Buka konten ini
SEBANYAK 50.543 jiwa tercatat masuk ke Kota Batam hingga awal Juli 2025. Data ini berdasarkan 28.015 Surat Keterangan Pindah Warga Negara Indonesia (SKPWNI) yang diterbitkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Batam. Dari jumlah tersebut, 39.731 adalah perempuan dan 10.812 laki-laki.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdukcapil Kota Batam, Yusfa Hendri, mengatakan, jumlah penduduk yang datang ke Batam masih lebih tinggi dibandingkan yang pindah keluar. Tercatat, sebanyak 36.291 jiwa keluar dari Batam melalui 17.134 SKPWNI, terdiri dari 18.029 laki-laki dan 18.262 perempuan.
“Jumlah pendatang yang masuk memang lebih banyak dibanding yang pindah keluar. Sebagian besar pendatang ini berada di usia produktif dan datang ke Batam untuk mencari pekerjaan,” ujar Yusfa, Rabu (9/7).
Ia menjelaskan, perpindahan penduduk ke Batam dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti peluang kerja yang besar, penempatan tugas, mengikuti keluarga, hingga melanjutkan pendidikan. Batam yang merupakan kawasan industri dan perdagangan yang berkembang pesat, menjadi daya tarik utama—terutama bagi warga dari Pulau Sumatera dan Jawa.
Menurutnya, mayoritas pendatang berasal dari Pulau Sumatera, khususnya dari Provinsi Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Barat. Sementara itu, warga yang pindah keluar dari Batam umumnya menuju daerah di luar Pulau Sumatera serta beberapa kabupaten/kota lain di Provinsi Kepulauan Riau.
Beberapa kecamatan di Batam juga mencatat lonjakan jumlah pendatang. Kecamatan Sekupang menjadi wilayah dengan pendatang terbanyak, yakni 8.949 jiwa, disusul Sagulung sebanyak 8.892 orang, dan Batam Kota 7.723 orang.
Sebaliknya, Batam Kota juga menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak yang mengurus surat pindah keluar, yakni 5.930 orang, disusul Sagulung 5.540 orang, dan Sekupang 5.377 orang.
“Kebanyakan pendatang datang dengan tujuan mencari pekerjaan,” ujarnya.
Yusfa menambahkan, setiap permohonan pindah masuk maupun keluar harus melalui proses verifikasi yang ketat untuk memastikan keakuratan data dan mencegah penyalahgunaan dokumen.
“Semua berkas diverifikasi, mulai dari catatan administrasi hingga pencocokan data. Kami tidak sembarangan mengeluarkan surat keterangan pindah,” tegasnya.
Salah seorang pendatang, Firdaus (19), mengaku baru seminggu berada di Batam dan langsung mengurus surat pindah. Ia datang dari kampung halamannya dengan harapan bisa mendapat pekerjaan.
“Baru seminggu di Batam, saya langsung urus surat pindah. Mudah-mudahan bisa segera dapat pekerjaan,” ujarnya.
UMK Tinggi dan Akses Mudah Picu Urbanisasi
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam merilis adanya fenomena banyaknya pendatang ke Batam bukanlah hal baru dan sulit untuk dihindari. Setiap tahun, terutama pasca-Lebaran, Batam selalu menjadi titik masuk bagi para perantau yang ingin mengadu nasib.
”Untuk wilayah Pulau Sumatra, Batam menjadi kota paling favorit. Itu karena statusnya sebagai kota industri,” ujar Rudi Sakyakirti yang kala itu masih menjabat Kepala Disnaker Batam, Kamis (3/4) lalu.
Selain sebagai pusat industri, daya tarik Batam juga terletak pada Upah Minimum Kota (UMK) yang cukup tinggi. Saat ini, UMK Batam mencapai Rp5 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah daerah lain di Indonesia. Kondisi ini menjadikan Batam magnet bagi pencari kerja dari berbagai penjuru.
Namun, Rudi menekankan bahwa tidak semua pendatang bisa langsung terserap di dunia kerja. Mereka harus memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri di Batam. Tanpa keahlian, persaingan di pasar kerja yang ketat akan menjadi tantangan berat.
”Keahlian ini jadi tantangan bagi pendatang. Kami tidak bisa melarang mobilisasi penduduk, tetapi kami imbau punya bekal keterampilan yang sesuai karakteristik industri di Batam,” ujarnya.
Rudi menyebut peningkatan jumlah pendatang tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga didorong oleh kemudahan akses transportasi. Batam memiliki konektivitas yang baik, baik melalui udara maupun laut.
”Batam ini selain punya transportasi udara, juga terhubung lewat jalur laut. Ini juga yang mendorong derasnya arus pendatang ke kota ini,” tutupnya. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK