Buka konten ini
GAZA (BP) – Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza, Minggu (13/7), menewaskan sedikitnya 43 warga Palestina. Dilansir dari channelnewsasia.com, serangan mematikan itu menghantam sejumlah lokasi padat penduduk, termasuk sebuah pasar dan titik distribusi air di kamp pengungsi Nuseirat.
Juru Bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal, mengatakan dari jumlah korban tersebut, 11 orang tewas saat pasar di Kota Gaza dihantam rudal. Sementara 10 orang lainnya, termasuk delapan anak, tewas dalam serangan drone di fasilitas air bersih di kawasan pengungsi Nuseirat, Gaza tengah.
“Kami terbangun oleh dua ledakan besar,” kata Khaled Rayyan, warga Nuseirat kepada AFP. “Tetangga kami dan anak-anak mereka tertimbun reruntuhan,” lanjutnya.
Di Gaza selatan, serangan jet tempur Israel juga menewaskan tiga orang yang tengah berlindung di tenda pengungsi di wilayah pesisir Al-Mawasi.
Sementara serangan terus berlanjut, upaya gencatan senjata justru menemui jalan buntu. Delegasi Israel dan Hamas yang tengah berada di Doha, Qatar, sudah sepekan melakukan perundingan, namun hingga Sabtu (12/7), kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan tercapainya kesepakatan.
Situasi kemanusiaan pun makin memburuk. Tujuh badan PBB mengeluarkan peringatan bahwa krisis bahan bakar telah mencapai tingkat kritis. Kondisi ini mengancam distribusi bantuan, pelayanan rumah sakit, serta memperparah kelangkaan pangan yang sudah kronis.
150 Target Diserang
Meski belum mengomentari serangan terbaru, militer Israel menyatakan bahwa dalam 24 jam terakhir, jet-jet tempur mereka telah menggempur lebih dari 150 target yang disebut sebagai “sasaran teroris” di seluruh Jalur Gaza. Target itu mencakup militan bersenjata, gudang senjata, serta posisi penembak jitu dan peluncur anti-tank.
Namun, pembatasan media dan akses di wilayah konflik membuat lembaga independen, termasuk AFP, kesulitan untuk memverifikasi klaim jumlah korban maupun kerusakan yang terjadi.
Konflik saat ini dipicu oleh serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu, yang menewaskan 1.219 orang—mayoritas warga sipil—berdasarkan catatan resmi yang dihimpun AFP. Dari 251 orang yang disandera Hamas, 49 masih ditahan di Gaza, termasuk 27 yang diyakini telah meninggal dunia.
Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, jumlah warga Palestina yang tewas akibat serangan Israel telah mencapai 58.026 jiwa. PBB menyatakan bahwa angka tersebut dapat dipercaya, dan sebagian besar korban adalah warga sipil.
Kekhawatiran Pengungsian Paksa
Negosiasi untuk mengakhiri konflik juga dibayangi oleh tuduhan rencana pengusiran massal. Hamas menuntut penarikan total pasukan Israel dari wilayah Gaza. Namun, seorang sumber Palestina yang mengetahui jalannya perundingan menyebut Israel justru berniat mempertahankan pasukannya di lebih dari 40 persen wilayah tersebut.
Bahkan, ada kekhawatiran Israel akan memaksa ratusan ribu warga Palestina untuk berpindah ke Gaza selatan, sebagai upaya awal mendorong mereka keluar ke Mesir atau negara ketiga.
Seorang pejabat senior Israel menolak tuduhan tersebut. Ia menyatakan, pemerintahnya telah menunjukkan fleksibilitas dalam perundingan, sementara Hamas tetap bersikukuh pada tuntutan yang menghambat kemajuan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bersedia memasuki tahap pembicaraan damai jangka panjang, namun hanya jika Hamas sepenuhnya melucuti senjata.
Di sisi lain, ribuan warga Israel turun ke jalan di Tel Aviv, Sabtu lalu. Mereka mendesak pemerintah segera mengupayakan pembebasan para sandera yang masih ditahan Hamas.
“Jendela kesempatan itu terbuka sekarang. Dan tak akan terbuka lama,” kata Eli Sharabi, salah satu mantan sandera yang berhasil dibebaskan. (***)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MUHAMMAD NUR