Buka konten ini

KEBAKARAN kapal kembali terjadi di Galangan Kapal PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Kecamatan Batuaji, Kota Batam, Minggu (25/1) siang sekitar pukul 14.00 WIB. Kali ini, api melalap MV Elsa Regent dan menghanguskan bagian dek kapal.
Informasi yang dihimpun Batam Pos, kebakaran terjadi saat kapal tengah bersandar di KCP Jetty. MV Elsa Regent diketahui milik PT Elnusa Trans Samudera (ETSA).
“Iya, ada kebakaran kapal. Sudah ada beberapa mobil pemadam kebakaran yang masuk,” ujar Aldi, salah seorang pekerja di sekitar lokasi.
Pantauan Batam Pos, sejumlah unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi kejadian. Aparat Polsek Batuaji bersama Tim Inafis Polresta Barelang juga terlihat melakukan pengamanan dan pendataan di area galangan.
“Sampai sekarang masih proses pemadaman,” kata Aldi.
Kapolsek Batuaji, AKP Bayu Rizki membenarkan peristiwa tersebut. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam kebakaran kali ini.
“Tidak ada korban jiwa. Kapal ini tidak beroperasi dan sudah bersandar sekitar lima tahun,” ujarnya.
Berdasarkan pemeriksaan awal, polisi menemukan banyak kabel tembaga di bagian dek kapal. Api diduga muncul akibat paparan panas matahari terhadap material tersebut.
“Dugaan sementara seperti itu, tetapi kepastiannya masih kami selidiki lebih lanjut,” kata Rizki.
Ia menambahkan, MV Elsa Regent merupakan kapal eksplorasi yang digunakan untuk survei jaringan atau kabel bawah laut. Saat kejadian, kapal dalam kondisi kosong dan tidak ada aktivitas pekerjaan.
“Kapal ini kosong. Tidak ada aktivitas. Akses ke kapal juga harus menggunakan kunci dari pihak PT ASL,” ujarnya.
Diketahui, kebakaran kapal di kawasan PT ASL Shipyard telah beberapa kali terjadi sejak pertengahan tahun lalu. Dalam sejumlah insiden sebelumnya, belasan pekerja dilaporkan meninggal dunia, sehingga kembali memicu sorotan terhadap aspek keselamatan kerja di galangan tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepulauan Riau, Diky Wijaya, membenarkan kebakaran kapal MV Elsa Regent di kawasan PT ASL Shipyard.
“Kapal Elsa Regent yang kebakaran. Saat ini (kemarin) upaya pemadaman sedang dilakukan,” kata Diky saat dihubungi Batam Pos, Minggu (25/1) sore.
Ia memastikan saat kejadian kapal dalam kondisi kosong dan belum ada aktivitas pekerjaan, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.
“Kapal tersebut tidak ada aktivitas, belum ada pekerjaan apa pun. Tidak ada korban karena memang kapal ini kosong dan masih berada di PT ASL,” ujarnya.
Diky menyebut, pengawas ketenagakerjaan masih melakukan pendalaman untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran, mengingat kapal tersebut merupakan kapal pengangkut muatan minyak mentah.
“Masih diidentifikasi penyebabnya oleh pengawas, karena kapal ini kapal muatan minyak mentah,” katanya.
Terkait dugaan adanya aktivitas tank cleaning sebelum kejadian, Diky memastikan hal tersebut belum dilakukan. Ia juga menyebut MV Elsa Regent merupakan kapal milik anak perusahaan Pertamina.
“Belum ada kegiatan tank cleaning. Itu kapal anak perusahaan Pertamina,” ujarnya.
Serikat Pekerja Desak Operasional ASL Dihentikan
Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Logam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPL FSPMI) Kota Batam, Suprapto, mendesak pemerintah menghentikan seluruh aktivitas operasional PT ASL Shipyard menyusul kebakaran kembali terjadi di kawasan tersebut.
Menurut Suprapto, kebakaran yang melibatkan kapal yang diduga tengah menjalani proses docking itu menjadi bukti kegagalan penerapan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan kerja di PT ASL Shipyard.
“Ini harus dihentikan total, bukan sekadar dihentikan sementara lalu pekerjaan tetap berjalan. Polanya selalu begitu, akibatnya kecelakaan terus berulang dan korban terus berjatuhan,” tegas Suprapto.Berdasarkan pantauan di lapangan dan video yang beredar, api tampak membakar badan kapal berwarna putih disertai kepulan asap hitam pekat yang membumbung tinggi ke udara.
Suprapto menilai, pengabaian SOP keselamatan kerja menjadi persoalan utama yang selama ini dibiarkan.
“Masalahnya ada pada pengabaian SOP. Ini yang besar saja yang terekspos, yang kecil-kecil jangan-jangan tidak pernah muncul ke publik,” katanya.
Ia menegaskan, perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari manajemen utama hingga kontraktor dan subkontraktor.
“Bukan ditutup permanen, tetapi dihentikan sementara sampai ada perbaikan signifikan. Kalau tidak, kejadian seperti ini akan terus berulang,” ujarnya.
Terkait insiden terbaru, Suprapto mengaku belum memperoleh informasi pasti terkait keberadaan pekerja di atas kapal saat kebakaran terjadi.
“Saya mendapat informasi kebakaran sekitar satu jam setelah kejadian. Kapal itu informasinya sedang sandar di dermaga ASL. Apakah ada pekerja atau tidak, sampai sekarang belum jelas,” katanya.
Ia menegaskan, jika pemerintah kembali bersikap lunak, pihaknya siap melakukan aksi besar-besaran.
“Kalau tidak ada sikap tegas dan perbaikan nyata, kami siap melakukan aksi. Ini menyangkut nyawa pekerja,” pungkasnya.
Sebagai pengingat, kasus kebakaran kemarin menambah daftar panjang insiden fatal yang terjadi di lingkungan PT ASL Shipyard. Tahun lalu, galangan kapal yang sama juga menjadi lokasi tragedi ledakan dan kebakaran kapal MT Federal II.
Kasus kebakaran pertama yang melanda kapal MT Federal II yang bertipe Floating Storage & Offloading (FSO) itu terjadi saat kapal tengah menjalani perawatan di galangan kapal PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Selasa (24/6/2025) siang. Insiden tragis itu menewaskan empat pekerja dan melukai lima lainnya. Kasus kebakaran MT Federal II yang kedua tahun lalu terjadi pada Rabu (15/10/2025) dini hari dan menewaskan 14 pekerja. Ledakan kapal MT Federal II itu juga melukai puluhan lainnya.
Setelah melalui penyelidikan panjang, pihak kepolisian akhirnya menetapkan sejumlah tersangka dalam kasus ledakan kapal Federal II di galangan PT ASL Shipyard. Total, penyidik Satuan Reserse Kriminal Polresta Barelang menetapkan tujuh orang tersangka.
Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Debby Tri Andrestian menjelaskan, tersangka termasuk pimpinan perusahaan yang berstatus warga negara asing (WNA). (***)
Reporter : YOFI YUHENDRI – ARJUNA – RENGGA YULIANDRA
Editor : RATNA IRTATIK