Buka konten ini

SURABAYA (BP) – Harga saham emiten produsen nikel tampak menguat dalam sepekan terakhir. Namun, penguatan tersebut dinilai belum mencerminkan perbaikan fundamental yang solid. Kenaikan saham nikel lebih banyak dipicu sentimen jangka pendek, sementara kondisi pasar global komoditas ini masih dibayangi kelebihan pasokan.
CEO Mikirduit, Surya Rianto, menuturkan bahwa penguatan saham produsen nikel sejalan dengan lonjakan harga nikel di London Metal Exchange (LME) yang naik 10,64 persen dalam sepekan menjadi USD 15.758 per ton. Meski terlihat impresif, ia menilai kenaikan tersebut belum didukung perubahan struktural di pasar.
“Penguatan ini bersifat reaktif. Pasar merespons wacana pemangkasan produksi nikel di Indonesia. Faktanya, pasar nikel global masih berada dalam kondisi surplus ratusan ribu ton,” ujarnya, Jumat (26/12).
Surya menjelaskan, rencana pemerintah Indonesia untuk memangkas produksi nikel hingga 35 persen menjadi sekitar 250 juta ton pada 2026 memang langsung menarik perhatian pelaku pasar internasional. Hal itu tidak terlepas dari posisi Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, sekitar 55 juta metrik ton, jauh melampaui Australia yang berada di posisi kedua dengan 24 juta metrik ton.
Meski demikian, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk mengimbangi kondisi pasar. Berdasarkan proyeksi BMO Capital Markets, pasar nikel global diperkirakan masih mencatat surplus sekitar 240 ribu ton pada 2026. Bahkan, produsen nikel terbesar Rusia, Nornickel, memperkirakan kelebihan pasokan dapat mencapai 275 ribu ton pada tahun yang sama, meningkat dari surplus tahun ini yang diperkirakan sebesar 240 ribu ton.
“Dampak pemangkasan produksi belum terasa karena masih sebatas rencana. Dari sisi pasokan mungkin ada perbaikan, tetapi permintaan global masih lemah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti konsistensi kebijakan pemerintah. Pada akhir 2024, pemerintah sempat melempar wacana penurunan produksi hingga 150 juta ton pada 2025. Namun, realisasinya justru menunjukkan produksi bijih nikel Indonesia menembus 300 juta ton pada tahun ini.
Dalam jangka pendek, saham-saham nikel memang masih berpeluang melanjutkan tren penguatan. Namun, apabila harga nikel global kembali bergerak mendatar atau terkoreksi, tekanan terhadap saham emiten nikel berpotensi muncul kembali.
Surya menambahkan, lonjakan kinerja keuangan emiten nikel sepanjang 2025 juga perlu dicermati dengan hati-hati. Peningkatan tersebut sebagian dipengaruhi kondisi tidak normal pada 2024, ketika banyak emiten menghadapi kendala persetujuan RKAB sehingga penjualan tidak berjalan optimal hampir sepanjang paruh pertama tahun tersebut. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO