Buka konten ini
Kebakaran hutan melanda kawasan Uiseong, Korea Selatan, pada 22 Maret lalu. Dalam hitungan jam, api menyebar ke sebuah desa di daerah Yeongdeok. Di tengah kepanikan, seorang nelayan asal Indonesia berjuang menyelamatkan puluhan nyawa. Namanya Sugiyanto.
Sugiyanto tengah beristirahat ketika cahaya merah menyala menerangi langit malam di kawasan Uiseong. Api dari hutan menjalar cepat menuju desa pesisir Chuksan-myeon, tempat tinggalnya, didorong angin kencang. Tanpa pikir panjang, pria 31 tahun itu langsung melompat dari tempat tidurnya.
Ia segera membangunkan Yoo Myung Shin, kepala desa nelayan setempat. Bersama-sama, mereka berlari menyu suri permukiman, dari rumah ke rumah, membangunkan warga yang masih terlelap.
”Nenek, ada kebakaran di gunung! Harus segera pergi!” teriak Sugiyanto, mengguncang pintu demi pintu.
Kebanyakan warga yang tinggal di desa itu adalah lansia. Tubuh mereka tak secepat dulu untuk bergerak apalagi menyelamatkan diri. Sugiyanto dan kepala desa lalu menggendong mereka di punggung, menuruni bukit sejauh sekitar 300 meter menuju daerah pemecah ombak—titik aman dari jilatan api.
“Saya sangat ketakutan saat melihat api sudah sampai ke toko di depan saya,” ucap Sugiyanto mengenang malam itu.
Desa Gyeongjeong 3-ri memang terletak di lereng pantai yang cukup curam. Jalur evakuasi tak mudah dilewati, apalagi oleh mereka yang telah sepuh. Tapi malam itu, berkat keberanian Sugiyanto dan kepala desa, tak ada satu pun korban jiwa.
“Kalau bukan karena dia, kami semua mungkin sudah mati,” tutur seorang nenek berusia 90 tahun.
“Saya tertidur saat menonton televisi, lalu terbangun karena teriakan ‘kebakaran!’. Saat saya buka pintu, dia sudah ada di sana dan langsung menggendong saya keluar.”
Sugiyanto sendiri mengaku tak sempat menghitung berapa banyak orang yang ia bawa lari malam itu. “Saya hanya ingat membangunkan banyak nenek-nenek, lalu menggendong mereka satu per satu menuruni bukit.”
Delapan tahun sudah ia tinggal di Korea Selatan sebagai nelayan. Meskipun jauh dari keluarga—istri dan putra semata wayangnya yang baru berusia lima tahun di Indonesia—Sugiyanto telah menjadi bagian dari komunitas di desa itu.
“Saya mencintai Korea. Penduduk desa sudah seperti keluarga sendiri. Meskipun saya baru bisa pulang tiga tahun lagi, istri saya menelepon dan bilang sangat bangga kepada saya,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Sugiyanto fasih berbahasa Korea, cukup untuk bercengkerama dan menjalin keakraban dengan warga sekitar. Dan malam itu, keberaniannya menyelamatkan 60 penduduk dari 80 rumah tangga di desa membuatnya dijuluki pahlawan.
“Kami berharap pemuda luar biasa ini bisa terus tinggal dan bekerja di sini,” ujar seorang warga yang berterima kasih atas aksi heroik Sugiyanto.
Baginya, tidak ada yang lebih melegakan selain melihat seluruh warga selamat. “Saya puas. Tidak ada yang terluka,” ujarnya pelan.
Malam itu, seorang nelayan dari Indonesia telah menyelamatkan sebuah desa di negeri orang. Bukan karena tugas, melainkan karena nurani. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : MUHAMMAD NUR