Buka konten ini
DEN HAAG (BP) – Badan intelijen militer Belanda mengungkap bukti penggunaan senjata kimia secara luas oleh pasukan Rusia dalam perang di Ukraina. Temuan itu mencakup penggunaan gas beracun yang dijatuhkan dari drone ke parit-parit pertahanan, memaksa prajurit Ukraina keluar dari persembunyian dan menjadi sasaran tembak.
“Kesimpulan utama kami, Rusia semakin intensif menggunakan senjata kimia,” kata Menteri Pertahanan Belanda, Ruben Brekelmans, dalam wawancara dengan Reuters yang dilansir channelnewsasia.com, Jumat (28/6). Tren ini mengkhawatirkan karena menunjukkan praktik yang semakin dinormalisasi, distandardisasi, dan meluas.
Bersama Peter Reesink, Kepala Badan Intelijen Militer Belanda (MIVD), Brekelmans, menyampaikan bahwa informasi ini berasal dari intelijen independen mereka sendiri. Salah satu zat kimia yang teridentifikasi adalah chloropicrin, agen pernapasan beracun yang pertama kali digunakan dalam Perang Dunia I. Zat ini sudah lama masuk dalam daftar larangan Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), lembaga yang bermarkas di Den Haag.
Amerika Serikat sebelumnya, pada Mei 2024, lebih dahulu menuduh Rusia menggunakan chloropicrin senyawa kimia yang lebih toksik daripada gas pengendali massa biasa. Ukraina juga menuding Rusia telah menggunakan senjata kimia dalam ribuan insiden di garis depan.
Namun, hingga kini tuduhan dari kedua belah pihak belum cukup kuat untuk ditindaklanjuti secara resmi oleh OPCW. “Kami belum menerima permintaan penyelidikan dari negara anggota, kata juru bicara organisasi itu. Rusia sendiri membantah keras tuduhan tersebut dan menuding balik Ukraina sebagai pelaku. Mereka mengklaim menemukan klaster bahan peledak berisi chloropicrin di wilayah timur, yang disebut sebagai milik militer Ukraina. Tuduhan itu dibantah Kyiv.
Brekelmans mencatat, setidaknya tiga kematian tentara Ukraina telah dikaitkan dengan senjata kimia, dan lebih dari 2.500 orang mengalami gejala paparan seperti iritasi pernapasan dan luka bakar internal. Ancaman ini bukan hanya untuk Ukraina. Ini juga soal keamanan regional dan internasional,” ujarnya.
Bukan Aksi Tunggal, tapi Program Sistematis
Menurut Reesink, data menunjukkan bahwa penggunaan senjata kimia oleh Rusia bukan lagi insiden sporadis di medan tempur, melainkan bagian dari program militer berskala besar. Indikasinya mencakup pengembangan fasilitas riset, perekrutan ilmuwan, hingga instruksi resmi dari komando militer.
“Ini bukan improvisasi di garis depan. Ini sudah terencana dan menjadi bagian dari strategi militer,” kata Reesink. Ia juga mengungkap temuan penggunaan chloropicrin melalui amunisi buatan tangan, seperti lampu bohlam dan botol kosong yang digantung pada drone, serta modifikasi gas air mata menjadi senjata kimia berbahaya. (***)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MUHAMMAD TAHANG