Buka konten ini
SEKUPANG (BP) – Kenaikan harga beras kembali menghantam pedagang kecil di Kota Batam. Di Kecamatan Sekupang, harga beras merek Raja Ketupat melonjak tajam, dari yang sebelumnya sekitar Rp270 ribu per karung ukuran 25 kilogram kini menembus Rp375 ribu.
Lonjakan harga tersebut membuat pedagang nasi kelimpungan. Seorang pedagang nasi di kawasan Sekupang Dewi mengaku terkejut dengan kenaikan harga yang dinilainya jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya naik paling Rp20 ribu masih bisa ditoleransi. Ini bukan puluhan ribu lagi, sudah lebih dari Rp100 ribu. Ngeri kali naiknya. Untung waktu itu bawa uang,” ujarnya, Selasa (26/1).
Meski biaya produksi terus meningkat, ia mengaku tidak berani menaikkan harga jual nasi. Menurutnya, kenaikan harga dikhawatirkan membuat pembeli beralih ke tempat lain.
“Harga tetap sama. Kalau dinaikkan nanti pembeli lari. Untung kami jadi tipis sekali,” katanya.
Tak hanya beras, sejumlah bahan pokok lain juga mengalami kenaikan harga. Ayam potong kini dijual sekitar Rp48 ribu per kilogram, sementara telur ayam mencapai Rp60 ribu per papan. Adapun harga minyak goreng dan cabai terpantau relatif stabil.
“Beras ini sudah yang paling murah yang bisa kami beli. Tahun lalu memang sempat naik, tapi paling tinggi Rp320 ribu per 25 kilogram, tidak sampai segini,” tambahnya.
Sementara itu, pantauan di sejumlah toko sembako di Sekupang, Selasa (26/1), menunjukkan pedagang ritel telah menaikkan harga beras hampir di semua merek, khususnya jenis premium dan platinum.
Beberapa merek beras premium seperti Harumas, Anak Ajaib, Horas, Minang Raya, Dunia Kijang, dan Ayam Pulen kini dijual menyentuh Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.400 per kilogram.
Seorang pedagang sembako, Iwan, mengungkapkan kenaikan harga beras terjadi secara bertahap sejak November 2025 dan tercatat sudah lima kali mengalami penyesuaian harga.
“Sejak Desember harga beras terus naik. Misalnya Harumas dan Anak Ajaib, awalnya masih Rp14 ribuan per kilo, sekarang sudah paling mahal, mentok di HET. Tidak bisa naik lagi,” ujarnya.
Ia mengakui, kondisi tersebut dikeluhkan banyak pedagang karena margin keuntungan semakin menipis. Bahkan, sebagian pedagang memilih menghabiskan stok lama dan menunda pembelian beras baru.
“Sekarang kami hanya menghabiskan stok. Kalau belanja beras baru, pasti dijual di atas HET,” katanya.
Kondisi ini membuat pedagang kecil, khususnya pedagang nasi dan pelaku usaha kuliner rumahan, berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, harga bahan baku terus meningkat, sementara di sisi lain daya beli masyarakat membuat mereka tak berani menaikkan harga jual. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : GALIH ADI SAPUTRO