Buka konten ini

TANJUNGPINANG (BP) – Ratusan warga Kota Tanjungpinang menggelar salat istiska (salat minta hujan) di Lapangan Pamedan, Jumat (13/2). Salat ini dilaksanakan di tengah kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda ibu kota Provinsi Kepulauan Riau tersebut.
Jemaah yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, aparatur sipil negara (ASN), hingga warga sekitar.
Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza, mengatakan salat istisqa digelar karena hujan tidak turun selama beberapa bulan terakhir sehingga memicu kekeringan dan berkurangnya pasokan air bersih.
“Kita lakukan salat istiska karena beberapa bulan ini hujan tidak turun dan menyebabkan kekeringan serta berkurangnya air bersih,” ujarnya.
Ia mengakui masyarakat khawatir jika musim kemarau terus berkepanjangan. Karena itu, Pemerintah Kota Tanjungpinang berinisiatif menggelar doa bersama agar hujan segera turun.
“Kita berharap hujan dapat segera turun dan membasahi Tanjungpinang,” tambahnya.
Raja Ariza juga menyoroti kehadiran ASN dalam kegiatan tersebut yang dinilai belum maksimal, meski sebelumnya telah diimbau untuk turut serta.
“Mungkin mereka melaksanakan salat di masjid masing-masing, tetapi sudah kami imbau untuk ikut,” tegasnya.
Ia menambahkan, kebutuhan air warga Tanjungpinang masih bergantung pada Waduk Sungai Pulai dan Waduk Gesek. Namun, debit air di kedua waduk tersebut terus mengalami penyusutan akibat kemarau.
“Kita khawatir jika kondisi ini terus berlanjut. BPBD Tanjungpinang juga masih menyuplai air ke rumah-rumah warga yang mengalami kekeringan,” pungkasnya.
Sementara itu, kemarau berkepanjangan yang melanda Kabupaten Lingga hampir tiga bulan terakhir juga berdampak luas. Kebakaran hutan dan lahan terjadi hampir setiap hari, sementara sejumlah sumber air di desa-desa mulai mengering.
Kondisi tersebut mendorong jajaran Kecamatan Singkep Barat bersama masyarakat menggelar salat istiska, Jumat (13/2).
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Singkep Barat, Susy Yenti, mengatakan salat istisqa digelar sebagai bentuk ikhtiar bersama agar hujan segera turun dan kemarau panjang berakhir.
“Hari ini alhamdulillah kami sudah melaksanakan salat istiska. Harapan kami, kemarau berkepanjangan ini segera berakhir,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salat istiska dipusatkan di Masjid Al-Islamiyah, Kelurahan Raya, dan diikuti unsur kecamatan, TNI-Polri, serta masyarakat. Pihak kecamatan juga telah mengirimkan surat imbauan kepada desa-desa lain di wilayah Singkep Barat untuk melaksanakan kegiatan serupa secara serentak.
“Untuk desa lain, kami sudah memberikan imbauan agar melaksanakan salat istiska secara bersama-sama,” ungkapnya.
Menurut Susy, dampak kemarau tidak hanya memicu kebakaran lahan, tetapi juga menyulitkan petugas saat melakukan pemadaman karena terbatasnya sumber air. Dalam beberapa kejadian kebakaran di wilayah Singkep Barat, petugas kesulitan mendapatkan pasokan air.
Ia menegaskan, salat istisqa merupakan bentuk ikhtiar spiritual masyarakat. Namun, kesadaran menjaga lingkungan juga harus terus ditingkatkan agar terhindar dari bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan.
“Ini bentuk ikhtiar kita sebagai manusia untuk memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan, khususnya di Singkep Barat. Tapi kita juga harus menjaga lingkungan agar terhindar dari bencana,” pungkasnya. (*)
Reporter : VATAWARI – MOHAMAD ISMAIL
Editor : GUSTIA BENNY