Buka konten ini
SELAMA ini, pembicaraan soal 1.000 hari pertama kehidupan anak kerap berhenti pada urusan gizi. ASI, makanan pendamping, vitamin—semuanya penting. Namun, ada satu hal mendasar yang sering luput: sentuhan orangtua.
Padahal, menurut dokter anak, sentuhan lembut ayah dan ibu memiliki peran besar dalam menentukan tumbuh kembang anak. Bukan hanya soal emosi, tetapi juga perkembangan otak, kecerdasan, hingga kualitas tidur si kecil.
Dokter Anak Rumah Sakit PELNI, dr. Damar Prasetya Ajie Putra, M.Sc., Sp.A., menjelaskan bahwa stimulasi berupa sentuhan selama 1.000 hari pertama kehidupan membantu pembentukan serabut-serabut otak anak. Serabut inilah yang berhubungan erat dengan kecerdasan atau IQ.
“Serabut-serabut otak itu terus bertambah. Pertambahannya sangat dipengaruhi oleh respons lingkungan, terutama stimulasi dari ayah dan ibu,” ujar dr. Damar.
Ia menegaskan, sentuhan sederhana seperti memeluk, menggendong, atau memijat anak bukan perkara sepele. Justru di situlah fondasi penting perkembangan otak anak dibangun.
Menurut dr. Damar, jika orang tua ingin kecerdasan anak berkembang optimal sesuai piramida belajar, maka stimulasi dasar harus diberikan sejak bayi. Dan sentuhan adalah stimulasi paling awal sekaligus paling mendasar.
“Kalau ingin anaknya pintar, jangan lupa peluk, gendong, pijat, dan sayangi anaknya. Dasarnya tetap sentuhan dari kedua orang tua,” kata dr. Damar saat kegiatan Rayakan Lembutnya Cinta Ibu di Hotel Santika Premiere Slipi, Jakarta.
Tak hanya berdampak pada kecerdasan, sentuhan juga berpengaruh besar terhadap perkembangan emosi anak. Sentuhan rutin, kata dr. Damar, dapat memicu keluarnya hormon oksitosin—hormon yang membangun rasa aman, kasih sayang, dan ikatan sosial.
“Hormon oksitosin bisa keluar lewat menyusui, tapi juga lewat gendong, menenangkan anak, dan sering menyentuhnya,” jelasnya.
Hormon ini membuat anak merasa nyaman dan terlindungi. Dampaknya, anak tumbuh dengan emosi yang lebih stabil dan memiliki keberanian untuk mengenal lingkungan sekitarnya.
Secara ilmiah, pengaruh sentuhan juga terlihat jelas. dr. Damar mengungkapkan hasil studi tahun 2021 yang menunjukkan pemindaian otak anak. Beberapa bagian otak yang mengatur emosi terlihat aktif ketika anak dipeluk oleh orang tuanya sendiri. Namun, area itu meredup saat anak digendong orang lain.
“Bayi itu tahu siapa yang menggendongnya. Kalau ayah atau ibunya, detak nadinya lebih tenang, lebih nyaman. Orang lain juga bisa menenangkan, tapi maknanya tidak sama,” ujarnya.
Karena itu, ia menekankan bahwa pengasuhan bayi adalah kerja bersama ayah dan ibu. Respons medis dan emosional anak terbukti berbeda ketika diasuh langsung oleh orang tuanya.
Manfaat sentuhan tak berhenti di situ. Sentuhan juga berpengaruh pada kualitas tidur dan pengelolaan stres anak. Bayi yang rewel atau menangis di malam hari, kata dr. Damar, sebaiknya segera ditenangkan—salah satunya dengan digendong.
“Jangan takut sering menggendong bayi. Kita ini makhluk yang menyusui dan menyentuh. Banyak sekali manfaatnya,” katanya.
Menggendong membantu bayi tidur lebih nyenyak. Anggapan bahwa bayi akan ‘bau tangan’ atau menjadi manja jika sering digendong, menurutnya, tidak tepat.
Sebaliknya, membiarkan bayi menangis terlalu lama justru berisiko meningkatkan hormon stres. Jika terjadi berulang, kondisi ini dapat memengaruhi pusat emosi dan perkembangan otak anak di kemudian hari.
“Kalau hormon stres terlalu tinggi, pusat emosinya jadi overreacting. Dampaknya bisa menjalar ke bagian otak yang lain,” pungkas dr. Damar.
Pesannya jelas: sentuhan lembut bukan sekadar ekspresi cinta. Di masa krusial 1.000 hari pertama kehidupan, sentuhan adalah kebutuhan dasar yang menentukan tumbuh kembang anak. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO