Buka konten ini

Target eliminasi hepatitis pada 2030 bukan perkara mudah. Penyakit hepatitis yang kerap datang tanpa gejala ini masih menjadi ancaman diam-diam bagi masyarakat. Dokter mengingatkan, vaksinasi adalah kunci utama pencegahan, terutama untuk hepatitis B, selain deteksi dini dan perubahan gaya hidup. Masyarakat diminta lebih peduli, mengenali penyebab, gejala, hingga cara penularan hepatitis agar tidak menjadi bagian dari angka kasus yang terus bertambah.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastro Entero Hepatologi di Rumah Sakit Awal Bros, Konsultan Penyakit Hati dan Saluran Cerna. Foto: Humas Rumah Sakit Awal Bros Batam
HEPATITIS adalah peradangan pada hati. Istilah ini berasal dari kata “hepar” (hati) dan “itis” (peradangan). Menurut dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastro Entero Hepatologi di Rumah Sakit Awal Bros, dr. Arif Koswandi, Sp.PD, KGEH, FINASIM, di Batam, sebagian besar pasien hepatitis datang ke dokter sudah dalam kondisi stadium lanjut.
“Biasanya ketahuannya secara tidak sengaja. Ada yang saat medical check-up, pemeriksaan Hepatitis B pada ibu hamil, hasilnya positif hepatitis. Ada juga yang ingin donor darah, tapi saat diperiksa ternyata positif. Jadi akhirnya tidak bisa donor,” jelas dr Arif saat diwawancarai di Batam.
Karena tanpa keluhan, banyak pasien baru datang saat penyakit hepatitisnya sudah parah, bahkan sudah masuk tahap sirosis atau pengerasan hati. Padahal, menurut dokter Arif perjalanan hepatitis kronis menuju sirosis butuh waktu lama, sekitar 15–20 tahun. Tahapan itu dimulai dari fibrosis yaitu proses terbentuknya jaringan parut di hati. “Fibrosis ini bisa diobati. Tujuannya agar tidak berkembang menjadi sirosis,” ujarnya.
Dulu, untuk mengetahui tingkat fibrosis, pasien harus menjalani biopsi hati. Namun sekarang sudah ada alat bernama Fibroscan. “Dengan Fibroscan, kita bisa mendeteksi tingkat kerusakan hati sejak awal. Dari fibrosis tahap 1, 2, 3, sampai sirosis. Kalau ketahuan lebih awal, pengobatannya bisa lebih cepat,” jelasnya.
Di Rumah Sakit Awal Bros, alat Fibroscan sudah tersedia sejak lama. Maka, setiap pasien yang terdeteksi positif Hepatitis B atau C tanpa gejala, disarankan langsung menjalani pemeriksaan Fibroscan. “Kalau hasil Fibroscan menunjukkan sudah fibrosis, pengobatan harus segera dimulai. Supaya tidak berkembang jadi sirosis,” tegasnya.
Dokter Arif menambahkan, penderita hepatitis kronis berisiko mengalami gangguan kesehatan jangka panjang. Hepatitis disebut kronis jika berlangsung lebih dari enam bulan. “Kalau masih di bawah enam bulan, biasanya termasuk hepatitis akut dan bisa sembuh sendiri. Tapi kalau sudah lebih dari enam bulan, itu disebut hepatitis kronis,” jelasnya.
Hepatitis kronis adalah peradangan hati yang berlangsung menahun. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi sirosis hati bahkan gagal hati.
Dokter Arif menjelaskan, banyak faktor yang menjadi penyebab hepatitis, namun yang paling sering adalah disebabkan oleh virus.
Ada lima jenis virus hepatitis yaitu Hepatitis A, B, C, D, dan E. Namun yang paling menjadi perhatian adalah Hepatitis B dan Hepatitis C karena keduanya dapat berkembang menjadi hepatitis kronis (menahun). Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat berlanjut menjadi sirosis (pengerutan atau pengerasan hati) bahkan kanker hati.
Selain virus, penyebab lain hepatitis adalah perlemakan hati, yang kini jumlah penderitanya semakin meningkat akibat pola hidup yang kurang sehat. “Misalnya pola makan berlebihan, konsumsi makanan tinggi lemak, kurang beraktivitas, serta penyakit metabolik seperti diabetes dan kolesterol tinggi. Ujung-ujungnya, perlemakan hati juga bisa berkembang menjadi hepatitis kronis,” kata dokter Arif.
Hepatitis bisa juga disebabkan dari efek samping obat-obatan tertentu, infeksi bakteri, atau parasit (protozoa). “Virus Hepatitis A dan E umumnya hanya menimbulkan infeksi akut dan bisa sembuh sendiri, sementara Hepatitis B dan C dapat menetap dalam tubuh,” ujarnya.
Penularan dan Gaya Hidup
Hepatitis B dan Hepatitis C dapat menular melalui darah atau cairan tubuh yang terinfeksi. Misalnya transfusi darah yang terkontaminasi, penggunaan jarum suntik bergantian, atau hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi.
“Yang perlu diwaspadai adalah penularan secara vertikal yaitu dari ibu hamil yang positif hepatitis B ke bayi yang dilahirkannya. Di Indonesia, ini penyumbang kasus terbanyak, hampir 50 persen,” tegas dokter yang kerap menangani pasien penyakit dalam ini.
Sementara itu, gaya hidup tak sehat juga bisa memicu peradangan hati, terutama akibat perlemakan hati. Penyebabnya antara lain konsumsi makanan tinggi lemak (junkfood), kurang aktivitas fisik, serta kondisi seperti obesitas, diabetes, dan kolesterol tinggi.
“Perlemakan hati bisa menjadi penyebab hepatitis kronis jika tidak ditangani,” ujarnya.
Gejala Hepatitis
Sayangnya, sebanyak 90 persen penderita hepatitis tidak menunjukkan gejala yang jelas. Itulah yang menjadi masalah. Jika ada gejala, biasanya tidak spesifik, seperti: badan terasa lemas, tidak nafsu makan atau mual, demam ringan, gejala seperti flu (batuk, pilek, meriang).
“Karena gejalanya samar, Biasanya ketahuan terinfeksi virus hepatitis saat medical check-up, donor darah atau saat pemeriksaan kehamilan. Saat kondisinya sudah parah, bahkan ada yang sudah sirosis,” tegasnya.
Sirosis biasanya terjadi akibat hepatitis yang tak bergejala. Karena tidak terdeteksi, penyakit ini bisa berlangsung bertahun-tahun hingga hati mengecil dan mengeras.
Penyebab sirosis hati bisa berasal dari infeksi virus maupun perlemakan hati. Keduanya merupakan penyebab penyakit hati kronis, jika dibiarkan dapat berujung pada sirosis dan kerusakan hati yang permanen.
Jika sudah tahap sirosis, gejala Hepatitis akan mulai muncul, antara lain: mata kuning, perut membesar, kaki bengkak, dan muntah darah. “Pada kondisi yang lebih berat, penderita hingga tidak sadarkan diri. Kondisi berat ini disebut dekompensata, ” kata dokter Arif.
Deteksi Dini & Pengobatan
Deteksi dini hepatitis bisa dilakukan melalui pemeriksaan darah. Ketika hasil pemeriksaan darah menunjukkan HBsAg positif. HBsAg (Hepatitis B surface antigen) adalah salah satu pemeriksaan darah untuk mendeteksi atau menyaring (screening) pasien dengan Hepatitis B.
“Jadi, meskipun tanpa keluhan, hasil tes bisa saja menunjukkan HBsAg positif. Saat ini, ada program pemerintah yang mewajibkan pemeriksaan HBsAg pada sampel darah,” ujarnya.
Sedangkan untuk Hepatitis C melalui anti-HCV (Hepatitis C Virus). Jika hasilnya positif, pemeriksaan lanjutan seperti Fibroscan dapat dilakukan untuk menilai tingkat kerusakan hati (fibrosis hingga sirosis).
“Dulu harus biopsi hati (mengambil sampel jaringan hati dengan jarum untuk diperiksa di bawah mikroskop). Sekarang cukup dengan alat Fibroscan. Lebih cepat, tidak sakit, dan hasilnya akurat,” ujarnya.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan positif Hepatitis, maka sebaiknya segera diobati dengan antivirus. Apalagi jika hati sudah mulai mengeras, jumlah virus dalam tubuh tinggi, atau fungsi hati terganggu—misalnya kadar SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) meningkat, yang cenderung menunjukkan kerusakan hati.
Pengobatan Hepatitis B dan C Sudah Tersedia
Hepatitis B dan Hepatitis C sama-sama bisa diobati dengan antivirus. Namun, hanya Hepatitis B yang memiliki vaksin. Artinya, jika seseorang belum terinfeksi dan antibodi (anti-HBs) dalam tubuhnya masih rendah, vaksinasi bisa diberikan sebagai langkah pencegahan.
Berbeda dengan Hepatitis B, Hepatitis C belum memiliki vaksin. Maka pencegahannya lebih pada menghindari faktor risiko. Misalnya, tidak berganti-ganti pasangan karena virus bisa menular lewat hubungan seksual, serta tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian karena virus bisa menyebar lewat darah.
Meski demikian, kata dokter Arif, risiko penularan melalui transfusi darah kini makin kecil karena semua darah yang disalurkan sudah melalui proses penyaringan dan dinyatakan bebas dari virus Hepatitis. “Kalau Hepatitis B ada vaksinnya.
Tapi kalau Hepatitis C tidak ada vaksin, hanya bisa dicegah,” katanya.
Pentingnya Vaksinasi
Vaksinasi Hepatitis B sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi seperti tenaga medis, pengguna narkoba suntik, atau mereka yang tinggal di lingkungan padat seperti lembaga pemasyarakatan.
“Ibu hamil wajib melakukan skrining Hepatitis B. Jika hasilnya positif, bayi harus langsung divaksinasi dalam 24 jam pertama, ditambah pemberian imunoglobulin untuk perlindungan maksimal,” paparnya.
Jika bayi tidak mendapat vaksinasi dan ibunya tidak terdeteksi positif Hepatitis B (karena ibu tidak melakukan tes HBsAg-skrining Hepatitis B), maka sejak lahir ia bisa langsung terinfeksi virus tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan banyak penderita mengalami sirosis atau kanker hati di usia muda (produktif).
“Justru kalau terinfeksinya saat dewasa, misalnya di usia 30 tahun, sebagian besar bisa sembuh,” jelas dokter. Namun, infeksi yang terjadi sejak bayi lebih berisiko menjadi Hepatitis B kronis.
Gaya Hidup Sehat Cegah Perlemakan Hati
Selain virus, perlemakan hati kini menjadi penyebab utama hepatitis kronis. Penyakit ini termasuk dalam kelompok MAFLD (Metabolic Associated Fatty Liver Disease) yang erat kaitannya dengan sindrom metabolik seperti obesitas, diabetes, dan kolesterol tinggi.
“Pencegahannya dengan menjaga berat badan, pola makan sehat, olahraga rutin, dan rutin cek kesehatan,” saran dokter. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : TUNGGUL