udara panas menjadi isu terbesar. Tahun lalu, situasi serupa juga terjadi dalam Olimpiade Paris,” kata Presiden FIFA Gianni Infantino di laman resmi federasi, Minggu (13/7).
Cooling break jadi salah satu terobosan mengatasi suhu udara panas yang masih akan diadopsi FIFA. Di luar itu, menyiasati infrastruktur jadi upaya mengatasi panasnya suhu udara. Yaitu memaksimalkan stadion dengan atap buka-tutup. “Kami sudah memiliki stadion dengan atap buka-tutup. Kami akan memakainya (di PD 2026),” ucap Infantino.
Belum semua stadion di Piala Dunia 2026 yang punya atap buka-tutup. Hanya empat stadion yang memilikinya. Di antaranya AT&T Stadium (Dallas), NRG Stadium (Houston), Mercedes-Benz Stadium (Atlanta), dan BC Place di Vancouver. Mercedes-Benz Stadium satu-satunya yang ada di PD Antarklub.
Untuk 12 stadion lainnya masih belum menggunakannya. Bahkan, beberapa di antaranya dengan kondisi atap tidak mampu menutupi keseluruhan kursi penonton. Alhasil, kursi yang dekat lapangan akan lebih terpapar sinar matahari.
Dikutip dari Indian Express, FIFA memungkinan untuk menggunakan cara yang sama seperti di PD Qatar 2022 dalam menyiasati suhu panas. Yaitu diredam dengan memasang pendingin udara (air conditioner/AC) di dalam stadion.
Selain itu, FIFA didesak oleh FIFPro (asosiasi pesepak bola profesional dunia) untuk memprioritaskan kondisi suhu udara ketika menentukan kickoff laga. Bukan aspek komersial hak siar TV. “Lebih banyak laga kickoff malam hari bisa mengurangi kemungkinan suhu udara panas terjadi,” kata Direktur Kebijakan dan Strategi Relasi FIFPro Alexander Bielefeld. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG