Buka konten ini
TEL AVIV (BP) – Perang selama 12 hari antara Iran-Israel menimbulkan korban yang tidak sedikit. Menurut data Kementerian Kesehatan Israel, sebanyak 27 orang tewas dan 3.238 lainnya dirawat di rumah sakit akibat serangan Iran.
Perang tersebut diawali serangan Israel pada fasilitas nuklir dan balistik Iran pada 13 Juni lalu. Mereka berdalih serangan itu untuk meng-halau ancaman senjata nuklir Iran.
Selama 12 hari perang, Iran menembakkan 550 rudal balistik. Selain itu, ada 1.000 drone atau pesawat tanpa awak yang dikirim ke wilayah Israel. Akibatnya, korban sipil tidak bisa dihindari. Serangan rudal pada 15 Juni lalu, misalnya, menghantam apartemen di Bat Yam, Israel.
Dalam kejadian itu, sembilan orang tewas. Lima di antaranya adalah warga Ukraina. Mereka pindah ke Israel pada 2022 untuk pengobatan Anastasia Buryk yang menderita kanker. Ironisnya, bocah 7 tahun itu pindah ke Israel bersama keluarganya untuk menghindari perang di Ukraina. Namun, kini mereka justru menjadi korban akibat perang juga.
Sementara itu, Iran merilis korban serangan Israel di Penjara Evin, Teheran, Senin (30/6). Juru bicara kehakiman Asghar Jahangir menyebut, sedikitnya 71 orang tewas dalam serangan itu. Para korban terdiri atas staf penjara, tentara, tahanan, hingga anggota keluarga yang berkunjung.
Belum ada kejelasan siapa saja yang meninggal dalam insiden itu. Namun, peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi juga dipenjara di situ. Sejauh ini belum ada konfirmasi mengapa Israel menyerang penjara tersebut.
Saat ini Iran-Israel memang sedang mengadakan gencatan senjata. Namun, pihak Iran meragukan gencatan berlangsung lama. ”Kami memiliki keraguan serius atas kepatuhan musuh terhadap komitmennya, termasuk gencatan senjata,” kata Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Abdolrahim Mousavi seperti dilansir Alarabiya.net. Karena itu, dia menegaskan bahwa negaranya siap meladeni jika Israel menyerang lagi.
Sebagian pengamat politik dan militer meragukan jika serangan Israel disebabkan oleh kekhawatiran pada potensi berkembangnya senjata nuklir Iran. Ilmuwan politik Universitas Johns Hopkins Vali Nasir menyatakan, perang 12 hari itu sejatinya hanya untuk mengukuhkan dominasi Israel sebagai kekuatan utama di Timur Tengah. Israel semakin percaya diri karena mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Bagi AS, kerja sama dengan Israel juga menguntungkan. Sebab, selama ini mereka kesulitan mengubah dominasi rezim di Iran. ”Amerika tidak memiliki opsi lain. Tapi, mereka harus hati-hati mempermalukan Teheran. Sebab, hal itu bisa menyebabkan konsekuensi jangka panjang,” katanya seperti dilansir Al Jazeera.
Keputusan Trump membekingi Israel sebenarnya mendapat perlawanan dari beberapa tokoh AS. Bahkan, senator Amerika Chris Van Hollen menyatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hanya mengakali Trump. ”Ada risiko nyata bagi Amerika Serikat, yakni akan semakin terseret dalam perang ini,” ujarnya.
Pada bagian lain, Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menyatakan bahwa pengayaan uranium adalah hak negaranya. ”Untuk menjaga aktivitas nuklir damai, kami akan selalu melakukan dengan cara damai,” katanya seperti diungkap The Week.
Dia juga menambahkan bah-wa Teheran siap berunding. Namun, bukan dalam waktu dekat. Sebab, Iran menganggap pertemuan saat ini tidak tepat. Dia juga menegaskan bahwa negaranya tidak pernah mengajukan permintaan untuk bertemu dan berunding dengan Amerika.
Kemenlu Sudah Evakuasi 123 WNI
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengungkapkan, hingga kemarin ada 123 warga negara Indonesia (WNI) yang telah dievakuasi dari Iran dan Israel. Detailnya, 97 WNI di Iran dan 26 lainnya di Tel Aviv, Yerusalem, dan Arafah.
Sugiono menjelaskan, proses evakuasi WNI di Iran dilakukan melalui Azerbaijan. Rencana evakuasi telah disusun sejak serangan Israel ke Iran pada 13 Juni 2025. Ia telah menginstruksikan jajarannya untuk memantau kondisi Iran serta menyiapkan rencana-rencana kontingensi.
Hingga akhirnya, pada 15 Juni 2025, setelah terjadi serangan ke Iran, pemerintah Indonesia memutuskan untuk meningkatkan status perlindungan WNI di sana. KBRI Teheran menaikkan status dari siaga II menjadi siaga I. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG